44.

7.6K 368 2
                                        

Kali ini Vanya membantu Lutry tidak bersama Andra, Mevan tidak memperbolehkannya terlalu dekat dengan Andra, lagi dan lagi Mevan kembali egois. Padahal ia dan Andra hanya sebatas teman saja tidak lebih.

Sudah ratusan kali Vanya memberitahu Mevan jika ia dan Andra itu hanya teman, tapi nyatanya Mevan tetap lah Mevan.

"Makin kesini makin menjadi Lut, pusing gua," ucap Vanya setelah menaruh gelas berisi jus di atas meja.

Lutry yang tengah sibuk mencatat menoleh pada Vanya yang duduk tak jauh darinya.

"Kak Mevan cuman takut kehilangan lo doang Kak, makanya dia kaya gitu," kata Lutry yang kembali fokus pada tugasnya.

"Takut kehilangan sama terlalu over itu beda Lut, apalagi di tambah egois," balas Vanya sambil menghela nafas gusar.

Lutry diam, ia tak bisa membalas ucapan Kakak kelasnya itu, karna ia sendiri tidak tau pasti masalah Vanya.

"Dalam hubungan itu emang perlu egois buat kebaikan hubungan itu sendiri, tapi kalo yang boleh egosi itu cuman sepihak, itu buat kebaikan hubungan atau buat ego sendiri?" tanya Vanya dan kembali membuat Lutry diam. Namun tak lama ia menutup buku catatanya, kemudian menatap Vanya yang sepertinya tengah membutuhkan teman curhat.

Lutry berpindah duduk menjadi di samping Vanya, menaruh bantal sofa di atas pahanya yang tengah duduk menyila, kemudian menatap Vanya untuk menunggu Vanya kembali mencurahkan semua yang di rasakan Kakak kelasnya itu.

"Lo tau egosinya Mevan kaya apa?" tanya Vanya sambil menatap Lutru dengan raut wajah lelahnya.

Lutry menggeleng tanda tidak tahu, ia memang tudak tahu.

"Dia larang gua deket sama Andra dengan alasan kalo dia takut gua di rebut sama Andra, sedangkan disini gua sama Andra itu temen, kalo emang Andra mau rebut gua kenapa gak dari dulu aja kan? kalo Andra mau balikan sama gua lagi bisa dari dulu kan?" Vanya mengatur nafasnya, menenagkan dirinya yang mulai terpancing emosi. Dirinya benar-benar tengah merasa kesal, saat ini waktunya ia untuk mengeluarkan semua unek-uneknya yang ada di hatinya pada Lutry, baginya sesama perempuan pasti bisa saling mengerti dan memberi saran.

"Tapi... disini gua gak boleh egosi Lut, Mevan seolah-olah ngelarang gua buat egois. Gua juga berhak egosi kan Lut dengan alasan gua takut kehilangan dia yang notabanenya Renata balik deket ke dia. Mevan bilang ke gua kalo Renata itu cuman temen dia, tapi dia lupa Lut kalo dulu Renata suka sama dia! Dan gua sadar kalo sampai sekarang Renata masih suka sama Mevan! Gua cuman takut dia di rebut kaya dia takut gua di rebut, tapi kenapa disini gua gak ada hak buat egosi?" Vanya menyandarkan tubuhnya di kepala sofa, menenangkan emosinya yang sudah membuat dadanya naik turun, menenangkan hatinya yang sesak dengan mata yang mulai memanas.

"Apa gua gak ada hak buat egois? Apa gua gak ada hak buat cemburu? Lalu di hubungan ini apa yang berhak buat gua?" Vanya yang semula memejamkan matanya kini membuka matanya dengan cepat, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Mevan berada di hadapannya, menatapnya dengan diam, menatapnya dengan raut wajah menyesal dengan sorot mata sedih.

"Maafin gua, gua sadar apa yang gua lakuin ini salah, gua terlalu egosi sampai-sampai gak ngizinin lo buat ikut egosi, gua terlalu mikirin ketakutan gua sendiri tanpa mikirin ketakutan lo, maaf,"  lirih Mevan dengan suara pelan, kepalanya menunduk dengan perasaan menyesal.

"Sebenarnya apa yang lo mau Van? Saat gua bersikap bodo amat lo nyuruh gua buat bersikap egois kan? dan sekarang saat gua bersikap egois kenapa lo malah bilang apa yang gua lakuin ini salah? Kali ini lo mau gua bersikap kaya gimana Van? Hubungan yang kita jalanin belum berjalan lama, tolong kasih tau gua apa yang emang harus gua lakuin biar gua tau dari sekarang gua harus apa," ucap Vanya, nadanya terdengar sangat jelas jika Vanya lelah, seakan-akan Vanya ingin memilih menyerah.

