"ATHA SAYANGKU GIMANA KAMU BAIK-BAIK AJA KAN?!"
Baru juga nginjekin kaki di depan pintu kelas, teriakan cempreng Aira udah menyapa gendang telinga gue. Gue kaget, membelalakan mata kala Mars dan Rea langsung nubruk gue, kita bertiga jatuh.
"WHAT THE FUCK, MAN?!"
Sori ya, kebanyakan nonton youtuber sana jadi ketularan. Jadi ada Jaksel-Jaksel nya gitu deh diri ini. Entah kenapa, gue ini lagi gak dalam mood yang baik karena semalem gue mendengar keributan antara nyokap sama bokap. Yah, seharusnya gue udah biasa mendengar itu. Ibarat kata seperti lagu Indonesia Raya yang selalu dinyanyikan saat upacara, harusnya sudah menjadi kebiasaan dan terbiasa.
Gue melihat cengiran super nyebelin dari Mars dan Rea-juga Aira yang lagi ngetawain kita bertiga. Gue duduk, selonjoran kaki sembari memberishkan punggung.
"Kangen!" Kata dua anak idiot itu bersamaan.
"Apaan sih? Gak waras mah ntaran aja ini pagi-pagi udah kumat," gue bangun, memberi tatapan tajam.
"Kena-ITU OBAT AP-" gue reflek membungkam mulut Aira yang perhatian langsung tertuju pada obat di dekat kaki gue. Gue segera mengambil itu dan tersenyum lebar.
"Ups, gak usah berisik ya, ini permen mentos yang kadarluarsa belom gue buang, dah," gue nyelonong masuk.
"Atha kenapa sih? Dicariin Kak Rafa loh," oke, seorang Edrea Nada emang bisa semenyebalkan itu. Gue cuma diam memandang dia lekat lalu Mars memperburuk suasana dengan memanggil Rafa yang kebetulan aja lewat. Rafa nengok, he smiled before he leave and those dumbness calling his name again.
I dunno why but,
That smile, make me fall again and again. And I love it. Why could it be?
Rafa nyamperin ke tempat gue sama Aira bersama Mars dan juga Rea. Kenapa sih cobaan tuh ada aja?
"Kamus ya, Tha?"
Oh iya, kamus gue belum dibalikin dan thanks God itu bisa jadi alasan kenapa dua kampret itu manggil dia. Gue ngangguk, mencoba senyum ramah bersikap seolah gue gak apa-apa. Padahal, udah gak mood tapi hati dor-doran.
"Sori Tha, kamus lo kemarin ilang,"
Gue melotot tapi mencoba kalem.
"Kok bisa?"
Merasa gak diperluin, Mars, Aira sama Rea menyingkir. Tapi tetep ada di sebelah gue karena tepat duduk kita emang deketan. Jadi dari di belakang Ari sama Arvin itu ada Echa sama Aleta. Belakangnya Key sama Rina. Nah dibelakang tepat duduk gue itu Aira sama Mars. Gitu.
"Ketinggalan, pas gue balik lagi ke sekolah udah gak ada,"
"Gak heran sih, emang banyak maling gak bisa liat barang nganggur sebentar,"
And again, he smiled, then laugh.
"Gantinya nanti pulang sekolah gue beliin, sekalian gue mau nyari buku,"
Ada yang bisa ngasih tau apa itu o2 ALIAS OKSIGEN?! GUE BUTUH ITU SEKARANG JUGA, ANJIR.
"Boleh deh, Ela gimana?"
"Udah bilang, santai aja Tha,"
"Dia gak ngapa tuh?"
"Santai sih, Ela mah gak galak kayak yang dipikirin adek kelas,"
Kita berdua ketawa. Terus jadi keasikan gitu dan gue gak sadar kalo daritadi Arvin merhatiin gue dengan tatapan yang sulit dibaca. Loh, sejak kapan itu empat dedemit dateng? Gak liat gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eglantine
Roman pour Adolescents[ Completed ] Jaga-Karsa Raya series: One. "Aku terluka untuk sembuh." Namanya Zethaya Alora Gardenia. Bagi Atha, menutupi bagaimana dia sebenarnya adalah pertahanan. Memakai topeng setiap harinya untuk menutupi segala luka, kesedihan dan rasa sepi...
