Jungkook memberhentikan mobilnya dan parkir di seberang Starlucks, Lalu turunlah mereka dari mobil miliknya dan berjalan ke arah Starlucks.
Rose berlari tanpa aba - aba menuju kekasihnya yang berada disana menunggu kehadiran Rose. Dan kini tertinggallah Jungkook dan Lisa yang berjalan berbarengan ke arah Starlucks.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Jungkook kepada Lisa,
"Tidak usah, ada te..." Kalimat itu tidak sepenuhnya keluar dari mulut Lisa, tidak ada wajah yang ia kenal selain Rose dan Jimin, kemana Jisoo dan Jennie? Dua sejoli itu terkadang memang ada dan tiada mendadak.
Jungkook menuju meja yang sama seraya mengangkat sebelah alisnya menatap Lisa yang nampak bingung, "kemana temanmu?"
Lisa menggeleng kecil.
"Kalau begitu kau bersamaku, aku beli dulu." jungkook menyimpan handphonenya diatas meja yang diduduki Lisa seolah jaminan kepada gadis ith bahwa ia takkan pergi. Lisa hanya diam merasa salah tingkah.
Ia mengeluarkan handphonenya, memasuki aplikasi chat dan mengetik pesan pada grupnya.
Lisa : Rose meninggalkanku ketika ia bersama Jimin, seolah lupa denganku. Awas ya.
Jennie : kau dimana sih?
Lisa : Starlucks. Tidak ada kalian disana.
Jennie : diluar sangat panas kau tahu?
Jisoo : iya aku jadi ingin pulang tadi, maafkan aku.
Lisa : sudahlah, tak apa.
Rose : tak apa karena ada Jungkook by your side~
Lisa : apa kau yang merencanakan ini?
Rose : jangan katakan itu rencanaku, itu sudah jelas takdirmu.
Jisoo : SERIOUSLY LISA?!
Jisoo : Gila. Sekalinya dapat cowok kaya Jungkook.
Jennie : awww Jungkook itu senior kita loh!
Lisa : stop it. Rose terlalu berlebihan.
Rose : no it's not baby.
"Kau suka ini?" Suara Jungkook terdengar, berarti ia sudah sampai kembali di meja Lisa. Atmosfer yang menunjukkan rasa canggung ini seolah menggantung begitu saja.
Mata Jungkook menatap matanya secara langsung, Lisa mengangguk kecil menerima apa saja yang diberikan oleh pria itu.
Lisa menerima minuman yang diberikkan oleh Jungkook lalu mencicipinya sedikit, untuk memastikan bahwa rasanya enak.
Dan benar saja, rasanya sangat enak sampai gadis itu tersenyum kegirangan menikmati rasa khas pada minumannya.
Jungkook tersenyum kecil, lalu memandang handphonenya sambil sesekali minum.
.
"Setelah ini, kau mau kemana?" Tanya Jungkook tiba - tiba ketika Lisa memainkan handphonenya sebagai pengalihan rasa canggung.
"Entah, pulang mungkin. Kau?"
"Kalau kau sudah mau pulang nanti ku antar."
Gadis itu menautkan kedua alisnya, memiringkan kepalanya sehingga rambut panjangnya jatuh sesuai arah miring. "kenapa diantar? Aku bisa sendiri."
Jungkook yang sedang merogoh sesuatu memandang Lisa seraya terkekeh kecil, "ntahlah, bukannya lebih irit diantar?"
Lisa tertegun, memanyunkan bibirnya sedikit seraya mengangguk paham. Lalu wajahnya tersenyum lebar, "tentu saja. Kau antar!"
Jungkook mengangguk lalu berdiri, "ayo" ujarnya mengajak Lisa pergi.
"Sekarang?"
"Kau tidak mau sekarang?"
"Hah? Tidak begitu.. tapi tiba - tiba sekali."
"Kau masih betah disini? Akan kutunggu."
Gadis itu berdiri, "uhm. Disini sedikit panas, mungkin aku pulang saja." Lalu merapikan pakaiannya dan berjalan mengikuti Jungkook.
Ketika mereka memasuki mobil, udaranya jelas lebih panas. Karena ac yg belum dinyalakan dan suasana tertutup sehingga membuat Lisa mengipas bagian lehernya dengan tangannya yang panjang.
