Seungyoun menatap teduh seseorang yang sedang memeriksa kondisinya saat ini. Seseorang itu adalah tunangannya sendiri, Han Seungwoo.
Seungwoo yang selalu terlihat tampan dan gagah dalam balutan jas dokter berwarna putih. Seungwoo yang terlihat berkarisma dan tegas dengan stetoskop yang tersampir
di lehernya. Terkadang Seungyoun bertanya-tanya, apa benar ia akan
menikah dengan sosok sesempurna Seungwoo?
Tetapi saat ia mengingat apa yang sudah terjadi di hari kemarin, ia yakin bahwa Seungwoo itu memang calon suaminya, yang akan selalu
menjaganya kelak. Seungwoo memeriksa detak jantung Seungyoun dengan menggunakan stetoskopnya. Pria itu berusaha sekuat mungkin
untuk menahan debaran di jantungnya. la takut Seungwoo akan
mendengar debaran jantungnya yang sangat cepat.
"Tarik napasmu, Seungyoun ah," kata Seungwoo.
Seungyoun mencoba menarik napasnya, debaran jantungnya
sedikit berkurang. la menghela napas lega ketika dokter itu sudah menjauhkan stetoskop dari dadanya.
"Kau akan segera membaik," kata Seungwoo sembari menebar senyum.
Selanjutnya, Seungwoo masih ada di ruang rawat itu, menyiapkan satu syringe obat untuk Seungyoun. Seungyoun menatap itu dengan ngeri. Jujur saja, Seungyoun benci melihat jarum suntik. Kali ini ia merasa jadi seseorang yang bodoh. Bagaimana mungkin ia begitu senang saat dijodohkan dengan seorang dokter, sementara dia begitu takut dengan jarum suntik?
"Ini akan dimasukkan lewat infusmu. Tak perlu khawatir," ucap Seungwoo menenangkan.
Sepertinya pria itu mengerti betul
bagaimana perasaan Seungyoun sekarang.
"Ini akan sedikit sakit, tapi kau harus tahan ya?" kata Seungwoo lagi.
Jarum suntik itu masuk ke dalam selang kecil yang menghubungkan infus dengan pembuluh darah di punggung tangan Seungyoun. Seungyoun sedikit meringis dan memejamkan matanya saat obat itu masuk ke pembuluh darahnya. la merasa sedikit ngilu.
Setelah proses yang cukup menyakitkan itu berakhir, ia pun
mulai mengantuk. Sepertinya obat yang dimasukkan Seungwoo pada tubuh Seungyoun adalah obat yang mengandung obat tidur, agar pria itu bisa istirahat penuh.
"Hyung," panggil Seungyoun ketika Seungwoo membereskan beberapa obat yang ada di nakas ruang rawatnya.
"Bagaimana aku bisa ada di sini? Otakku terus mengingat kejadian buruk, tapi aku sendiri tak yakin dengan hal itu," keluh Seungyoun.
Seungwoo duduk di samping tempat tidur Seungyoun. Tangannya membelai pipi Seungyoun dengan lembut.
"Hal buruk apa pun yang ada dalam pikiranmu, cukup kau lupakan saja. Hyung hanya ingin kau segera sembuh lalu tak akan ada ketakutan lagi yang kau alami," jawab Seungwoo.
"Tapi Hyung... aku ingin tahu yang sebenarnya," sela Seungyoun buru-buru.
"Kau mengonsumsi obat tidur kan?" tanya Seungwoo.
Matanya memicing menatap tunangannya itu. Seungyoun mengangguk. Memang benar apa yang Seungwoo katakan, namun sekarang pertanyaan lain muncul di benak Seungyoun.
"Bagaimana Hyung tahu tentang hal itu?" tanya Seungyoun tak mengerti.
"Kau meminumnya terlalu banyak, Sayang. Itu yang membuatmu masuk ke rumah sakit. Hyung tahu kau melakukan itu karena Hyung terlalu mengabaikanmu, bukan?"
"Apa?" tanya Seungyoun tak percaya.
Seungyoun menggeleng pelan, berusaha menyangkal. la masih ingat betul bahwa ia meminum obat tidur hanya saat merasa tak bisa tidur. Itu pun ia lakukan hanya satu kali dalam
sehari.
Bagaimana mungkin Seungwoo mengatakan kalau Seungyoun meminumnya terlalu banyak?
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny (RyeonSeung)
FanfictionCho Seung-yeon seorang pemuda yang memiliki suatu ketakutan berlebihan dalam dirinya atau disebut phobia ~Autophobia ~ tapi bagaimana jika ketakutannya itu membuatnya bertemu dengan seorang yang mencintainya dengan tulus
