❣️ 5

156K 5.7K 54
                                    

Selamat Membaca!

Ayyara kembali dibuat canggung, karena sekali lagi ia harus duduk di depan bersama daddynya Maura.

"Akh!" teriak Ayyara membuat Arvind spontan menginjak rem mobilnya hingga mobil yang tadinya melaju dengan kecepatan sedang mendadak berhenti.

Arvind menghembuskan napas lega karena dia tidak menabrak pembatas jalan atau pengendara lain. Untungnya juga tidak ada kendaraan yang melaju di belakang mobilnya.

Dengan cepat Arvind menatap Ayyara, bukan karena dia marah namun justru merasa khawatir.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Arvind cemas namun sepertinya Ayyara masih kaget karena peristiwa penginjakan rem yang mendadak dilakukan.

"Ih daddy kok Ayyara yang ditanya, ini kepala Maura kepentok kursi tahu. Sakit banget."keluh Maura sembari memegang kepalanya.

Arvind menatap tajam putrinya membuat Maura langsung diam.

"Lagipula siapa yang suruh kamu tidur di dalam mobil."ucap Arvind tegas membuat Maura mengerucutkan bibirnya kesal.

Arvind kembali menatap Ayyara yang sedari tadi tidak mengatakan sepatah katapun.

"Maaf, om." Ucap Ayyara lirih, ini juga pasti karena kesalahannya tadi. Ayyara benar-benar menyesal telah berteriak dan mengagetkan Daddynya Maura.

"Tidak masalah." Jawab Arvind lembut lalu kembali melajukan mobilnya dengan tenang.

"Ada apa?" Tanya Arvind saat melihat Ayyara yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Em anu Om, motor Aku ketinggalan di kost"ucap Ayyara pelan membuat Arvind tersenyum geli.

"Jadi karena itu kamu berteriak tadi,"ucap Arvind lalu melirik Ayyara."Nanti biar supir yang ambil motornya."

"Tidak om!" Tolak Ayyara cepat lalu menatap Arvind penuh harap.
"Bisa putar balik mobilnya, om. Biar nanti aku ke rumah om naik motor saja." Pinta Ayyara memelas namun tentu saja langsung mendapat penolakan dari Arvind.

"Tidak. Lagipula bukannya tidak baik naik motor sendirian, apalagi ini sudah hampir maghrib" Ucap Arvind beralasan.

"Nggak papa om, nanti Aku kan bisa ngikutin mobil om dari belakang." Ucap Ayyara tak mau menyerah.

Arvind langsung menggeleng lalu berkata dengan tegas."Tidak!"

Ayyara menghela napas lalu diam. Sepertinya ia memang tidak akan mampu berdebat dengan daddynya Maura. Bahkan bukan hanya dengan Daddynya, Ayyara bahkan sering kalah berdebat dengan Maura.

Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang bagi Ayyara, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang sangat mewah. Ayyara tidak kaget lagi dengan kemewahan rumah sahabatnya itu karena ia sudah pernah beberapa kali kesini.

Arvind menghentikkan mobilnya lalu meminta Ayyara dan Maura untuk masuk terlebih dahulu. Sedang dia akan mengurus barang-barang Ayyara yang ada dibagasi mobil.

"Selamat datang di rumah Ayyara." Teriak Maura senang setelah membuka pintu rumah lalu mempersilahkan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam.

"Eh .sudah pulang ya?" Terdengar suara seseorang membuat Ayyara dan Maura spontan menoleh.

"Nenek?" panggil Maura kaget lalu segera berlari memeluk neneknya. Sedang Ayyara hanya bisa tersenyum canggung lalu berjalan mendekat ke arah Maura dan neneknya.

"Sama siapa?" Tanya Ewie ramah seolah baru sadar akan kehadiran Ayyara.

"Oh ini nek, kenalin Ayyara sahabat Maura." Ucap maura memperkenalkan Ayyara pada Ewie.

"Ayyara, nek." Ucap Ayyara sopan lalu menunduk menyalami Ewie.

"Aduh cantiknya. Tapi jangan panggil nenek dong, panggilnya mama." Ucap Ewie membuat Ayyara kaget sedang Maura hanya menepuk jidatnya sambil bergumam dalam hati 'bukan nenek gue'.

"Mama?" Tanya Ayyara bingung.

"Iya mama, sama kaya Arvind." Ucap Ewie masih tak sadar situasi.

"Susstt! udah Ayy lupain aja apa yang dibilang nenek tadi, udah punya belasan cucu masih aja berasa muda." Sindir Maura dengan harapan bahwa neneknya itu akan sadar situasi.

Ewie yang mendengar sindiran dari cucunya hanya bisa melotot lalu tersenyum ramah ke arah Ayyara."Iya lupain saja. Kalian sudah makan?" Tanya Ewie mengalihkan pembicaraan.

"Belum, nek." Jawab Maura cepat.

"Ya sudah kita makan dulu. Maura ajak Ayyara lebih dulu ke ruang makan! biar nenek yang manggil daddy kamu." Ucap Ewie lalu bergegas mencari keberadaan Arvind.

"Kuy lah ke ruang makan." Teriak Maura lalu menarik lengan Ayyara.

"Eh tunggu, Ra" Cegah Ayyara membuat Maura menghentikan langkahnya.

"Kenapa?"

"Di rumah ini ada mushola nggak?" Tanya Ayyara yang memang tidak tau seluk beluk rumah besar ini kecuali kamar maura yang terletak di lantai dua.

"Ada kok, di sebelah sana."ucap maura sambil menunjuk ke arah samping rumahnya.

"Ya sudah. Lo duluan aja ke ruang makan, gue mau ke mushola dulu."Ucap Ayyara lalu melangkah ke arah yang ditunjuk Maura tadi.

Sedang Maura langsung berlari menuju ruang makan karena perutnya sudah sangat lapar.

"Eh calon mantu nenek mana?" Tanya Ewie begitu Maura duduk di sebelahnya.

"Ke mushola, nek"jawab maura lalu segera mengisi piringnya dengan berbagai masakan.

"Terus daddy mana nek?" Tanya maura yang tak melihat daddynya di meja makan.

"Ke mushola" jawab Ewie pelan membuat maura melotot.

"Busyeeett dah. Jodoh banget itu dua orang."celetuk Maura semangat.

"Ya sudah. Kita makan aja duluan, biar daddy kamu sama Ayyara bisa makan berdua."saran Ewie yang juga langsung ikut mengisi piringnya.

-Bersambung-

Suamiku Ayah SahabatkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang