"Dia memang memberiku luka, tapi untuk bersamanya, aku bahagia."
Ini adalah cerita sepasang kekasih yang bahagia pada masanya. Hubungan yang sudah terjalin lama mereka nikmati dengan bahagia.
Tapi, tidak ada cinta yang tidak mengenal luka bukan?
05m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada akhirnya sesuatu yang selalu kusemogakan terpaksa kuikhlaskan.
—🌛🌛🌛—
Aku berlari bertepatan dengan gerimis mulai turun. Air mata itu terus-terusan keluar. Sesampainya dirumah aku terdiam sejenak menatap kedepan.
Beberapa momen didepan rumahku bersama Deri terbayang dalam fikiranku. Buru-buru kuusap air mataku lalu masuk kerumah. Kufikir semuanya sudah tidur, tapi ternyata tidak.
Suara kedua orang tuaku terdengar dari arah dapur. Mereka beradu argumen.
Aku langsung masuk ke kamar, mengunci pintunya, lalu duduk dibalik pintu melepaskan ikatan rambutku, lalu melemparkannya dengan emosi.
Kamarku gelap sekali, dan aku tidak ingin menyalakan lampunya. Aku memeluk lututku sambil menangis, orang tuaku masih saja bertengkar. Aku mendengarnya.
Kujambak rambutku sendiri, hatiku rasanya sakit sekali.
Tak lama, ruang gelap itu akhirnya mempunyai cahaya dari ponselku, spontan aku menatap ponsel yang kutaruh disampingku. Tertera nama Adel disana. Aku tidak ingin mengangkatnya.
Sebelum bertemu Deri tadi aku bilang memiliki firasat buruk pada Adel. Kata Adel, kalau Deri meninggalkanku, dia dan Audrey tidak akan meninggalkanku.
Kulihat 9 panggilan tak terjawab darinya.
Aku tidak ingin siapapun sekarang. Aku hanya ingin menangis. Orang tuaku masih bertengkar, aku mendengarnya dengan jelas. Menyangkut sekolahku, dan masalah keuangan.
Setelah menangis aku tertidur. Berharap malam buruk ini berakhir.
—🌛🌛🌛—
Pagi itu Audrey menelfonku. Dia dan Adel mungkin mencemaskanku malam tadi. Mataku mungkin bengkak karena menangis semalam.
Audrey menelfonku, tapi dia tidak bicara. Mungkin membiarkanku untuk berbicara lebih dahulu.
"Hari gua buruk banget ya." Ucapku mengawali.
Audrey masih diam, "Gua putus Rey, pas pulang Abah sama mama berantem." Lanjutku.
"Mama gua ngomong sambil nangis. Gua gatau harus apa." Ucapku lagi.
"Tunggu agak reda ju,"
"Kenapa bulan kelahiran gua jadi bulan paling menyedihkan ya."
Pagi itu aku menatap ke kaca. Seperti tiga tahun yang lalu, saat aku tidak masuk ke sekolah yang kumau. Aku juga melakukan ini. Berdiri didepan kaca, meliat diriku, lalu merasa kasihan pada diriku sendiri.
Apalagi dibulan lahirku. Bukannya kebahagiaan yang aku dapatkan, ini malah sebaliknya. Sesuatu yang tidak pernah aku inginkan.