Seungyoun menekuk wajahnya sambil memeluk lututnya dengan
erat. la duduk di ruang tamu ditemani oleh Kim Ahjumma. Hatinya kacau. la tak bisa memikirkan apa pun. Hatinya dilanda kebimbangan yang sangat besar. Di satu sisi, ia merasa ingin memaafkan Seungwoo dan menghambur memeluk pria itu. la
masih menyayangi Seungwoo, sekalipun pria itu telah membuatnya
terluka. Namun di lain sisi, ia tak mau dinding kuat yang selama ini ia bangun di hatinya hancur begitu saja.
"Seungyoun ah, tunanganmu itu belum pergi juga dari sini. Dia
terdiam di mobilnya dengan pandangan kosong. Dia sepertinya
benar-benar membutuhkanmu...," kata Kim Ahjumma.
Pembantu paruh baya itu mencoba membujuk Seungyoun. Sebagai seorang yang telah mendengar penuturan dari keduanya ia mengerti betul yang terjadi pada Seungyoun dan Seungwoo hanyalah kesalahpahaman.
"Dalam cinta, terkadang kita menemukan masalah yang
begitu besar. Ketika kita sadar akan kesalahan kita masing-masing, berarti kita sudah berhasil menghancurkan masalah itu sendiri. Tak ada salahnya memberikan maafmu untuk orang
yang menyakitimu. Karena percuma, kalaupun kau mengatakan
membencinya, hatimu berkata menyayanginya, bukan?"
Perkataan Kim Ahjumma semakin membuat hati Seungyoun sesak.
la ingin sekali menyangkal perasaan itu, tetapi mengapa ada banyak
hal yang membuat ia tak mudah untuk menyangkalnya?
"Aku hanya belum bisa memaafkannya. Itu saja, Ahjumma,"
kata Seungyoun pelan.
la beranjak dari ruang tamu. "Aku akan memasak untuk makan malam kita," ucap Seungyoun sembari pergi ke arah dapur, menyiapkan masakan yang akan ia masak malam ini, walaupun keadaan hatinya sama sekali tidak mendukung untuk melakukan hal apa pun.
Kim Ahjumma hanya bisa menggeleng pelan, melihat sikap
keras kepala yang Tuan mudanya itu tampakkan. "Anak muda memang
sangat sulit untuk menerima kesalahan orang lain, bahkan orang
yang mencintainya," keluh Kim Ahjumma.
"Arrggghhhh!"
Kim Ahjumma terhenyak ketika mendengar teriakan dari arah dapur. la segera beranjak ke dapur. Matanya terbelalak ketika telapak tangan Seungyoun terluka cukup dalam.
"Aigoooo.. Seungyoun ah!" teriak Kim Ahjumma. la hampir tak sanggup melihat banyaknya darah yang keluar dari telapak tangan pria itu.
"Ah... sakit...," ringis Seungyoun.
Kim Ahjumma tak bisa berdiam diri begitu saja. la hanya memikirkan satu hal. Seungyoun harus segera ditolong dan butuh bantuan dokter. Tiba-tiba saja ia ingat bahwa pemuda tunangan
Seungyoun adalah dokter di rumah sakit besar.
Dengan terburu-buru Kim Ahjumma berlari menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari depan rumahnya. la mengetuk kaca mobil itu dengan tak sabaran. Kaca mobil itu pun terbuka, menampakkan wajah Seungwoo yang terlihat kusut.
"Ahjumma? Wae geurae?" tanya Seungwoo.
"Tuan, tolong... Tuan muda Seungyoun...," ucap Kim Ahjumma panik.
"Seungyoun kenapa?" Seungwoo bertanya penuh kekhawatiran.
"Tangan Tuan muda terluka."
"Apa?"
Seungwoo segera mengambil tas dokter yang ia bawa untuk berjaga-jaga. Dengan setengah berlari ia masuk ke dalam rumah Kim Ahjumma. la mencari Seungyoun yang ternyata masih ada di dapur
dan menahan lukanya dengan kain sembari meringis.
"Seungyoun ah kau tidak apa-apa?" Donghae sembari melepas kain yang menutupi luka Seungyoun dan melihat tangan Seungyoun yang terluka cukup parah, ada sobekan cukup besar di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny (RyeonSeung)
FanficCho Seung-yeon seorang pemuda yang memiliki suatu ketakutan berlebihan dalam dirinya atau disebut phobia ~Autophobia ~ tapi bagaimana jika ketakutannya itu membuatnya bertemu dengan seorang yang mencintainya dengan tulus
