❝When love makes a whole life become worse.❞
Gwen Estelle memang sudah gila. Dua tahun lebih ia tinggal bersama Rafael Zachary dalam satu atap yang sama ㅡjuga tidur di ranjang yang sama pula. Dan Gwen, masih tetap bertahan meski logika dalam kepalan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 19 DETAK YANG BUTUH
"Rafe−"
"Ada apa?"
"Kau dimana? Jackson−"
"Aku sudah tahu. Aku sedang menuju ke sana."
"Rafe, tunggu dulu!" cepat-cepat Benjamin menyela Rafe –karena firasatnya, Rafe sedang mengebut dan ingin memutuskan panggilan itu segera. Tapi Rafe tak bisa dibiarkan seorang diri ke sana. Siapapun tahu kalau menembus pengamanan pelabuhan Genova tidaklah mudah.
Terlebih, baru saja Jackson memberi tahu detail orang yang menculik Gwen. Dua pria bernama Jack dan Mike itu adalah pembunuh bayaran tergila sekaligus monster seks terkejam. Benjamin sendiri bingung kenapa Scarlett Avery begitu nekat menyewa pembunuh bayaran untuk menculik Gwen.
Ah, Benjamin sudah lebih dahulu terkejut saat tahu kalau Scarlett dalang dari penculikan Gwen. Karena Adrian juga sudah menceritakan perbincangan singkatnya dengan Scarlett beberapa hari silam. Tepat di hari yang sama saat mereka mengadakan rehearsal. Scarlett mengajak Adrian bekerja sama untuk memperebutkan apa yang masing-masingnya inginkan. Namun Adrian menolak mentah-mentah karena tahu akan menimbulkan hal buruk seperti sekarang. Terbukti sudah.
"Cepat katakan ada apa?" desak Rafe di seberang panggilan.
Benjamin mencebik. Ia –beserta Adrian dan Olivia juga− sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Genova. "Rafe, kumohon. Jangan bertindak tanpa berpikir. Kau sadar 'kan kalau Gwen menjadi taruhannya? Bukan hanya Gwen, tapi−"
"Aku tahu! Aku tahu! Aku, tahu...Jadi berhentilah mengusik fokusku! Apapun dan siapapun mereka, aku akan membawa Gwen kembali, Ben. Sekalipun aku harus mempertaruhkan nyawaku. Kau tahu itu."
"Rafe! Hei, Raf –damn you, Zachary. Kau bisa mati!" pekik Benjamin pada ponselnya –karena Rafe sudah memutuskan panggilan itu tepat setelah kalimat terakhirnya.
Benjamin frustrasi. Ponsel yang tak bersalah itu menjadi sasaran empuk dashboard depan. Untung saja Adrian yang bersikeras menyetir. Kalau saja tadi Benjamin yang mengambil alih, bisa-bisa emosinya ikut tersulut dan makin tak terkendali.
"Jadi...Rafael Zachary sudah pergi ke sana? Sendirian? Kenapa jadi semakin rumit begini..." racau Olivia di bangku belakang. Raut cemasnya belum meluntur sejak tadi. Bahkan berkali-kali ia juga menggigit bibir dan ujung jari.
"Lalu bagaimana? Apa perlu kuhubungi kenalanku petinggi polisi?" sahut Adrian. Sesekali ia menoleh pada Benjamin.
"Tidak," tukas Benjamin. "Ini bukan lagi hal yang polisi sanggup untuk tangani."