12.0 : Bola Basket💊

137 24 2
                                        

❝ I looked at him as a friend until I realized I loved him. ❞

•••


"Jangan coba buat pergi lagi,"

"Rafa,"

"Hng?"

"Kita bisa jadi teman aja 'kan?"

Rafa justru tidak menjawab, dia menampakan senyumnya. Bagi Atha, senyum Rafa kali ini tidak terasa seperti biasanya. Ada sesuatu yang pemuda itu sembunyikan.

"Hm, deluan aja ke ruang osisnya, gue mau ke kelas sebentar," Rafa sudah bersiap mau lari ketika suara Atha terdengar lagi.

"Eh? Ngapain?"

"Mau minta maaf sama Iki, kayaknya gue banyak dosa sama dia!"

Atha menatap kepergian Rafa, ia berlari kecil menuju tangga untuk naik ke atas.

Alisnya tertaut bingung.

"Apaan sih???" Gak pake pikir panjang lagi, Atha terus jalan lalu akhirnya masuk ke ruang osis.

Di lain sisi, tepatnya di kelas IPS-2 yang gurunya lagi rapat karena pembina osis. Iki sedang duduk di pojokan, charge HP sembari mainan game mobile. Beneran kelas dua belas bukannya belajar malah jam kosong terus, mau seneng tapi takut gak lulus!

Rafa ngos-ngosan, mencoba mengatur nafasnya. Sibuk nyari Iki, mampir sebentar ke tempatnya Dejun, orang yang dimampirin cuma nunjuk ke pojokan. Ngeliatin Iki bingung soalnya jarang banget mukanya serius, akhirnya Rafa nendang kaki Iki pelan.

Yang di tendang memaki kasar.

"Anjing, apaan si????"

"Ki, keknya gua banyak salah dah ama lu," Katanya lalu meringis. Memegang tengkuknya kaku.

Iki ngangguk setuju, "Itu tau anjir," Biarpun menjawab, Iki masih fokus ke ponselnya.

"Ki," Rafa memanggil lagi.

"Apaan jamet?"

"Kagak dah, gua cuma pengen minta maaf," Ujar Rafa padahal mulut udah gatel banget dah pengen teriak maki-maki diri sendiri.

Iki jadi penasaran. Dia bela-belain udahan mainan gamenya berakhir diserang sama Dejun karena dia jadi perang sendirian. Malesnya gitu kalau main sama Iki, suka udahan seenaknya! Dejun mencibir tapi kembali serius lagi.

 Persetanan sama game mobile, Iki kepo banget sama Rafa.

Iki berdiri, mensejajarkan posisinya dengan Rafa.

"Naon anying jangan bikin penasaran lah jamet," Kata Iki nepak tengkuknya Rafa, terus mereka jadi duduk do bangku kosong,

"Ki, kalo gue balik lagi sama Ela, tonjok aja lah," 

Iki semangat. "LAH SETUJU MET!" Pemuda itu menepuk tangannya girang, lalu kembali membiasakan diri. "Mang ngapa?"

"Gitu lah anjir, gimana ye? Lu tanya dah tuh ama temen lu," Sebenernya Rafa malas sekali, cuma yaaaaaaaaa begitulah.

Eglantine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang