Ending-Epilog

12.9K 889 267
                                        

Lelaki itu melangkah dengan terburu, mengadu sepatu kulitnya dengan ubin rumah sakit, hingga menimbulkan decak nyaring yang berhasil menarik atensi para pengunjung.

Ia berlari tanpa peduli pada penampilannya yang jauh dari kata rapi. Menyinggung pamor dan wibawa yang selalu ia junjung di mana pun ia berada.

Langkah Ko Dowoon berhenti di depan sebuah ruangan. Tanpa mengulur waktu ia segera mengetuk pintu dan membukanya setelah mendengar sahutan dari dalam. Lelaki itu terdiam di tempatnya dengan sorot penuh harap dan gugup yang tampak jelas dari kedua mata tajamnya. Di hadapannya, ada seorang Dokter yang punya tatapan tenang tengah duduk di kursinya, memandangi dirinya yang masuk dengan napas terburu.

"Euisa?"

Sang Dokter tersenyum singkat. "Kami mendapatkan donornya, Tuan dan baiknya, hasil dari tes darah, jaringan, atau pun kecocokan darah dapat kami katakan cocok dan memiliki risiko penolakan yang rendah," Dokter itu berucap.

Sang Dokter membuka sebuah map untuk mengambil beberapa lembar kertas. Lembaran-lembaran kertas itu ia serahkan pada Ko Dowoon. "Itu adalah dokumen dan persetujuan donor organ. Anda bisa mencantumkan tanda tangan di sana sebagai persetujuan dari ahli waris," jelasnya.

"Siapa pendonornya?"

"Seorang lelaki yang meninggal akibat kecelakaan motor pagi tadi. Beliau telah mengajukan diri sebagai calon pendonor sejak tiga tahun lalu."

Dowoon mengangguk paham. "Kalau begitu, keluarganya?" tanyanya.

Namun, pertanyaannya mendapat balasan berupa senyum getir.

"Sayangnya, Beliau tinggal sebatang kara," jawab si Dokter dan Dowoon pun dibuat terdiam. Selagi mencantumkan tanda tangannya pada lembar persetujuan, lelaki itu tidak berhenti mengucap 'terima kasih' dalam hatinya.

"Lalu, operasinya? Kapan operasinya bisa dilaksanakan?" tanya Dowoon sembari mengembalikan lembaran-lembaran kertas berisi syarat dan lembar persetujuan.

"Kondisi pasien sudah cukup stabil, maka operasi dapat dilaksanakan dalam dua jam ke depan," Dokter Yo menjawab.

Jawaban yang membuat segaris senyum lega terbit di wajah Ko Dowoon.

.

.

.

Yoongi membuka matanya perlahan, lantas mengernyit tidak suka saat seluruh tubuhnya terasa berat. Butuh waktu lama baginya untuk dapat melihat dengan jelas sudut-sudut ruangan di mana ia berada.

Ruangan ini terasa asing, dengan dinding putih polos yang membuatnya bosan ketika melihat. Sudah dipastikan ini bukan kamar tercintanya atau salah satu dari ruangan di rumahnya.

Anak itu hampir saja berpikiran buruk, jika ia tidak melihat presensi sang ayah di sampingnya. Huff ... untung saja. Yoongi pikir ia telah diculik dan sedang berada di ruangan khusus milik si penculik seperti yang sering ia lihat di film-film.

"Masih mengantuk? Tidurlah, Abeoji ada di sini."

Jika telinganya tidak bermasalah, kalimat itulah yang Yoongi dengar dari sang ayah. Anak itu mengangguk patuh dan kembali menutup matanya yang sejujurnya terasa berat.

Sebenarnya Yoongi ingin bertanya, tentang tempat ini dan bagaimana bisa ia berada di sini. Namun, ia memilih untuk menyerah pada rasa lemas tubuhnya juga berat di matanya yang membuatnya terlelap dengan cepat. Soal segudang pertanyaan itu, Yoongi akan bertanya nanti atau mencoba mengingatnya sendiri.

.

.

.

Yoongi kembali membuka matanya dan mendapati sang Ayah berada di sampingnya, sesuai janji yang lelaki itu utarakan beberapa saat lalu. Anak itu menatap bingung saat mendengar banyak kata maaf dari sang Ayah. Sungguh, Yoongi rasa ia telah melewatkan banyak hal ketika ia tidur.

SORRY |  Brothership ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang