Seokjin mengelus lembut surai sang adik yang terlelap di sampingnya. Ini waktu makan malam, omong-omong, dan Seokjin datang untuk membangunkan sang adik.
"Yoon," bisiknya seraya mengguncang pelan bahu yang lebih muda. Seokjin tidak ingin mengganggu, sebenarnya. Namun, tetap saja ia tidak bisa membiarkan Yoongi melewatkan makan malamnya.
Setelah sang adik terbangun, Seokjin menarik tubuhnya, mengubah posisi yang semula berbaring menjadi duduk bersila.
"Masih pusing?" tanyanya sembari menatap wajah Yoongi. Yang lebih muda menggeleng. Ia merasa jauh lebih baik setelah tidur beberapa waktu.
"Sudah tidak." Jawaban singkat yang membuat Seokjin menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo turun. Kau harus makan," Seokjin berucap.
Yang lebih muda mengangguk patuh. Menurut dan turun ke ruang makan walau sebenarnya ia tidak merasa lapar.
"Apa kau kenyang hanya dengan makanan sesedikit itu, Yoon?" Seokjin berceletuk, menginterupsi Yoongi yang hendak menyendok makanan ke mulutnya.
"Aku tidak terlalu lapar, Hyung," balasnya.
"Kupikir, semakin ke sini porsi makanmu semakin sedikit. Kau tidak akan tumbuh tinggi kalau begitu," sindir Seokjin.
Yang lebih muda hanya tertawa kecil. Lalu harus bagaimana jika ia tidak lapar? Juga, bertubuh tinggi ataupun tidak, bukanlah masalah baginya.
Melihat yang lebih muda hanya tertawa, membuat Seokjin mendengus sebal. Ia tambahkan sesendok nasi dan lauk ke atas piring sang adik.
"Ini, habiskan," katanya, lalu mendorong piring ke hadapan sang adik, memaksanya untuk makan.
Kali ini, giliran yang muda yang mendengus. Bukankah ia sudah bilang, bahwa dirinya tidak lapar? Tapi--yah, mau bagaimana lagi? Makanan sudah sampai di piringnya, karena itu ia harus menghabiskannya.
"Yoon, mau menonton film malam ini? Aku dapat rekomendasi film yang katanya bagus. Mau menonton bersama?" tawar Seokjin.
"Film apa?"
"Hantu, horror."
"Ooh ...."
"Kau takut?"
Tawa penuh ejek Seokjin terdengar lantang. Merasa diremehkan, yang lebih muda membalas dengan decihan remeh.
"Ayo tonton malam ini," balasnya, dengan amat percaya diri.
.
.
.
Manik Yoongi tak lepas dari langit-langit kamarnya. Ini jam setengah satu dini hari dan sialnya ia belum bisa tidur.
Beberapa kali matanya ia pejamkan dan berkali-kali pula kedua kelopak itu kembali terbuka. Ia sudah mengantuk, matanya sudah lelah. Namun, setiap ia memejam, entah mengapa adegan paling menyeramkan dari film horror yang beberapa saat lalu ia tonton bersama sang kakak terus terlintas dalam kepalanya.
Ia tidak takut, kok! Lebih tepatnya, tidak pernah merasa setakut ini setelah menonton film horror.
Sstt ... iya, Yoongi itu penakut. Ia hanya berlagak berani demi menyahuti ejekan Seokjin, lalu berbalik menjadi kucing penakut di malam hari, cih!
Beberapa kali mencoba memejam tanpa hasil, bocah itu mendengus resah. Tanpa pikir panjang, ia jinjing bantal dan selimutnya, lalu pergi ke kamar sang kakak.
Persetan dengan harga diri, ia hanya ingin bisa tidur malam ini.
Segera setelah sampai di depan kamar sang kakak, ia angkat tangannya untuk mengetuk. Namun, belum sempat ia melayangkan ketukan, pintu di depannya sudah dibuka terlebih dahulu oleh kakaknya.
"Eh, Yoon?"
Yoongi menatap Seokjin yang ada di hadapannya. Bocah itu tersenyum lucu.
"Yoongi tidur di sini, ya, Hyung!" serunya. Dan dengan seenak jidat, anak itu melesat menaiki kasur Seokjin dan terlelap secepat kilat. Meninggalkan Seokjin yang terpaku di ambang pintu.
Lelaki itu mendengus. "Ternyata penakut. Padahal terlihat berani sekali saat menonton tadi. Dasar kucing kecil!" kekehnya.
"Tapi bagus juga ... karena aku tidak harus pergi ke kamarnya untuk mengajak tidur bersama, hehe," kekehnya, lalu ikut berbaring di samping sang adik yang telah terlelap.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
SORRY | Brothership ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | Brothership - Completed Ko Yoongi .... Semua ia lakukan hanya untuk mendapat setitik kasih sayang dari sang Ayah. [03-10-19]-[30-12-19]
