Selamat membaca.
Lilina mengerjapkan matanya, menatap ke arah ruangan yang sangat asing baginya—keluar dari ranjang berukuran cukup besar. Bahkan muat untuk tiga orang, tak heran. Sebab ruangan kamar ini cukup besar.
Tapi Liliana tak punya waktu untuk menganggumi bentuk ruangan ini, yang ia tahu saat ini. Adalah ia culik!
"Sialan!"
Berjalan ke arah jendela, membukanya dengan kadar.
WUSH!!!
Angin berhembus masuk, menerpa surainya. Terbang kemana-mana, dengan matanya yang menbulat dengan lebarnya saat melihat tempat yang sangat berbeda dari bumi.
Tidak ada bangunan-bangunan tinggi, tidak ada suara kendaraan. "Ini jelas bukan di bumi!"
Sadar, kalau tempat ini bukan bumi temlatnya tinggal. Liliana tanpa segan menggunakan kemampuan dewinya, melesat turun ke bawah tanpa rasa takut.
"Ini bukan mimpi, karena mimpiku tak seperti ini!" ucap Liliana, saat kakinya menginjak tanah. Mendonggak menatap ke arah istana yang masih asing baginya. "Ini juga bukan istana yang ada dalam mimpiku?!"
Lalu ini dimana? Pikir Liliana sembari mengetutkan keningnya bingung.
Kekuataan Dewi, sejak kecil Liliana diberkahi oleh kekuataan emas. Ia juga melihat apa yang terjadi pada dirinya sebelum diciptakan, dan berikan tanggung jawab yang besar.
Tapi itu bukan dirinya—tetapi Giannalah, dia hanyalah sebuah kesalahan. Dan roh yang seharusnya tak lahirkan di dunia ini.
"Jadi ini dimana?" pikir Liliana, menatap ke arah kiri dan kanannya yang tampak kosong.
Sebelum sebuah tangan kokoh melingkar pada pingangnya—sontak mata Liliana membelalak, tubuhnya hendak menolak. Akan tetapi, ia seperti tak bisa melakukan apapun saat ia peluk dari belakang.
"Kau sudah bangun hmmm," suara baraton itu bertanya. Kepala pria itu bersandar pada bahu Liliana, namun dengan mata merah menyala.
Waspada. Liliana mencoba untuk tak memberontak, sampai kekuataan yang seakan menahan pergerakannya itu melemah.
Pria itu membalikkan tubuh Liliana, menatap manik mata coklat kehitaman Liliana yang menatapnya dengan tatapan tak suka.
Ia mengelus wajah Liliana, akan tetapi Liliana membuang wajahnya ke arah samping sebagai bentuk penolakan.
"Saya tidak mengenalmu!"
Pria itu tersenyum. Sebelum menarik Liliana dalam peluaknnya kembali. "Aku adalah pasanganmu!" ucapnya.
Membuat Liliana terkejut, matanya menunjukan keterkejutan. Sontak, Liliana mendorong dada bidang pria tampan itu dengan kasar.
"Sejak kapan saya punya pasangan?" tanya Liliana tak percaya. "Dan sejak kapan saya mengenalmu?" tanya Liliana sembari menyipitkan matanya.
Respon Liliana dianggap sangat menantang.
"Sejak awal kau dilahirkan, kamu adalah milikku!"
"Milik siapa? Anda! Jangan mimpi!" tegas Liliana, ia mencoba untuk mengeluarkan kemampuan sucinya tapi sebuah tangan tiba-tiba saja menghentikannya.
Kepalanya menatap ke arah orang yang berani-beraninya menahannya. "Brian?!" tanya Liliana dengan alis yang mengerut, sebelum ia kembali menatap ke arah pria yang sedang menatapnya dengan mata semerah darah.
"Ternyata kau!"
"Tenanglah, Raja tidak akan menyakitimu."
"Raja!" Liliana berdecak. "Dia bukan rajaku!"
Xavier tersenyum sinis. "Bagimana bisa aku memiliki seorang Mate yang sangat tidak sopan, dan tidak anggun seperti ini!" ia terlihat tak suka saat Liliana bersitatap dengannya.
Hanya ada kebencian dari kedua tatapan itu, tapi Brian. Ia menarik Liliana, menjauh dari sana dan untung saja Liliana setuju.
Di dalam istana Liliana menatap Brian marah. "Kau bukan manusia!"
"Gianna, cobalah untuk tenang."
"Aku benci pria itu!"
"Tapi ia tak akan pernah bisa melukaimu!'
"Aku tidak peduli!"
Aneh, mengapa sorot mata dan cara Brian meyampaikan berbeda dari sebelumnya. Seakan, Liliana melihat Xavier dimata Brian yang ia temui selama beberapa saat yang lalu.
"Kau akan kembali, tapi jika yang mulia butuh kamu. Kamu harus datang!"
"Tidak akan pernah!"
"Gianna!"
Nama itu hanya kebohongan Liliana saja. "Aku tidak akan pernah tunduk padanya!" Sebab Liliana tidak mengenal dunia maupun mereka semua.
TBC.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jadilah Milikku
Fantasy"Aku akan merelakan mu demi impiannya," batinku Tapi takdir adalah takdir bagaimana jadinya bila takdir itu di tentang keras?! langsung baca aja!!! ©2019