2

285 41 9
                                    

Film telah dimulai. Film berjudul Pocong Rumah Angker itu ternyata sama sekali tidak membuat Fana takut. Padahal Vicky benar-benar menantikan saat dimana Fana akan memeluknya. Fana menganggap film itu lebih cocok menjadi film komedi dari pada film horor. Anton yang sedari tadi berusaha mencuri perhatian Sherly, akhirnya berhasil! Sherly tampak takut ketika melihat pocong yang muncul di layar secara close up dan memeluk lengan Anton secara spontan. Cindy merasa iri melihat kemesraan Sherly dengan Anton. Sedangkan ponselnya terus bergetar karena pacar Cindy terus menelponnya.

Perjalanan mereka berlima hari ini pun berakhir sampai disini. Anton menyempatkan diri untuk bertukar id LINE dengan Sherly, begitu juga dengan Vicky yang juga menyempatkan diri untuk bertukar id dengan Fana sebelum mereka benar-benar berpisah. Cindy tak sempat ikut bertukar nomor atau id dengan mereka berdua karena Rio, pacarnya masih terus curiga dengan Cindy yang sedari tadi mengabaikan pesan darinya. Ia buru-buru mengangkat telepon Rio begitu keluar dari bioskop, berusaha menjauh dari keramaian.

---

Siang ini panas terik matahari sungguh menyengat. Cindy, Fana, dan Sherly terpaksa menggagalkan rencana mereka setelah pulang sekolah untuk hang out bersama Vicky dan Anton

"Oh, jadi nggak bisa ya Fan?" tanya Vicky sedikit kecewa lewat telepon. Anton yang ikut mendengar suara Fana dari seberang telepon duduk disebelah Vicky pun juga tampak kecewa.

"Iya Ky. Sorry ya, kita lagi disibukkan sama tugas sekolah nih. Lagian siang ini panas banget, Cindy kan nggak mau dandanannya luntur karena keringat." sindir Fana sambil nyengir ke Cindy, suaranya terdengar begitu lembut di telinga Vicky, membuat hatinya yang kecewa merasa sedikit lebih baik. Cindy langsung saja memukul lengan Fana begitu mendengar perkataan itu, disusul dengan tawa Sherly dibelakangnya.

"Oh, ya udah sana pulang. Ati-ati ya?"

"Iya"

"Muah" kata Vicky sepelan mungkin. Ia buru-buru menutup teleponnya dan berharap Fana tidak menyadari bahwa itu adalah suara kecupan darinya. Fana yang menyadari kata terakhir Vicky itu memasukan ponselnya ke dalam saku dengan sedikit gugup.

"Gila! Tadi Vicky cium aku lewat telepon!" ujar Fana histeris pada kedua temannya itu.

"Wah bagus dong. Bentar lagi aku bakal denger Fana jadian sama Vicky." jawab Sherly berangan-angan.

"Enak banget jadi kamu!" Cindy mencebik, tetapi Fana menanggapinya dengan candaan. Ia menjulurkan lidahnya kearah Cindy dan langsung pulang setelah sebelumnya berpamitan pada kedua temannya. Ia melambaikan tangannya dengan riang pada Cindy dan Sherly yang tentunya dibalas oleh cibiran dari Cindy. Fana hanya menggeleng melihat tingkah lucu temannya saat sedang merajuk kemudian berbalik melanjutkan langkahnya keluar gerbang sekolah.

Setibanya di rumah, Fana merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk. Panas terik matahari siang ini memang bukan main, sukses membuat Fana berkeringat lelah dan mulai mengantuk. Matanya terpejam siap untuk tidur tanpa berencana mengganti pakaian seragamnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menyadari ada aroma busuk yang menguasai seisi kamarnya. Seumur-umur selama Fana tinggal di rumah ini, tidak pernah ia mencium aroma busuk seperti itu di kamarnya. Saat itu juga sebenarnya Fana ingin mengumpat dan memarahi pembantunya yang ia kira lupa membersihkan kamarnya.

"Ih, bau apaan nih! Busuk banget!" ucapnya pada diri sendiri. Aroma seperti sampah, lumpur, dan bangkai hewan itu bercampur ke dalam satu ruangan kamar Fana. Ia menutup hidung dengan kedua jarinya sambil menelisik tiap sudut kamar mencari asal bau itu.

Pandangannya terkunci pada bercak lumpur hitam dan jejak sepatu yang ukurannya cukup besar berceceran di lantai, pelan-pelan ia mengikuti arah jejak itu yang kemudian berakhir di balik pintu kamar Fana yang terbuka dengan beberapa pakaian yang tergantung dibelakang pintu. Seketika itu jantungnya berpacu dengan cepat, pikiran-pikiran aneh sudah menguasai otaknya saat ini. Potongan memori adegan film thriller tentang mayat yang disembunyikan di dalam dinding rumah sudah cukup membuatnya merinding. Memori selanjutnya kemudian berganti, matanya menerawang pada insiden ketika ia melihat pencuri yang menerobos masuk rumahnya dulu ketika Fana masih SD. Dengan tubuh gemetar hebat, ia berusaha menghilangkan pikiran itu dan nekat menutup pintu kamarnya.

Nino is Nana | Jungwoo ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang