'Yuju-ya, aku bahagia akhirnya kita bisa menikah dengan pria pilihan kita yang kita cintai'. Yuna mengangguk lemah.
'Kamu tahu kan aku sudah mencintai Jungkook sejak kamu menyeretnya secara paksa untuk mengantar kita ke perpus kota waktu itu'. Lagi-lagi hanya dibalas anggukan singkat.
'Tak kusangka ternyata perasaanku tak bertepuk sebelah tangan'. Yuna tersenyun masam menanggapi celoteh sahabatnya.
Yuna tahu dengan pasti bahwa Jungkook hanya dipaksa untuk mencintai Jung Eunbi. Baik olehnya dan juga keluarganya. Ia tahu dengan pasti siapa pemilik hati Jungkook, yaitu dirinya sendiri.
'Hmm... Aku... akan pergi dulu, Eunbi-ya'. Gadis berambut sebahu itu mengangguk semangat.
Tak berapa lama ponselnya berdering.
'Halo, eomonim?'.
'...'.
'Baik, saya akan segera kesana'. Telepon diputus sepihak oleh seseorang di seberangnya.
Ponselnya kembali berdering saat kakinya baru menapaki area coffeshop.
'Halo, Jungkook-ie? Ada apa?'.
'...'.
'Nggak perlu, aku bisa membelinya sendiri'.
'...'.
'Nggak, jangan menyusulku! Aku sekarang sedang bersama Yoseob oppa. Kamu temui Eunbi saja di taman dekat kampus'.
Yuna menelan ludahnya dengan susah payah saat menyampaikan kebohongannya pada sahabatnya itu. Bel yang menempel di pintu berdenting saat Yuna membukanya. Gadis itu celingukan mencari seseorang yang sedang menunggunya.
'Choi Yuna!'. Gadis itu menoleh saat seseorang meneriakkan namanya.
Ia langsung memasukkan ponselnya ke saku jaketnya.
'Apa kabar, eomonim?'.
'Tidak usah berbasa basi. Kudengar dari Eunbi kau masih sering bertemu putraku. Kau sudah akan menikah beberapa hari lagi dan Jungkook juga sudah memiliki Eunbi sebagai istrinya'.
'Eomonim, aku-'.
'Apa maumu sebenarnya?'.
'Eomonim, aku hanya-'.
'Jangan panggil aku eomonim! Tak sudi aku mengakuimu sebagai anak!'. Gadis itu tersentak.
'Choi Yuna, kuperingatkan kau. Sekali lagi kudengar kabar kau mendekati putraku, kupastikan hidupmu tak akan sama lagi. Ingat itu!'.
Setelahnya wanita paruh baya itu melenggang pergi.
Tak lama kemudian terdengar isak tangis gadis berponi itu. Yang tidak disadari gadis itu adalah bahwa panggilannya dengan seorang laki-laki yang sebelumnya masih belum diakhiri.
***
Dua orang berbeda gender itu berdiri mematung. Bahkan tas tangan si gadis sampai melorot jatuh. Jangan lupakan ekspresi shock nya.
"Jungkook-". Laki-laki itu langsung menabrakkan dirinya kepada sang gadis, menenggelamkan kepalanya pada leher gadis itu.
"Gadis jahat. Kau berniat kabur lagi dariku kan!". Gadis itu meronta-ronta dalam dekapan Jungkook.
"Lepaskan aku, Kook. Kau mencekikku". Gadis itu memukul-mukul punggung Jungkook.
Jungkook agak memundurkan tubuhnya, namun kedua tangannya masih bertengger di bahu gadis itu. Keduanya saling menatap.
"Ba..bagaimana kabarmu?". Laki-laki itu hanya diam, masih setia menatap gadis yang dicintainya itu.
"Yuna, aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak bertahun-tahun yang lalu. Bahwa aku takkan melepasmu atau membiarkanmu jauh dari jangkauanku. Aku akan-".
"Kookie stop! Kita sudah membahas ini berkali-kali. Astaga apa yang salah denganmu". Gadis itu, Choi Yuna memukul-mukul lengan Jungkook yang berganti melingkari pinggangnya.
"Yuna-ya. Aku sudah menerima bahwa kau tidak akan menjadi milikku. Tapi aku tidak bisa menerima jika kau pergi dariku. Kau tau aku tak akan sanggup jika tidak melihatmu kan?". Yuna menghembuskan napasnya.
"Jungkook-ie, tidak ada yang seperti itu. Kau sudah memilihnya-".
"Bukan aku, kau tau itu sendiri!". Yuna memejamkan matanya sejenak meredam kekesalannya agar tidak ikut meledak-ledak. Ia menyentuh lengan sahabatnya yang masih berada di pinggangnya.
"Kookie, ah tidak, maksudku Jungkook. Kau saat ini seorang ayah, juga suami. Kau tidak bisa terus-terusan berada di sekitarku. Apa yang akan orang katakan-".
"Persetan dengan omongan orang. Ini hidupku, tidak ada urusannya dengan mereka".
"Jungkook, please! kau punya hidupmu sendiri dan Aku juga punya hidupku sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan bersamamu sedangkan kau sudah punya keluargamu sendiri. Aku juga ingin bahagia..". Air matanya menetes, membuat Jungkook terkejut.
Satu tangannya mengusap pipi Yuna. Pandangannya sendu.
"Apa kau benar-benar bahagia jika tanpaku?". Air matanya makin deras.
"Jawab aku, Yuna!". Perlahan kepala Yuna terangkat.
"Aku.. mencintaimu". Kedua tangan Jungkook melorot jatuh dengan ekspresi shock yang kentara.
"Kau-". Suaranya tercekat.
"Aku mencintaimu". Ulangnya.
"Maafkan aku, harusnya tidak boleh ada perasaan semacam itu diantara kita. Aku-".
Yuna shock luar biasa saat bibirnya menyatu dengan bibir Jungkook. Laki-laki itu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Yuna membelalakkan matanya saat menatap kedua mata laki-laki itu yang terpejam.
Menyadari kesalahannya, Yuna mendorong bahu Jungkook dengan keras.
"Yak! Apa yang kau lakukan!". Yuna mengusap bibirnya dengan ekspresi murka.
"Kau bilang mencintaiku, dan aku juga mencintaimu. Alasan apalagi yang kuperlukan untuk meninggalkanmu?". Yuna memejamkan matanya menahan kesal.
"Kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu, Jeon Jungkook". Ujarnya dingin dan beranjak melewati laki-laki itu.
"Aku tau kau terpaksa menerima pria itu. Kau sengaja menjalin hubungan dengannya hanya agar aku tidak lagi mengejarmu". Jungkook mencekal lengan kiri Yuna.
"Cukup!". Air matanya kembali luruh.
.
.
.
![[END] It's You!](https://img.wattpad.com/cover/185786584-64-k508227.jpg)