Byungchan memakai kemeja berwarna biru muda dengan blezer berwarna hitam. la tersenyum,
melangkah ke kampus dengan perasaan senang dan hati yang
puas. Dendamnya pada Seungyoun sudah terbalaskan. Ada kesenangan
sendiri di hatinya ketika mendengar kabar tentang Seungyoun yang
sekarang ada di departemen kesehatan jiwa. Awalnya ia hanya berniat untuk membuat pria itu tampak gila agar kakaknya menjauh, namun ternyata hasil yang ia dapatkan justru melebihi bayangannya.
"Mendekamlah di rumah sakit jiwa dalam waktu yang lama"
gumam pria itu di sela-sela langkahnya.
"Dengan begitu kau tidak akan terlihat menarik lagi di mata Seungwoo Hyung dan dokter Lee,Cho Seungyoun," lanjutnya diselingi senyuman penuh kepuasan.
Brakkk
Tiba-tiba Byungchan terjatuh karena seorang pria culun yang tak Sengaja menyenggolnya. Pria itu terlihat menunduk takut ketika Byungchan menatapnya tajam.
"Apa kau tak punya mata, hah?" Byungchan berteriak, tanpa
menyadari banyaknya mahasiswa yang menatap ke arahnya. la buru-buru bangkit lalu menatap sinis pria culun itu.
"Mianhae, aku tak sengaja...," ujar pria itu sedikit ketakutan. Byungchan mencibir, ditatapnya pria itu dari atas sampai bawah.
"Pakai matamu! Apa kau tak melihatku sedang berjalan di depanmu?" tanya Byungchan lagi, masih dengan nada tinggi.
Pria itu terus menunduk menyembunyikan wajahnya,
sementara Byungchan terus-terusan menyudutkan pria itu.
"Gara-gara kau, sekarang bajuku menjadi kotor! Kau pikir kau bisa menggantinya? Aku yakin kau bahkan tak bisa membeli baju semahal inil" tandas Byungchan belum bisa menerima bajunya
kotor karena pria itu.
"Hei, Han Byungchan!" teriak seorang, sepertinya senior Byungchan.
Byungchan menoleh dengan angkuh. Ditatapnya lelaki itu tanpa takut sedikit pun.
"Tidakkah kau dengar dia meminta
maaf dengan tulus padamu? Kenapa kau terus memarahinya? Aku baru tahu, ternyata kau hanyalah seseorang berperangai buruk!"
tandas senior itu.
Akhirnya banyak sekali mahasiswa yang memandangi Byungchan dengan pandangan menyudutkan. Byungchan merasa wajahnya
memanas karena menahan malu. Kebenciannya pada pria itu semakin memuncak begitu saja. Diam-diam ia mengutuk pria itu dalam hati. Tanpa mengindahan perkataan seniornya itu, Byungchan berlalu begitu saja dan melangkah dengan angkuh di koridor kampus. Terdengar sorakan dari mahasiswa-mahasiswa di sana,
semakin membuat emosinya berkobar.
"Aku akan membalasmu, keparat! Kau telah mempermalukanku! Akan kubuat kau lebih malu dari yang
kurasakan!" rutuk Byungchan kesal.
Hari ini adalah hari kelima Seungyoun berada di departemen kesehatan jiwa. Tak banyak yang bisa Seungyoun lakukan selain terdiam, lalu mendengar perkataan dokter Lee yang sama sekali tak ingin
ia dengar. la terpaksa berdiam diri dan tidak melawan agar tak ada kekerasan yang ia dapatkan lagi. Jujur saja, beberapa hari ke belakang ia selalu mencoba melarikan diri, tetapi beberapa perawat menangkapnya dan menyeretnya untuk kembali
ke ruangan. Jika ia terus melawan, maka suntikan penenanglah yang akan ia dapatkan. Tubuhnya terasa ngilu di sana-sini. Semua hal buruk itu membuat Seungyoun hancur dan lelah. Memang benar jika Seungyoun memiliki fobia, tetapi Seungyoun tak
terima jika Seungwoo menganggap fobia yang ia miliki sebagai penyakit kejiwaan. Karena jujur saja, fobia Seungyoun bisa hilang begitu saja jika Seungwoo ada di sisinya. Bukan rumah sakit jiwa yang Seungyoun butuhkan, tapi perhatian dokter itu, Namun, sekarang semuanya telah terlanjur. Dalam lima hari ini pria itu bahkan tak pernah mengunjunginya, membuat Seungyoun merasa benar-benar diabaikan. Seungyoun mulai menginginkan satu hal. la ingin keluar dari rumah sakit ini, pergi sejauh mungkin dan melupakan semua orang yang pernah membuatnya terluka sedalam ini.
Pintu ruangannya terbuka. Jinhyuk masuk dan duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny (RyeonSeung)
FanfictionCho Seung-yeon seorang pemuda yang memiliki suatu ketakutan berlebihan dalam dirinya atau disebut phobia ~Autophobia ~ tapi bagaimana jika ketakutannya itu membuatnya bertemu dengan seorang yang mencintainya dengan tulus
