"Mirai, kau baik-baik saja?" Ciko menatapnya lembut.
Tatapan gadis itu kosong, sepertinya dia tengah melamunkan sesuatu. Sampai air matanya kembali bercucuran. Dengan sigap, Ciko menyeka air mata Mirai di pipinya. Perempuan malang itu balik menatap Ciko dengan penuh kegelisahan. Dia masih nampak sangat ketakutan. Sangking takutnya, Mirai memeluk Ciko yang berdiri disampingnya tersebut.
Awalnya lelaki itu terkejut, namun karena mengerti perasaan Mirai, dia balik memeluknya dengan penuh kasih sayang. Membuat orang-orang di sekelilingnya merasa iri dan memelas. Berniat untuk tak menganggu peristiwa ini, mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana. Saling berpelukan. Saling menguatkan.
Setelah beberapa saat, Mirai melepaskan pelukan itu dengan pelan. Dia tersenyum pada Ciko. Senyumnya sangat hangat, tak pernah Ciko melihat Mirai tersenyum seperti ini. Ciko membalas senyumnya.
"Kau istirahat saja disini. Aku akan selalu menjagamu. Tidurlah, kau akan merasa tenang." Seperti tak memiliki beban hidup, Ciko tak mempedulikan permasalahan yang harus ia hadapi jika ibunya tahu dengan perbuatan bodohnya.
Sebelum menutup matanya, Mirai tetap terjaga menatap wajah lelaki pujaannya tersebut. Hingga akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
Setelah itu, Ciko perlahan berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Ketika ia keluar, seluruh orang didepan pintu UGD menanyainya dengan banyak pertanyaan yang seharusnya tak diberikan kepadanya. Mereka tak bisa merasa iba sedikitpun.
Melihat sahabatnya terpuruk, Arata mendekati Ciko dan mengelus punggungnya lembut. Ciko menatapnya sekejap, sembari tersenyum tipis padanya.
"Kalian, tolong diam saja disini. Dia butuh ketenangan! Jangan sumpali dia dengan pertanyaan-pertanyaan kalian! Kalau bisa, pulang saja sana!" Arata mengangkat tangan kanannya.
Teman-teman yang tadinya penasaran dengan keadaan Ciko, terdiam dan menunduk. Beberapa ada yang terduduk dan sebagian lagi pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan mimik wajah menyebalkan.
Arata menuntun sahabatnya tersebut ke taman belakang rumah sakit, sekadar mencari ketenangan. Ketika sampai didepan sebuah bangku taman, Arata menyuruh Ciko duduk.
"Bersandarlah padaku, tak apa." Arata kembali menatap sahabatnya itu.
"Tidak, aku tak apa. Terimakasih." Ciko menatap kosong kedepan.
"Sudahlah, kau ini kenapa harus malu padaku. Tenang saja disini sepi. Kau boleh menangis."
"Kau ini, jangan membuatku tertawa. Aku tak mungkin selemah itu, kawan! Kau memang sahabat terbaikku!" Ciko menatap Arata dengan tawa lirihnya.
"Hey?! Aku tak bercanda, sobat! Menangislah! Hahaha! Dasar lemah! Dasar payah!" Dua lelaki tampang itu saling tertawa terbahak-bahak.
"Stop, stop. Apa kau tadi masuk ke ruang UGD?" Kini Ciko menatap serius Arata.
"Tidak, memang kenapa?" Jawabnya dengan sangat polos.
"Kau tahu, beberapa orang disana sempat berteriak-teriak ketakutan ketika Mirai menangis."
"Memangnya ada apa dengan gadis aneh itu?"
"Hey... Gampang sekali kau menamainya gadis aneh." Tatapan serius Ciko berubah menjadi tatapan sinis.
"Hehe, tapikan dia memang aneh. Orang-orang juga mengatakan hal yang sama. Sudah-sudah lanjutkan ceritamu."
"Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi setelah Mirai berhenti menangis, orang-orang aneh itu justru menyalahkan Mirai. Dan dia mengatakan bahwa Mirai akan membawa sial. Setelah itu, salah satu diantara mereka pergi meninggalkan ruangan dengan mendobrak pintu dan yang lain mengikutinya." Jelas Ciko panjang lebar hingga Arata hanya bisa melongo mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ohayou Mirai |[Sedang Direvisi!]
HorrorKisah kehidupan siswi SMA yang telah membunuh anggota keluarganya. Dia tak tahu harus berbuat apa setelahnya. Kegelisahan, ketakutan, dan kegelapan menyelimuti dirinya. Kehidupan gadis tersebut berubah setelah seseorang menemuinya. Namun, rasa men...
![Ohayou Mirai |[Sedang Direvisi!]](https://img.wattpad.com/cover/169029071-64-k789017.jpg)