"Senang sekali bisa bertemu denganmu, Gwen. Kau cantik sekali. Aku sering mendengar tentangmu dari Ben."
"Oh, terima kasih, Alia. Kau juga cantik. Dan kuharap bukan hal buruk yang pria itu ceritakan tentangku."
Tawa lembut Alia Swann menggema disaat tangannya terangkat menutup sebagian wajah –tawa khas wanita anggun dan lembut.
Usai pengucapan janji suci, Rafe membiarkan Gwen menemui kenalannya sementara pria itu sendiri menghampiri kerabat kerjanya. Gwen juga sudah menemui Ayahnya dan Ayah Rafe tepat setelah ikrar tadi. Rafe merangkul pinggang Gwen dengan bangga ketika berhadapan dengan Ayahnya, juga menjabat tangan Tedd ketika Ayah Gwen berterima kasih padanya.
Kini Gwen berbincang dengan Alia disaat Benjamin meninggalkan mereka untuk mencari putra mereka yang tadi bermain dengan teman sebayanya. Alia seperti perempuan anggun kebanyakan. Tak banyak bicara akan tetapi menguarkan keramahannya. Begitu ramah, malah. Sampai Gwen sendiri bertanya-tanya bagaimana jika sehari saja ia berlakon seperti Alua. Oh, kurasa satu jam saja kau takkan bisa, ledek batinnya.
"Gweennnnnn! Gwen, Gwen, oh Tuhan, kau cantik sekali!"
Gwen tak perlu menoleh ketika suara nyaring itu mengudara dan membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ketika mendapati Olivia menghampirinya dan memeluknya erat dari arah belakang, Gwen terkekeh. "Olivia, kau mabuk ya?" ledek Gwen.
Gwen berdecak sebal dan tersenyum begitu saja ketika mendapati kehadiran Alia. Merasa tak ingin mengganggu, Alia membalas senyum itu dan pamit pada Gwen untuk menyusul Benjamin.
"Aku tahu kita baru mengenal beberapa bulan saja, tapi, ya Tuhan! Lihat dirimu, Gwen. Aku tak tahu kenapa aku sebahagia ini melihat kau akhirnya dinikahi pria itu!"
Kekehan Gwen mengudara dan ia tahu betul siapa yang Olivia bicarakan. Well, bagaimanapun Olivia cukup banyak tahu tentang pedihnya waktu itu.
"Terima kasih, Olivia. Aku benar-benar beruntung bertemu orang sebaik dirimu."
Olivia terkikik, membanggakan diri. "Tentu saja! Kalau kau tak bertemu denganku waktu itu atau kalau bukan aku yang menjadi dokter kandunganmu, belum tentu kau berdiri di sini saat ini. Maksudku, takdir bisa saja berubah jika prosesnya berbeda, bukan?"
"Kau benar."
Ditengah-tengah perbincangan hangat Olivia dan Gwen, sosok Adrian muncul di antara keduanya dan mengulas senyum ketika Gwen mendapati kehadirannya.
"Hei, selamat atas pernikahanmu. Juga kesehatan kandunganmu." Begitu cepat Adrian merengkuh Gwen dan mengeratkan pelukannya. Sempat membuat Gwen terkejut untuk sesaat meski setelahnya ia terkekeh pelan. Menepuk pundak Adrian dengan senyuman.
"Terima kasih, Adrian. Terima kasih, sungguh."
Well, setidaknya sedikit-sedikit Adrian juga membantunya kemarin-kemarin, kan? Lagipula bukan hal buruk untuk memberi pelukan pada seorang teman.
Benar, tak buruk bagi Gwen. Tapi tentu saja sangat buruk bagi yang satu ini.
"Permisi, tapi boleh kubawa istriku?" Rafe berdeham cukup kencang sebelum memunculkan diri dan mengatakan kalimatnya. Membuat Gwen melepaskan Adrian dan terkikik geli melihat bagaimana gurat Rafe saat ini. Oh, lucu sekali suaminya ini sedang cemburu!
Bahkan Rafe menarik Gwen dengan merengkuh pinggang wanita itu. Menegaskan kepemilikannya. Melihat hal itu, Olivia mengatup bibirnya menahan tawa. Cinta segitiga yang sesaat dan malang! Pekik batinnya. Padahal yang malang adalah adiknya sendiri.
"Selamat atas pernikahan kalian," kata Adrian kemudian. Mengulurkan tangan diikuti senyum lebarnya.
Rafe menjabat uluran itu dan ikut tersenyum. "Terima kasih sudah datang. Kalau begitu, silahkan nikmati pestanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIVERGENT
Romance❝When love makes a whole life become worse.❞ Gwen Estelle memang sudah gila. Dua tahun lebih ia tinggal bersama Rafael Zachary dalam satu atap yang sama ㅡjuga tidur di ranjang yang sama pula. Dan Gwen, masih tetap bertahan meski logika dalam kepalan...
