"Ughh ...."
"Sakit, s-sakit."
Seokjin bergegas bangun kala samar-samar rintihan terdengar. Seakan lupa dengan kantuknya, ia menoleh pada sang adik yang nampak gelisah dalam tidurnya.
"Yoongi."
"Bangun, Yoon," bisik Seokjin seraya mengguncang pelan bahu sang adik. Cukup lama, hingga yang lebih muda bangun dari tidurnya.
"Kau baik? Ada yang sakit?" tanyanya dan yang Seokjin dapat adalah gelengan kecil.
"Mmm ... tidak. Maaf membangunkanmu, Hyung," gumamnya lirih dengan kepala tertunduk, merasa bersalah karena sang kakak harus bangun sebab racauannya.
Yang lebih tua tersenyum lembut, sama sekali tidak menganggap hal itu sebagai sebuah masalah.
"Tidak apa, tidurlah kembali," ujarnya sembari dirinya bersiap untuk kembali tidur.
.
.
.
Pagi hari, Seokjin bangun dari tidurnya. Meregangkan tubuhnya sejenak dan beralih menatap sang adik yang masih tertidur pulas.
Lelaki itu tersenyum kecil. Menyempatkan untuk meletakkan telapak tangannya pada kening yang lebih muda, lantas mengangguk puas saat merasa panas yang terasa di telapak tangannya tidak lagi setinggi kemarin.
Sekali lagi meregangkan tubuh dan Seokjin beranjak dari tempat tidur, meninggalkan kamar dengan pemiliknya yang masih lelap tertidur.
Ia tutup pintu kamar dengan perlahan, menuruni tangga, hendak mengambil air minum ketika suara sang ayah menginterupsi.
"Seokjin, kemari sebentar."
Suara sang ayah terdengar dan Seokjin mengangguk patuh. Ia hampiri sang ayah yang ada di ruang makan.
Ko Dowoon menyeruput kopi dan mengecapnya pelan, mengagumi rasa pahit khas si kopi hitam. Ia tatap si sulung, lantas bertanya, "Adikmu, bagaimana?"
Pertanyaan yang membuat Seokjin diam, terperangah.
"Y-yoongi? A-ah .... Suhu tubuhnya masih cukup tinggi dan sepertinya tidak bisa masuk sekolah hari ini. Izin tidak masuk sehari ini saja, tidak apa, 'kan ... Abeoji?" Seokjin berucap hati-hati, sebab ia tahu betul bagaimana sifat dari lelaki di hadapannya.
Sang ayah punya watak keras yang tidak suka dibantah. Perfeksionis yang merasa bahwa semua yang ia inginkan harus berjalan sesuai dengan kemauan dan standar tingginya. Tidak ayal, jika pada suatu waktu tertentu, watak ayahnya cenderung terasa kasar.
"Adikmu masih sakit?" lelaki itu bertanya.
"Iya."
Ko Dowoon menghela napas panjang.
"Kalau begitu, berikan surat izin kepada wali kelasnya," ia berujar. Memutuskan untuk menekan sedikit ego dan arogannya.
"Baik, terima kasih, Abeoji."
"Hm, duduklah dan makan. Setelah itu bawakan untuk adikmu."
"Baik."
.
.
.
Dowoon menatap Seokjin yang menaiki tangga dengan nampan di tangannya. Langkah demi langkah anak sulungnya tak lepas dari kedua matanya.
Sejujurnya, Dowoon ingin ikut melangkahkan kakinya. Menuju kamar si bungsu, lalu memeluknya hangat seperti apa yang terjadi dahulu. Tapi, langkahnya selalu terasa berat. Entah karena egonya yang terlalu tinggi, atau ia memang terlalu malu.
Dowoon tahu semua ini terjadi karenanya. Jangan katakan ia baik-baik saja setelah semua hal buruk yang dilakukannya pada malam itu. Karena nyatanya, Dowoon merasakan beratnya penyesalan ketika samar mengingat bagaimana ia memaksa bungsunya menenggak habis sebotol minuman keras.
Lelaki itu merasa buruk, telalu buruk hingga malu untuk menunjukkan afeksi.
Perkataan Seokjin tentang dirinya yang keterlaluan, Dowoon rasa Seokjin memang benar.
Pada saat itu, hari ketika kecelakaan terjadi, Dowoon hanya bisa menemukan satu dari banyaknya solusi untuk menyelamatkan si sulung. Sebuah perbuatan yang menyinggung nurani yang tanpa pikir panjang ia pilih, walaupun untuk melakukannya Dowoon harus mengorbankan bungsunya.
Semua perbuatannya selalu berlandas emosi sementara yang pada akhirnya membuat bungsunya kesakitan dan ia malu untuk itu.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
SORRY | Brothership ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | Brothership - Completed Ko Yoongi .... Semua ia lakukan hanya untuk mendapat setitik kasih sayang dari sang Ayah. [03-10-19]-[30-12-19]
