Sore hari yang dingin melingkupi kota Seoul kali ini, Salju turun semakin lebat, membuat semua orang malas untuk melangkahkan kakinya ke luar rumah. Seorang dokter yang baru saja menyelesaikan tugasnya di rumah sakit, duduk sebentar di
kursi ruang kerjanya untuk melepas lelah.
Dokter itu memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Pekerjaannya di rumah sakit semakin hari semakin membuat tenaganya terkuras.
Kemudian ia teringat akan janjinya untuk menghubungi seseorang. Baru saja ia hendak menekan tombol dial di ponselnya, sebuah panggilan dari nomor yang sangat dikenalnya
masuk ke dalam ponselnya. Dengan cepat pria itu menekan tanda
dial untuk menerima panggilan itu.
"Yeoboseyo"," ucap Seungwoo.
Tak ada jawaban dari sana, namun samar-samar Seungwoo mendengar suara seorang meringis kesakitan.
"Byungchan ah kau tidak apa-apa?" tanya Seungwoo khawatir.
Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak ketika mendengar adiknya di seberang sana meringis kesakitan.
"Sakit.. Hyung.. perutku sangat sakit.," lirih Byungchan di telepon.
Seungwoo semakin khawatir. Pikirannya begitu kacausekarang.
"Kau kenapa? Sekarang kau ada di mana?" Tanya Seungwoo.
"Perutku sangat sakit... Hyung... tolong cepatlah pulang...," lirih Byungchan lagi.
Seungwoo tak menunggu waktu lama untuk segera pulang ke rumahnya. la menjalankan mobil hyundai miliknya dengan kecepatan maksimal. Saat merasa resah seperti ini, rasaya ia
sudah tidak bisa menuruti semua rambu-rambu lalu lintas yang
berada di jalan.
Kurang dari 40 menit Seungwoo telah sampai di rumahnya. la berlari ketika turun dari mobil dan segera melangkah cepat menuju kamar adiknya yang berada di lantai atas.
"Byungchan ah!" Seungwoo berteriak memanggil nama sang adik saat adiknya terbaring lemah di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya.
"Sakit... ah... perutku... hiks. hiks." Ucap Byungchan meringis menahan rasa sakit.
Seungwoo membantu adik itu bangun. Ditatapnya wajah adiknya itu yang sudah sangat pucat.
"Byungchan~ah apa yang terjadi
padamu?" tanya Seungwoo khawatir.
Byungchan tak bisa menjawab pertanyaan Seungwoo. la hanya
Bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit di perutnya.
Seungwoo tak tinggal diam. Melihat sang adik bercucuran keringat dingin, ia segera menggendong pria itu dengan kedua tangannya dan membawa pria itu segera masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aku tak mau ke rumah sakit, Hyung. aku takut.," Kata Byungchan masih dengan ringisan pelan yang membuat Seungwoo semakin merasa khawatir.
Seungwoo mengabaikan perkataan adiknya, ia tahu betul kalau adiknya sangat takut dengan peralatan rumah sakit,Kalaupun pria itu sangat senang berjalan-jalan di rumah sakit, itu karena dia merasa tak punya teman bila ada di rumah, Jadi ia merasa tempat di mana kakaknya bekerja bisa ia jadikan tempat untuk menghilangkan rasa bosan, padahal sebenarnya pria itu sangat benci dengan alat-alat rumah sakit.
"Hyung... kumohon." gumam pria itu lagi.
"Kau akan baik-baik saja, Byungchan ah., tenanglah.." Seungwoo masih menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Sesekali ia menatap adiknya yang masih menahan sakit.
Hingga saat mobilnya tiba di depan rumah sakit, dia kembali menggendong adiknya dan berlari menuju ruang UGD rumah sakit itu. la membaringkan sang adik di atas kasur pesakitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny (RyeonSeung)
FanfictionCho Seung-yeon seorang pemuda yang memiliki suatu ketakutan berlebihan dalam dirinya atau disebut phobia ~Autophobia ~ tapi bagaimana jika ketakutannya itu membuatnya bertemu dengan seorang yang mencintainya dengan tulus
