Bunyi berisik terdengar begitu keras dari arah dapur. Aroma makanan yang sedikit gosong pun tercium dari dapur yang cukup luas di rumah Seungyoun. Seseorang yang ada di dapur itu terlihat berkutat dengan berbagai makanan yang sedang ia olah.
" Tuan muda,apa anda butuh bantuan ?" Tanya seorang pembantu paruh baya yang sudah lama membantu keluarga Seungyoun.
" Tidak,Bibi. Aku ingin belajar memasak sendiri. Aku ingin membuatkan makanan special untuk seseorang," jelas Seungyoun.
Pembantu itu hanya tersenyum melihat tingkah Seungyoun saat ini. Pria itu terlihat sangat sibuk, bajunya pun terciprat beberapa bahan makanan yang tengah dimasak olehnya.
"Baiklah Tuan Muda,aku akan mengerjakan pekerjaan lain saja."
Seungyoun mengangguk. Matanya masih focus menatap wajan yang ada di depannya. Tangannya sibuk mengaduk aduk tumisan yang sedang ia masak.
" Aku harus bisa membuat makanan enak untuk Seungwoo Hyung!" tekadnya dalam hati.
Ponsel Seungyoun bordering dengan nyaring di saku celana jeans yang ia kenakan. Seungyoun mengambil ponsel itu dan langsung menyentuh tombol deal setelah ia mengenali nomor ponsel yang menguhubunginya.
" Yeoboseyo," ucap Seungyoun.
" Seungyoun Hyung kau sedang apa ?" Tanya suara di seberang sana.
" Aku sedang memasak. Ada apa kau menelponku ?" Tanya Seungyoun sedikit heran ketika Byungchan menelponnya.
" Tidak, aku hanya ingin memastikan saja Hyung. Seungwoo Hyung bilang kau akan ke rumah sakit dan membawakan makanan untuknya ya hyung ?"
" Iya, aku sudah berjanji pada Seungwoo Hyung untuk membawakannya makanan hari ini," kata Seungyoun.
" Hmm baiklah, kalau begitu aku tak perlu repot menyiapkan makanan untuk Seungwoo Hyung. Hyung berani berangkat ke rumah sakit sendirian kan ? apa aku tidak perlu mengantar hyung ?" Tanya Byungchan.
" Hmmm... sepertinya tidak perlu. Aku sudah tau dimana letak ruang kerja Seungwoo Hyung," kata Seungyoun.
" Baiklah, kalau begitu hati hati ya hyung. Jangan sampai hyung menabrak perawat lagi seperti kemarin," canda Byungchan.
" Aish, kau pikir karena siapa aku bisa menabrak perawat itu!" rutuk Seungyoun.
Terdengar kekehan pelan di ujung sana.
" Maaf. Aku tutup sekarang ya hyung ? Sampai jumpa besok di kampus!" seru Byungchan.
" Iya," jawab Seungyoun dan akhirnya sambungan telepon itu terputus.
Hari ini ( Selasa ) adalah hari liburnya. Jadwal Seungyoun aktif di kampus hanya 4 hari dalam seminggu. Dan Seungyoun memakai waktu luangnya ini untuk belajar memasak.
" Aish! Kenapa gosong lagi ?" keluh Seungyoun ketika tumisannya kembali gosong sebagian.
Walaupun terus menerus gagal, Seungyoun tetap optimis, ia terus mencoba memasak berbagai sayuran dan bahan lain. Sepertinya ia akan terus berkutat di dapur sebelum berhasil membuat masakan yang dianggapnya enak dan layak dimakan seorang Han Seungwoo.
Sedikit gugup, Seungyoun menelusuri lorong rumah sakit untuk segera sampai di ruangan Seungwoo. Seingatnya, jam 2 siang adalah waktu dokter itu beristirahat.
Kotak bekal yang Seungyoun bawa telah terbungkus rapi dengan kain berwarna hitam. Seungyoun menjinjing kotak bekal itu sambil terus berjalan di lorong rumah sakit. Pandangan matanya terkadang menghindari sorot beberapa pasang mata yang melihatnya. Seungyoun tak terlalu suka menjadi pusat perhatian, walaupun orang lain hanya memandangnya sekejap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny (RyeonSeung)
FanfictionCho Seung-yeon seorang pemuda yang memiliki suatu ketakutan berlebihan dalam dirinya atau disebut phobia ~Autophobia ~ tapi bagaimana jika ketakutannya itu membuatnya bertemu dengan seorang yang mencintainya dengan tulus
