Seokjin menghela napas lega, mengamati sang adik yang kembali tertidur setelah menghabiskan beberapa suap makanan.
Perlahan ia keluar dari kamar untuk mengembalikan alat makan ke dapur.
"Jin."
Langkah Seokjin spontan terhenti. Ia berbalik, menatap mata sang ayah yang kali ini nampak kosong. Tidak nampak raut tegas yang berkilat seperti biasanya.
"Ada apa, Abeoji?" tanyanya.
"Adikmu baik-baik saja?"
Pertanyaan serupa dengan yang beberapa saat lalu. Seokjin mengangguk.
"Iya," jawabnya singkat.
Kendati telah mendapat jawaban, rupanya Ko Dowoon nampak tidak puas. Ia tatap sulungnya cukup lama. Tatapan selidik yang membuat Seokjin dirundung canggung dan kaku.
"Benarkah?" lelaki paruh baya itu kembali bertanya.
Seokjin mengangguk. "Yoongi baik-baik saja," ujarnya meyakinkan.
Beberapa saat setelahnya, air mukanya berubah. Sorot yakin yang dipancar dari sepasang matanya menyayu.
"Tapi Abeoji .... Yoongi hanya punya satu ginjal bukan? Dan dokter bilang, selalu ada kemungkinan bagi ginjal tunggalnya untuk mengalami kerusakan," lirihnya.
Ko Dowoon terdiam. Mendadak saja, lelaki itu diserang beratnya rasa bersalah.
"Namun, adikku akan baik-baik saja. Bukankah begitu, Abeoji?" pertanyaannya diajukan dengan senyum. Pertanyaan yang membawa bimbang dalam batin si lelaki paruh baya.
.
.
.
Beberapa bulan sudah berlalu sejak kejadian 'minum' dan selama itu, Seokjin bisa melihat perubahan dari sikap sang ayah. Ayahnya tak lagi mengekang Yoongi untuk selalu belajar dan belajar. Mengikuti bimbingan di sana-sini hingga adiknya itu pulang dengan wajah kusut.
Tak ada lagi ayahnya yang sering membentak. Tak ada lagi ayahnya yang pemaksa.
Nampak sekali jika lelaki itu benar-benar berusaha untuk--setidaknya--menekan sedikit egonya, dan itu membuat Seokjin lebih tenang.
Kali ini, Seokjin menyempatkan diri untuk pulang lebih awal. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor tepat sebelum tenggat. Lelaki itu kembali ke rumah pada sore hari.
Bertemu sang adik, lalu memeluk tubuh mungilnya seharian telah menjadi rencana yang tertulis rapi di kepala Seokjin. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah lalu bertatap wajah dengan adik yang beberapa hari ini tak bisa ia lihat setiap hari.
Lelaki itu mengerem laju mobilnya, setelah lima belas menit berkendara dengan semangat. Ia mencabut kunci lalu turun dengan langkah lebar, menunjukkan betapa semangat telah berkobar dalam dirinya
Dibukanya pintu dengan semangat, lantas ia rentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Seolah-olah kepulangannya telah dinantikan oleh ribuan orang.
"Akhirnya. Anak itu akan kupeluk seharian penuh!" teriaknya lantang, tidak peduli pada para pekerja yang dibuat terheran karena ulahnya.
"Jin? Sudah pulang?"
Seokjin menurunkan tangannya yang semula terlentang. Ia menoleh ke atas, mendapati sang ayah yang baru saja keluar dari kamar.
"Pekerjaan sudah selesai?" tanya Dowoon.
Seokjin mengangguk cepat. "Sudah. Semua selesai tepat sesuai jadwal," ujarnya bangga.
"Yoongi sudah pulang, Abeoji?" tanyanya, sembari melepas dasi yang sedari tadi terpasang rapi di kerah kemejanya.
"Belum."
"Aku akan menunggunya pulang dan lihat saja! Seharian ini Yoongi akan berkemah di dalam pelukanku!" serunya, dan tidak lama setelahnya, suara kenop pintu yang diputar membuatnya beserta sang ayah menoleh.
Itu Yoongi, yang pulang dengan tas sekolah yang ia jinjing.
"Akhirnya kau pulang, bocah!" Seokjin berujar, dibalas senyum tipis sekenanya dari sang adik.
Awalnya, Seokjin tidak melihat ada yang aneh dari Yoongi. Namun, ketika sang adik mendekat dan berada dalam pelukannya, baru ia bisa merasakan suhu tubuh yang di atas normal.
"Yoon, kau sakit?"
Yang lebih muda menggeleng lesu. "Tidak," balasnya.
"Yoon ...."
Lirihan dan decakan kecil sang kakak terdengar.
Yoongi tersenyum tipis. "Hanya sedikit pusing. Setelah tidur pasti hilang, kok," ia melanjutkan.
"Kau yakin?" Tatapan khawatir sang kakak Yoongi balas dengan anggukan yakin.
Lagipula, ini hanya pusing seperti yang biasa ia rasakan ketika ia bergadang karena mengerjakan tugas yang menumpuk, atau ketika ia kurang tidur. Bukan masalah besar dan Yoongi pikir, ia hanya butuh tidur seperti biasanya.
"Yoongi pergi ke kamar dulu, Hyung," ujarnya sembari ia melepaskan pelukan sang kakak.
Di perjalanannya menuju kamar, Yoongi beberapa kali mengurut pelipisnya. Sedikit mendesis ketika diserang pening yang timbul-tenggelam.
Seraya memutar kenop pintu kamar, anak itu menghela napas panjang. Tidak apa, bukan masalah besar, ucapnya dalam hati. Ia hanya akan tidur sebentar dan rasa pusing di kepalanya pasti akan hilang, seperti biasanya.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
SORRY | Brothership ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | Brothership - Completed Ko Yoongi .... Semua ia lakukan hanya untuk mendapat setitik kasih sayang dari sang Ayah. [03-10-19]-[30-12-19]