Jungkook refleks menyalakan AC dan mengaturnya ke arah maksimal, Lisa yang menyadarinya merespon dengan cepat seraya memasang wajah lega dan mendesah "haaaah." Karena sejuknya AC.
Jungkook lagi - lagi hanya terkekeh perlahan.
Lalu, disaat mereka dalam perjalanan, Jungkook akhirnya menyerah dan memutuskan untuk bertanya kepada Lisa mengapa ia begitu kaku. "Kau benar - benar tidak ingat aku, ya?"
Lisa berbalik menatap Jungkook, refleks gadis itu berusaha mengingat seseorang yang mungkin ia kenal dari lama dan Lisa tidak menyadarinya.
"Astaga, padahal dulu kita dekat. Jeon Jungkook. Jeon Jeon-guk." Jelas pria itu penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
Lisa terkejut bukan main, baru teringat sosok teman semasa Smp nya yang berbeda kelas, dan cukup akrab di sesama organisasi. Wajahnya memang sekilas berbeda, dulu ia gemuk dan terlihat seperti seseorang yang cupu.
"K-kau.. bagaimana? Astaga.. aku benar - benar lega karena aku bersama orang yang ku kenal." Tawa Lisa pahit,
Jungkook terkekeh, matanya fokus kepada jalanan. Sesekali ia memang memandang Lisa, "aku memang tidak tahu apa yang kau dan Suga lakukan sampai dia marah, tapi aku mengenalmu dari senyum lebar yang menjadi khas mu."
"Aku sudah kuliah cukup lama.. tapi bagaimana mungkin? Aku benar - benar tidak mengenalmu."
"Yah, mungkin karena aku sering bolos, ya?"
"Mana mungkin!"
"Tentu saja mungkin, aku berubah."
"Yah, sampai aku benar - benar tidak yakin kau adalah jeong guk atau bukan."
Seolah mendadak akrab kembali, selama perjalanan mereka hanya berbicara tentang masa lalu dan proses perubahan dari smp sampai sekarang. Memang, terkadang hal tak terduga terjadi begitu saja.
.
"Aneh ya?" Ujar Jungkook.
Lisa memasang wajah penasarannya, menunggu lanjutan dari Jungkook ketika mereka baru saja duduk di sofa kecil yang sangat nyaman.
"Kita benar - benar berubah, tahu? Kau menjadi semenarik ini, dan aku menjadi setampan ini hahaha. Kau tahu? Ketika aku masuk grup alumni, semuanya mendadak baik sekali, berbeda dengan dulu, kan?"
Lisa mengangguk kecil, "yah, siapa yang tidak suka dengan wajah tampan seperti ini?"
"Kau mengakuinya?" Tanya Jungkook di iringi kekehan kecil yang bisa didengar jelas oleh telinga Lisa secara langsung.
Lisa mengingatnya, ketika mereka berada di organisasi yang sama, mereka tidak begitu diperhatikan. Mungkin sejak dulu, penampilan sudah menjadi segalanya, ya?
Lalu seakarang, setelah memiliki penampilan yang mungkin melebihi temannya dulu, apakah akan merubah keadaan?
Beberapa bisa saja mendadak akrab, kenal, baik, dan beberapa memilih untuk mempertahankan ego dan gengsinya dengan mencibir 'operasi plastik' tanpa mengetahui porsesnya. Manusia, makhluk paling berbahaya yang bahkan lebih sering menghancurkan sesama namun menjunjung tinggi kemanusiaan seolah kesucian hanya ada pada mereka.
Bagi Lisa sendiri, ia tak memiliki dendam kepada siapapun. Berbanding terbalik dengan Jungkook yang bahkan dari karakternya saja sudah hampir tidak menggambarkan Jungkook yang dulu, ntahlah, Lisa bahkan tidak tahu darimana asalnya nama Jungkook itu, dulu ia biasa memanggilnya dengan jeong, atau gukki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy For You - Lizkook
Fiksi Penggemar"aku menggilainya." "dia menggilaiku." Jungkook merangkul Lisa yang baru saja melontarkan kata itu dengan nada santai, mengecup kening gadis itu dengan hangat lalu mengelus rambut sebahu Lisa dengan lembut. mereka tersenyum, berharap semuanya tetap...
