❝When love makes a whole life become worse.❞
Gwen Estelle memang sudah gila. Dua tahun lebih ia tinggal bersama Rafael Zachary dalam satu atap yang sama ㅡjuga tidur di ranjang yang sama pula. Dan Gwen, masih tetap bertahan meski logika dalam kepalan...
"Hmm, sebentar lagi aku sampai...Selesainya? Mmm, sebentar−" Gwen berpaling ke arah Benjamin saat menjeda panggilannya. "Ben, jam berapa jadwalku selesai?"
"Entahlah, aku tak tahu pasti. Pasalnya Ms. Laurent akan datang ke lokasi. Mungkin lebih lama dibanding yang kemarin."
Gwen mengangguk sebelum kembali berbicara dengan ponselnya. "Sepertinya lebih lama dari yang kemarin. Kau akan menjemputku?...Sungguh? Baiklah...Hmm, bye."
"Telepon dari Rafe?" sela Benjamin saat Gwen tengah menyimpan ponselnya ke dalam tas. Menyempatkan diri menoleh sekilas hingga mendapati sudut-sudut bibir Gwen yang terangkat.
"Hmm. Ia akan menjemputku usai urusan kantornya selesai." Kemudian Gwen kembali menatap lurus ke depan.
Benjamin hanya mengangguk samar. Bohong kalau ia pura-pura tak tahu betapa bahagianya Gwen sekarang. Terlebih setelah tadi bercerita tentang perbincangannya dengan Rafe semalam. Perbincangan sederhana yang mungkin sudah lama dinanti Gwen.
Bahkan, jelas-jelas Benjamin melihat senyum Gwen tak pernah luntur sepanjang ia berbincang dengan Rafe dalam panggilan singkat mereka barusan. Benjamin jadi ikut mengulum senyum.
Mungkin benar Rafe berniat untuk berubah. Mungkin benar juga pada akhirnya Rafe meruntuhkan egonya. Dan mungkin, keputusannya untuk memberitahu apa yang Gwen sembunyikan pada pria itu adalah hal yang tepat. Mungkin karena Gwen, Rafael Zachary merubah prinsipnya.
"Hei, Gwen."
"Mmm?"
"Teruslah bahagia, hmm?"
"...Tentu!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 16 PANGKAL PRAHARA
"The number you are calling, is not active or–" TUTT.
Gwen berhela.
Itu sudah kali keempat ia menelepon Rafe namun tak juga ada sahutan. Bahkan sejak siang tadi, sesekali kepalanya celingukan ke sana-sini mencari keberadaan Rafe. Namun sampai saat ini –dimana jam sudah menunjukkan pukul lima sore– Rafe juga belum memunculkan diri.
Di mana dia?
Gwen yakin penglihatannya masih baik-baik saja meski studio rehearsal hari ini lebih ramai ketimbang biasanya. Ada beberapa orang seperti jurnalis dan beberapa orang hang membawa papan nama. Memangnya ini bandara?
Dipikir Gwen, mereka-mereka itu adalah para penggemar Tiffany Laurent. Sebab di hari biasa, studio tak pernah seramai ini. Well, Gwen tak tahu kalau wanita cantik dengan logat uniknya itu begitu terkenal sampai datang ke lokasi rehearsal-pun, ada begitu banyak orang seperti mereka-mereka.