"Jangan menyerah," pinta Mevan, kini menatap Vanya dengan tatapan memohon.

"Gua gak bilang kalo gua mau nyerah, gua cuman bilang apa yang harus gua lakuin?"

"Lakukan apa yang emang mau lo lakuin, lakukan yang menurut lo bener dan berhak, lakukan apa yang memang harus di lakukan, karna kehilangan lo bener-bener gua gak pernah mau!"

Vanya menatap Mevan, menatap Mevan yang tengah menantapnya dengan tatapan penuh kecemasan dan penyesalan.

"Jangan pernah ninggalin gua yah, jangan."

Kini Mevan di hadapan Vanya tidak seperti Mevan seperti biasanya yang Vanya lihat, kini Mevan terlihat seperti Mevan yang seperti akan di tingal sendiri tanpa ada orang yang menemaninya.

"Nya..." lirih Mevan sambil menggengam erat tangan Vanya, tatapan khawatirnya tak lepas menatap Vanya.

"Gak akan," ucap Vanya sambil memeluk Mevan layaknya seorang ibu pada anaknya.

Mevan membalas pelukan Vanya dengan erat, seolah-olah Vanya akan menghilang jika ia melepaskan pelukannya.

Masalaah tidak selalu harus di selesaikan dengan emosi atau kekerasan, apalagi dengan meninggikan suara dan berucap kasar, tapu juga perlu di selesaikan dengan merendahkan diri dan mengaku salah meski kadang tidak selalu kamu yang salah. karna demi sebuah hubungan, satu atau ke dua orang di dalamnya perlu mengalah demi ketakutan yang tidak boleh terjadi, ketakutan terbesar yang mungkin akan membuat mereka menyesal jika mereka salah menyelesaikannya.

***

"Gimana bantuin Lutrynya,?" tanya Mevan dengan tangan tak lepas menggengam Vanya.

"Tiga atau empat kali bantuin dia lagi," jawab Vanya dengan sebelah tangan menyendokan es krim ke mulutnya.

Setelah kejadian satu jam yang lalu kini Vanya dan Mevan kembali seperti biasa lagi, Mevan berulang kali meminta maaf dan berakhir membeli beberapa es krim untuk Vanya, duduk di teras rumah Vanya dengan menghabiskan es krim yang tadi di beli.

Menatap lagit malam berdua dengan hubungan yang kembali membaik. Dua orang dalam satu hubungan memang perlu egosi untuk kebaikan hubungan mereka, tapi jika tengah berada di masalah dua orang tersebut tidak beloh egois, melainkan mereka perlu mengalah dan merendah agar tidak membuat hubungan tersebut hancur.

"Mulai besok gua bakal jaga jarak sama Renata, demi lo," kata Mevan sambil menatap Vanya.

Vanya hanya mengangguk menyetujui ucapan Mevan, Vanya bukan tidak percaya pada Mevan. Vanya justru senang jika Mevan melakukan itu, tapi Vanya tidak mau terlalu berharap dengan apa yang belum terjadi, siapa tau nantinya apa yang di ucapkan oleh Mevan tidak sama dengan kenyataannya.

Vanya hanya perlu menikmati momen-momen dirinya bersmaa Mevan tanpa memikirkan itu, masalah Mevan yang memang benar akan menjauh dari Renata itu tidak terlalu di pedulikan oleh Vanya, karna jika Mevan memang berniat menjauh dari Renata demi dirinya itu mengala tidak dari dulu saja bukan?.

"Es krimnya abis Van," ucap Vanya sambil menyodorkan kotak es krim yang telah habis.

Mevan terkekeh pelan, mengambil kembli kotak es krim yang lain kemudian memberikannya pada Vanya.

"Kalo mau bantuin Lutry kabarin gua yah, gua mau ikut, gua gak larang lo buat ngebantuin Lutry samaa Andra asalkan gua ikut yah," ujar Mevan yang kembali di angguki oleh Vanya.

Vanya terlalu asik dengan es krimnya dan Mevan terlalu merasa bahagia hingga tidak sadar jika udara malam tengah sangat dingin.

***

Tbc💜

Jangan luoa vote dan komennya:)
See you next time
Tiaraatika4.

𝐕𝐚𝐧𝐕𝐚𝐧.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang