"sayaa su..suaminya, dokter".
Junhoe hampir menampar mulutnya sendiri karena salah bicara. Seharusnya ia mengaku saudara sepupu, teman atau apapun. Kenapa yang keluar dari mulutnya justru status yang tak pernah ia pikirkan. Pria berjas putih itu tersenyum tipis.
"Bagini, tuan. Kami harus melakukan prosedur pembedahan sesegera mungkin. Karena luka robek di perut pasien cukup lebar dan pasien dibawa ke sini sudah dalam keadaan banyak kehabisan darah. Itulah sebabnya saya menanyakan hubungan anda dengan pasien. Kami butuh persetujuan dari walinya untuk melanjutkan. Dan syukurlah jika pasien ditemani suaminya, sehingga kami hanya akan meminta persetujuan anda sebagai wali". Penjelasan panjang dokter di depannya membuat Junhoe gugup.
Bagaimana jika dokter itu menanyakan mengapa Yuna bisa tertikam atau bahkan menanyakan siapa yang menikamnya.
Dokter tidak akan mencurigai dirinya bukan?
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya, dokter". Junhoe berkata tanpa berpikir.
Dokter itupun mengangguk dan berpamitan pada Junhoe untuk mempersiapkan operasi. Dan pria itu diharuskan segera mengurus administrasi.
***
Dering ponsel Junhoe memecah lamunan pria itu. Ia sudah duduk diam di samping brangkar pasien selama hampir dua jam. Junhoe menatap deretan huruf hangul di layar ponselnya. Ia bangkit menuju keluar ruangan untuk mengangkat telepon.
"Hmm?".
"...".
"Maaf, tapi mungkin hari ini tidak".
"...".
"Eum... maaf".
Begitu Junhoe masuk kembali ke dalam ruang rawat. Gadis yang sudah terlelap sejak beberapa jam lalu sedang menatapnya tanpa ekspresi. Pria itu berjalan mendekati brangkar.
"Oh, kau sudah bangun?". Gadis itu beringsut menjauh saat dilihatnya Junhoe semakin mendekat ke arahnya.
Tangan kanan Junhoe meraih kursi di sebelah brangkar.
"Santailah. Aku bukan orang jaha—".
"Kumohon pergilah". Junhoe menghentikan kegiatannya menarik kursi di sebelah brangkar gadis itu.
"Kupikir sebaiknya Aku memanggil dokter saja". Junhoe kembali menuju keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka dan menampakkan seorang pria berjas putih disusul seorang wanita berseragam hijau di belakangnya.
"Apa kabar, Nyonya Koo? Apa ada keluhan lain yang anda rasakan?". Gadis yang terbaring di atas brangkar mengernyit menatap dokter yang berdiri menjulang di sampingnya.
"Siapa yang anda maksud, dokter?". Kedua orang yang sedang memeriksanya saling berhadapan.
"Anda, nyonya Yuna Koo". Gadis itu, Yuna mengernyit bingung.
Sejak kapan marganya berubah, batinnya.
"Nama saya Yuna Cho—".
"Maaf, Sepertinya saya meninggalkan ponsel saya di atas meja". Junhoe yang kebetulan mendengar ucapan Yuna bergegas mendekati ketiga orang itu.
Saat ini Yuna pasti sedang kebingungan. Karena yang dokter ketahui gadis itu adalah istrinya, sedang Yuna tidak mengetahui apapun. Junhoe harus menjelaskan sesuatu pada gadis itu. Namun tidak sekarang, ia punya tugas lain saat ini. Ia harus membereskan kekacauan sepupunya di apartemen Yuna. Mungkin besok pagi, setelah kubereskan semuanya dan Yuna sudah agak lebih tenang, pikirnya.
Sepeninggal dokter dari ruang rawat Yuna beberapa menit yang lalu, gadis itu masih termenung. Ia menerka-nerka apa yang sudah terjadi setelah ia pingsan. Ia hanya ingat sesaat sebelum pingsan ada seseorang yang membopongnya.
Apa Junhoe yang menggendongnya?
Apa ia yang membawanya ke rumah sakit?
Mengapa pria itu mau repot-repot menolongnya disaat saudaranya itulah yang berusaha melenyapkannya?
Bukankah mereka berdua bersekongkol?
Mengapa?
Selama beberapa menit Yuna hanya berbaring diam sambil melamun. Hingga ia tiba-tiba merasa sangat mengantuk. akhirnya ia tertidur karena pengaruh obat yang baru saja disuntikkan dokter tadi pada selang infusnya.
.
.
.
![[END] It's You!](https://img.wattpad.com/cover/185786584-64-k508227.jpg)