CERITA DARI TAHUN 2011, BELUM DIREVISI
"Sorry ya Pak Tua, meskipun profesi kita sama-sama penjahat disini, tapi kali ini aku nggak mau ada penyusup di rumah ini selain aku!" ucapnya pada pria yang sudah tak sadarkan diri itu dengan suara nyaring lay...
Fana yang melihat ekspresi kesal Nino berniat mengabaikannya, ia tetap masuk ke kamar Edo dan menyiapkan pakaian sisa di lemari Kak Edo untuk Nino. Awalnya Nino masih ingin mempertahankan sifat keras kepalanya itu, namun begitu ia menatap Fana yang melotot ke arahnya—ia khawatir jika dibiarkan mata itu lama kelamaan bisa mencuat—dengan berat hati Nino meraih pakaian itu dan memakainya. Pas dan terlihat tampan meski hanya dengan mengenakan kaos stripes turtle neck dipadukan dengan celana jeans hitam.
Nino memang terlihat cocok mengenakan apa saja karena memang paras tampannya yang mendukung. Kemudian sentuhan terakhir untuk cowok itu adalah topi abu-abu dan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Mirip seperti idol yang sedang berjalan di bandara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa wig telah Cindy koreksi dengan teliti, sesekali ia mencobanya langsung di kepala Nino. Nino malu bukan kepayang, ia yakin banyak pasang mata yang menertawakannya sekarang. Bahkan tidak jarang sesekali Nino mendengar celetukan orang asing yang mengiranya dan Cindy adalah sepasang kekasih ala-ala couple goals yang sedang sok imut mencoba aksesoris-aksesoris lucu di toko.
Ah, jangan lupakan Sherly dan Fana yang juga ikut mencoba aksesoris-aksesoris lucu langsung ke rambut Nino. Fyi, topi Nino dibuka secara paksa demi terciptanya kerjasama yang baik.
"Yang ini aja?" saran Sherly sambil mengulurkan wig yang ia pegang. Sebuah rambut palsu panjang berwarna hitam yang tampak halus seperti rambut asli dan baru dengan poni didepannya. Fana kemudian merebut wig itu dan meneliti secara keseluruhan?
"Iya, yang ini kayaknya juga cocok sama kepala Nino, iya kan No?" tanyanya meyakinkan.
"Terserah lah! Pusing juga liat rambut-rambut kusut dimata. Yang penting cepetan pulang!" jawab Nino mulai malas
"Bawel banget sih." sahut Fana mencibir.
Setelah selesai memilih wig, Sherly jadi merasa lapar dan haus. Begitu juga dengan Cindy.
"Makan yuk?" ajak Sherly sambil memegangi perutnya yang kecil. Cindy telah menyetujui ajakan Sherly namun Nino segera mencegahnya.
"Jangan! Nanti kalo ada polisi gimana? Kalian mau ikut ketangkap sama aku?" tanyanya panik.
"Cuma bentar kok!" jawab Cindy.
"Mendingan aku sama Nino pulang duluan aja. Kamu sama Sherly kalo mau makan dulu nggak apa-apa." saran Fana. Ia tampaknya cukup mengerti bahwa Nino sedari tadi sudah sangat gelisah.
"Boleh lah, ati-ati ya Fan. Sampai ketemu besok!" jawab Sherly.
"Ati-ati juga kalo Nino macem-macemin kamu!" kata Cindy sedikit menggoda.
Akhirnya mereka berempat berpisah. Sherly bersama Cindy berjalan memasuki salah satu resto jepang favorit mereka, sedangkan Fana dan Nino berjalan berlawanan arah menuju pintu keluar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.