12.

9.1K 950 115
                                        

Seokjin tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sang adik yang tertidur lelap dengan wajah pias. 

Semalam, Seokjin dihadapkan pada sang adik yang terlelap dengan bau alkohol yang menguar. Ia berpikir, adiknya tidak mungkin minum, bukan? Terlebih usianya masih jauh di bawah kata legal. 

Saat itu, geraman marahnya terdengar, sesaat setelah ia melihat pecahan botol berserakan dan lebam di pipi sang adik. 

Otomatis saja, pandangannya tertuju pada sang ayah yang terlelap di sofa. Masih dengan kemeja kerjanya dan dasi yang belum dilepas dari tempatnya.

Saat itu, bisa saja Seokjin meluapkan amarah dengan menudingkan telunjuk ke hadapan wajah sang ayah. Namun, di malam itu, wajah pucat sang adik lebih banyak mengisi pikirannya, dan membuatnya membuang semua pikiran tentang meluapkan amarah.

.

.

.

Yoongi membuka mata, dan langsung saja pening menyambar kepalanya. Semua terlihat berbayang, membuatnya kembali memejamkan kedua mata, hendak kembali tidur. Namun, harus diurungkan karena rasa mual luar biasa pada perutnya.

"Ugh!"

Yoongi segera bangkit dari tidurnya. Mengabaikan pening pada kepala ia berjalan cepat menuju kamar mandi, lalu memuntahkan semua isi perut akibat alkohol semalam. 

Anak itu mendesis lirih, sembari memijit pelan kepalanya yang terasa pusing bukan main.

Pijatan pada tengkuk membuat Yoongi mematung. Ia menoleh, mendapati sang kakak yang tengah memijat tengkuknya dengan raut khawatir yang terpampang.

"Apa sakit sekali, Yoon?"

Yoongi tak menjawab. Ia dorong Seokjin supaya menjauh.

"Pergilah, Hyung. Ini menjijikkan," lirihnya yang sama sekali tidak didengar oleh Seokjin.

Lelaki itu justru mendekat dan membantu menyalakan keran air untuk membersihkan sisa muntahan.

"Sudah?" Seokjin bertanya. Setelah anggukan ia dapat, Seokjin bawa sang adik kembali ke kasurnya.

"Tidurlah, demammu juga semakin tinggi. Hari ini tidak perlu sekolah, biar Hyung izinkan pada wali kelasmu," lelaki itu berucap. Ia naikkan selimut hingga sebatas dada dan keluar dari ruangan dengan suara selirih mungkin.

.

.

.

"Jin? Tidak berangkat?"

Seokjin menoleh. Ia menutup pintu kamar sang adik dengan hati-hati lalu berjalan menuruni tangga. Sama sekali tak mempedulikan sang ayah yang kini menatap penuh heran.

"Jin, ada apa?" Dowoon kembali bertanya ketika mereka berdua sampai di ruang makan. Sedikit heran sebenarnya saat melihat Seokjin yang menyiapkan alat-alat masak. Karena di depannya berbagai makanan telah tersedia. Lalu untuk apa Seokjin memasak?

"Ko Seokjin." 

Si sulung menghelanapas lirih, begitu suara tegas itu mengalun. 

"Tidak ada," jawabnya singkat. Setelahnya tak ada yang berbicara. Ayah dan anak itu sama sama diam bahkan hingga Seokjin menyelesaikan masakannya.

"Apa karena Yoongi?" tanya Dowoon saat melihat langkah si sulung menuju kamar bungsunya.

Seokjin berhenti di pertengahan tangga. Ia tak menoleh. Hanya mengendikkan bahu tak acuh sebagai jawabannya.

.

.

.

Seokjin menghela napas panjang. Bercakap singkat dengan sang ayah cukup untuk membuat emosinya memuncak. Sikap ayahnya yang seolah tak ingat hampir membuatnya lepas dari kendali amarah.

Seokjin meletakkan semangkuk sup pereda pengar yang telah ia buat beberapa saat lalu. Si sulung mengguncang pelan bahu sang adik. Tidak tega sebenarnya, tapi Yoongi harus memakan sup yang telah ia buat untuk menghilangkan pengar bekas alkohol semalam.

"Yoon, bangun sebentar," bisiknya pelan, dan berhasil. Karena nyatanya, Yoongi yang tengah sakit akan lebih sensitif terhadap suara.

Seokjin membantu Yoongi untuk duduk. Dapat ia dengar ringisan sakit dari bibir pucat sang adik.

"Buka mulutmu, biar Hyung suapi." Seokjin berujar lembut. Tangannya telah siap dengan sendok makan yang berisi sedikit bagian Haejjangguk.

Yoongi tidak menolak. Ia membuka mulutnya, memberikan akses masuk bagi makanan yang telah dibuat kakaknya.

"H-hyung, sudah."

Yoongi berucap lirih saat kakaknya mengangkat suapan ke lima. Ia menggeleng, menolak. Memakan sup ini hanya membuatnya semakin mual saja.

"Sudah? Tapi baru lima suap."

Sekali lagi Yoongi menggeleng. Cukup. Perutnya sudah terasa penuh.

"Satu suap lagi, ya? Setelahnya kau boleh tidur," bujuk Seokjin. Lagi-lagi, hanya gelengan yang menjadi jawaban. Seokjin menghela napas panjang. Ia tak yakin jika lima suap haejjangguk bisa menghilangkan pengar akibat alkohol semalam.

"Ini yang terakhir, Yoon," pinta Seokjin.

Sang kakak yang meminta membuat Yoongi menurut. Seketika, senyum senang terpampang di wajah Seokjin. Ia menyodorkan sesendok sup yang langsung ditangkap oleh mulut Yoongi. Senyumnya kian merekah saat sang adik telah menelan sesendok sup yang menjadi suapan terakhir.

Seokjin mengacak rambut Yoongi lalu mulai membereskan peralatan makan yang ia bawa. Tapi yang terjadi, sungguh di luar dugaannya.

"Yoon!"

Seokjin berteriak panik. Secepat mungkin ia melangkahkan kaki mengikuti adiknya menuju kamar mandi.

Helaan napas gusar ia embus. Seokjin mengulurkan tangannya untuk membantu memijat tengkuk sang adik. Membantu Yoongi mengeluarkan makanan yang baru saja masuk beberapa saat lalu.

"Seokjin Hyung, sakit."

Seokjin memejam erat. Ia seolah merasakan sakitnya saat sang adik merintih. Ia membasuh bibir sang adik yang kini nampak semakin pucat. Tak perlu komando, Seokjin segera memapah Yoongi agar berbaring di kasur. Namun, tubuh Yoongi limbung terlebih dahulu.  Hampir menyentuh lantai, jika saja ia tidak sigap menopang.


Tbc

SORRY |  Brothership ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang