Yoongi dan seokjin yang tengah membawa namjoon, berlari mendekat ke arah ambulance.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?-" ujar salah seorang petugas kesehatan.
"Asma anakku kambuh, anxiety nya juga kambuh-" seorang petugas langsung mengambil alih tubuh namjoon dan segera membawa nya ke dalam ambulans,
"Salah satu ikut dampingi anak ini ke ambulance-" yoongi bergegeas meninggalkan seokjin yang akan mendampingi namjoon dan mengikuti dari kendaraan yang sejak tadi ia bawa.
"Nafasnya terlalu lemah, ambu bag dahulu-"
"Ambu bag-" seokjin melihat tubuh namjoon yang mengejang beberapa kali merespon ambu bag.
Seokjin tak henti menggenggam tangan lemah namjoon.Dalam hati seokjin memohon ampun, jika sesuatu terjadi pada bungsunya ini, ia benar-benar akan hancur. Biar bagaimanapun yang membawa bungsunya dalam keadaan mengancam jiwa ini adalah dirinya. Sudah cukup, ia telah melukai kedua putra nya dalam waktu bersamaan.
Kriet
"Ba..bagaimana anakku dokter? Dia baik-baik saja kan-"
"Lima menit saja anda terlambat membawa putra anda kemari, kesadaran vegetatif akan mengintai putra anda tuan, anda benar-benar diberi keajaiban oleh Tuhan,-"
"anak anda sudah mulai stabil, namun tetap akan kami rujuk ke ruang intensif untuk memantau perkembangannya-" seokjin mengangguk pasrah dihadapan dokter tersebut, sedang yoongi menatap seokjin jengah.
Dalam benak yoongi menyerapahi sang kakak yang dengan bodoh menghukum anaknya hingga seperti ini. Bahkan yoongi tak menyesal telah membuat sudut bibir sang kakak ipar membiru, ini bahkan tidak sebanding dengan kesakitan yang keponakannya alami. Bodoh sekali, hanya karena mematahkan tangan teman saja seokjin dengan tega mengunci anaknya di kamar mandi.
"Yoongi-ya bagaimana putra ku?-" mirae yang baru saja pulang dari jepang terengah saat menapaki ruangan sang anak.
"Satu jam lagi jika keadaannya stabil namjoon akan dipindahkan ke ruang rawat kak-"
"Ada kak seokjin di dalam" ujar yoongi lantas diangguki mirae.
Seokjin terus menggenggam tangan dingin bungsu nya yang sejak 9 jam yang lalu belum sadarkan diri. Sudah berjam-jam seokjin menangis dan menggumamkan kata maaf pada namjoon namun namjoon belum mau membuka mata. Ia menyesal tak mampu mengendalikan dirinya seperti ini, dia malu tidak mampu menjadi ayah yang baik.
"Ayah memang jahat sayang, ayah minta maaf, ayah menyesal, sungguh. Ayah benar-benar sayang padamu nak-" seokjin terus menggenggam tangan sang anak yang belum juga menghangat sejak tadi.
Kriet
Seokjin mengalihkan pandangannya dan menatap sedih mirae yang baru saja datang.
"Maafkan aku,-"
"Jung seokjin, kau letakkan dimana otakmu itu,hah?!-" amuk sang ayah saat ia baru sampai rumah sakit.
"Aku lepas kendali yah,aku..aku sungguh tak berniat menyakiti anak-anakku. Aku minta maaf,-"
"Ckk!! Jangan bilang jika ini karena tender mu yang gagal itu jadi kau meluapkan kemarahanmu pada kedua anakmu? Jawab ayah?!" seokjin hanya mampu tertunduk dan mengangguk pasrah, memang penyebab awal emosi nya adalah tentang pekerjaannya yang tak sesuai harapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regret
Fiksi PenggemarUntuk Hobari dan Namu, tumbuhlah menjadi putra ayah yang selalu memberi kebahagiaan untuk keluarga Jung serta keluarga Min~
