Yoongi menggeram rendah. Memejam erat. Mencoba menahan sakit pada punggung yang semakin lama rasanya semakin menggila. Obat sore ini sudah ia minum, tetapi entah mengapa sakitnya tetap datang. Atau, memang rasa sakit itu selalu datang seenak waktu.
Sebenarnya, anak itu takut. Ia takut untuk tubuhnya yang selalu merasa sakit. Takut untuk dirinya yang harus selalu menenggak obat secara rutin setiap harinya.
Yoongi tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, karena sejak cek kesehatan beberapa minggu lalu, ia sendiri meminta pada sang kakak untuk tidak merahasiakan apapun darinya.
Dan yang Yoongi tahu adalah, satu-satunya ginjal yang ia punya mengalami penurunan fungsi, itu kata kakaknya.
Itu artinya, pekerjaannya sebagai organ penyaring akan bertambah berat seiring ia mengonsumsi obat-obatan setiap harinya.
Meskipun Yoongi tahu obat-obatan yang harus ia konsumsi berada dalam dosis dan kadar yang tepat, nyatanya anak itu tetap merasa takut. Di samping itu, tanpa ia mengonsumsi obat setiap harinya, kerusakan pada ginjal semata wayangnya tentu akan memakan waktu yang lebih singkat.
Singkatnya, ia dihadapkan pada simalakama kali ini. Berhadapan dengan dilema dan keraguan dalam pikirannya sendiri.
Beberapa waktu berlalu, hingga remaja itu membuka perlahan kedua kelopak matanya. Rasa sakitnya berkurang. Benar-benar berkurang, walau nyeri kecil yang menyengat masih terasa hingga saat ini. Yoongi mengusap kasar wajahnya. Sekarang pertanyaannya, sampai kapan ia harus seperti ini? Merasakan dan menahan sakit yang luar biasa gilanya.
Nampaknya, anak itu sudah mulai putus asa.
.
.
.
"Hyung."
Seokjin menoleh ke arah pintu. Mendapati wajah sang adik yang menyembul masuk. Ia mengangkat alisnya. Bertanya tanpa berucap, irit tenaga.
"Boleh aku masuk?"
Seokjin mengangguk.
"Ya, kemarilah," ujarnya sembari menepuk ruang kosong di sebelahnya. Sementara posisinya tak berubah. Duduk bersila dengan laptop yang ada di hadapannya.
"Ada apa?" Seokjin bertanya. Karena, jarang sekali Yoongi tiba-tiba datang ke kamarnya seperti ini. Kecuali jika suasana hatinya sedang tidak baik. Atau, mengajak tidur bersama--karena ketakutan--seperti beberapa hari lalu.
Yang ditanya menggeleng. Yoongi tak ingin menjawab. Memilih untuk menyembunyikan perasaannya saat ini. Anak itu ingin bercerita sebenarnya. Tentang gundah yang melanda hatinya, atau seberapa takutnya ia pada kematian. Tapi anak itu memilih untuk menyembunyikannya. Mengeluarkan senyum manis yang menyimpan banyak rasa sakit jika ditelisik lebih dalam.
"Hyung, aku tidur di sini, ya?" pintanya lucu. Seokjin mengacak gemas rambut yang lebih muda sebelum mendorongnya hingga berpindah posisi menjadi tidur.
"Tidur saja. Hyung masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," balasnya.
Yoongi hanya mengangguk paham. Beberapa hari terakhir ini, sepertinya ada sedikit kekacauan di kantor yang dibina sang ayah. Terlihat dari sang kakak yang lebih sibuk dari biasanya dan ayahnya yang bahkan tidak sempat pulang dari tiga hari yang lalu.
Anak itu menyamankan posisinya lalu mengambil guling untuk dipeluk. Menelusupkan kepalanya pada guling hingga terdengar rima napas teratur setelah beberapa saat.
.
.
.
Hampir tengah malam ketika Seokjin dikejutkan dengan kehadiran Yoongi di dapur. Dirinya memang sedang mengambil air minum sebelum pergi tidur, ketika Yoongi datang dengan wajah mengantuk dan sorot mata sayunya.
"Yoon? Kenapa terbangun?"
Seokjin menatap penuh tanya pada sang adik yang berjalan ke arahnya, yang tanpa ia duga memeluknya. Gerakan tiba-tiba yang cukup untuk membuatnya terkejut.
"Hei, ada apa?" tanyanya.
"Hyung, aku tidak ingin berangkat sekolah besok," Yoongi berucap.
Seokjin mengangkat alisnya bingung. Sementara tangannya masih betah mengelus surai kelam sang adik.
Anak ini mengigau? batinnya.
"Bolos?" tanyanya memperjelas dan tidak lama, anggukan Seokjin dapat sebagai balasan.
"Kenapa? Apa kau sakit?" tanyanya lagi.
Ada hening cukup lama hingga Yoongi menggeleng dalam pelukannya.
"Yoongi ... hanya ingin," lirihnya.
.
.
.
Demi meminta izin bolos untuk sang adik, Seokjin pergi ke ruang kerja sang ayah di tengah malam. Pintu kayu di hadapannya ia ketuk pelan, bersama dengan panggilan lirih yang Seokjin yakin masih bisa di dengar dari dalam.
Ayahnya pulang beberapa saat lalu dan Seokjin yakin lelaki itu belum punya niat untuk tidur ataupun mengistirahatkan tubuhnya yang telah bekerja seharian.
"Ada apa, Jin? Tidak biasanya datang kemari di tengah malam," Ko Dowoon berujar, tepat setelah si sulung menutup pintu ruangannya yang temaram.
"Itu ... Yoongi tidak ingin berangkat sekolah besok," tuturnya.
"Tidak ingin berangkat? Kenapa?"
Seokjin menggeleng singkat. "Tapi Abeoji, izin sehari menurutku tidak apa. Lagipula, Yoongi bisa beristirahat di rumah dengan izin besok. Kupikir, Yoongi kelelahan hingga kambuh seperti tadi."
Dowoon terdiam, menimang perkataan Seokjin yang ia pikir ada benarnya. Lantas, ia mengangguk singkat.
"Ya, kalau menurutmu begitu," balasnya.
"Terima kasih, Abeoji."
"Hm. Segera pergi tidur, Jin."
"Baik, Abeoji."
.
.
.
Seokjin memutar knop pintu dengan hati-hati. Tak ingin mengganggu sang adik yang telah tertidur begitu pulas. Ia melangkahkan kaki menuju kasur. Berbaring di samping sang adik, lalu menarik selimut untuk sang adik juga dirinya sendiri.
Lelaki itu hendak memejamkan mata, sebelum suara rintihan terdengar. Lirihan yang membuatnya mematung.
"A-aku takut, Seokjin Hyung ...."
Seokjin tertegun. Ia tatap sang adik yang terlelap dengan kernyitan dalam pada dahinya.
Seokjin ulurkan tangan untuk mengusap surai yang lebih muda, sembari menggumamkan beberapa kalimat penenang, hingga kernyitan di dahi sang adik hilang dan terlelap kembali.
Lelaki itu terdiam. Apa yang adiknya takutkan?
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
SORRY | Brothership ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | Brothership - Completed Ko Yoongi .... Semua ia lakukan hanya untuk mendapat setitik kasih sayang dari sang Ayah. [03-10-19]-[30-12-19]
