Until The Very End

710 59 10
                                        

"Kamu yakin tidak akan menyesal?". Gadis itu kembali mengangguk entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Aku hanya khawatir kamu menerima pernikahan kita hanya karena emosi sesaat".

"June, ayolah". Gadis itu menggenggam jemari lelakinya dengan lembut.

"Pergilah sebelum pendeta datang, atau kamu akan menyesal selamanya".

"Koo Junhoe!". Gadis itu menampilkan ekspresi marahnya.

Ia menyingsingkan gaun sutera berwarna gading yang membalut tubuh Indahnya itu saat berdiri. Dengan menghembuskan nafas sejenak, Ditangkupnya pipi laki-laki yang beberapa jam lagi akan resmi menjadi suaminya itu dengan tatapan serius.

"June, dengarkan aku. Kamu mungkin berpikir bahwa aku hanya memanfaatkanmu sebagai wadahku untuk melarikan diri. Ingatkah kamu pernah berkata padaku bahwa mencintai sahabatmu sendiri itu tidak berdosa, tapi memaksanya menjadi milikku setelah ia terlanjur memilih, itu salah besar. Kalau kamu khawatir aku menyesal, dalam lubuk hatiku yang terdalam memang ada rasa itu. But love comes from used to being together, right? Kamu tahu aku sempat jatuh cinta pada mendiang Yoseob oppa, karena apa? Karena kami terbiasa bersama, saling bergantung. Kalau Yoseob oppa bisa, kenapa bersamamu tidak?". Kepala Junhoe menunduk menatap manik berbinar di depannya.

"Kamu itu pria yang luar biasa. Perempuan mana yang tak akan tertarik padamu. Baik, keren, kaya, berpendidikan tinggi dan...ekhem, sedikit tampan-".

"Hei! aku memang tampan, majalah bisnis saja selalu memberitakan wajah tampanku". Ketusnya tak terima membuat gadisnya tergelak.

"Baiklah tuan tampan yang kaya raya, sekarang keluar dari ruangan ini agar SooAh bisa menyelesaikan tugasnya merias wajahku". Gadis itu mendorong punggung calon suaminya keluar dari kamar rias.

"Sampai jumpa di altar, istriku". Junhoe masih sempat-sempatnya mencuri ciuman di pipi gadisnya.

"Aish! Koo Junhoe!".





***

"Selamat ya, Yuju-kuu. Akhirnya kamu menikah juga".

Kedua perempuan itu berpelukan heboh mengabaikan suami masing-masing. Saat tiba giliran laki-laki itu bersalaman, keduanya terdiam canggung.

"Selamat". Ucapnya singkat.

Yuna menatap uluran tangan kanan sahabatnya itu. Dengan mantap ia menjabatnya dan memeluk pria yang selama setengah hidupnya selalu bersamanya itu. Sedangkan pria itu hanya diam tanpa membalas pelukan Yuna

"Kookie, kuharap kita masih bisa seperti dulu. Kamu selamanya sahabatku, oke?". Setelah menghembuskan nafas dengan lemah, pria itu membalas pelukan Yuna.

"Baiklah, mungkin ini saatnya aku menyerah. Semoga kamu selalu bahagia bersamanya". Matanya melirik ke samping ke arah suami Yuna seranya melepaskan pelukannya.

"Kuharap kau bisa menjaganya lebih baik daripadaku". Kedua pria itu bersalaman.

Yuna menatap punggung pria yang dicintainya itu dengan mata berkaca-kaca. Kepalanya mendongak menatap pria di sampingnya yang menggenggam jemari tangannya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah istrinya.

"Kamu pasti menyesal kan sekarang? Aku sudah memperingatkanmu tadi. Tapi kamu sudah tak bisa melarikan diri lagi. Karena kamu sekarang istriku".

Pria itu lagi-lagi mengejeknya bahkan sempat menggigit daun telinganya dengan pelan. Dari jauh mereka nampak seperti sedang berciuman, sehingga para tamu undangan sontak berteriak riuh. Yuna memukul lengan suaminya kesal.

"Awas kau, Koo Junhoe!". Keduanya tertawa geli.







***

Yuna duduk diam menatap jendela di sampingnya dengan tangan bersedekap. Ia melirik pria yang baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi suaminya itu dengan kesal.

"Hei berhentilah cemberut. Atau kamu memang sengaja memancingku untuk menciummu disini, hmm?". Yuna menepis tangan Junhoe yang mencubit pipinya.

"Kamu keterlaluan, June. Aku baru saja tidur tidak lebih dari tiga jam dan kamu sudah menyeretku kesini. Kamu mau aku mati kelelahan, huh?". Yuna bersedekap.

Terang saja Yuna kesal. Setelah berdiri seharian menyalami para tamu Junhoe yang tidak sedikit itu, mereka langsung mengunjungi Gayoon malam itu juga. Lalu hanya sempat tidur sekitar jam 1 dinihari. Belum juga hilang capeknya, Junhoe langsung menggendong Yuna ke bathtub untuk segera mandi dan bersiap pergi lagi pada jam 4 pagi. Kali ini kembali ke Denmark.

"Kamu tahu aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku lebih lama lagi. Meski aku direktur utama, tapi aku tak boleh menyalahgunakan wewenangku untuk itu. Mengertilah sayang". Mendengar kalimat terakhir Junhoe, ekspresi Yuna berangsur-angsur melunak.

"Setelah ini aku mau Risalamande, dua rasa pokoknya". Pria disampingnya mengelus sayang rambut istrinya.

"Aku bisa membelikanmu semua rasa bahkan kalau perlu tokonya akan kubeli untukmu".

"Aish! Sombong sekali".

Junhoe menepikan mobilnya, lalu menarik kepala istrinya dan mengecup singkat bibir cherry itu dengan gemas. Yuna melebarkan matanya kaget, reflek ia memukul pelan lengan suaminya.

"Yak! Kau ingin terkena tilang, ya? Astaga". Yuna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Aku mencintaimu". Yuna menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Apa kepalamu terbentur sesuatu?". Yuna menarik kepala Junhoe dan memeriksa kalau-kalau ada memar atau apa.

"Aish! Aku sungguh-sungguh, bodoh!". Yuna tergelak, tangannya menurun menuju kedua pipi Junhoe.

"Katakan sekali lagi". Junhoe menggeleng dengan bibir mengerucut.

"Ayolah, hmm? Hmm?". Junhoe malah memalingkan wajahnya.

Yuna dengan gerakan cepat kembali menangkup wajah Junhoe. Menempelkan bibirnya pada bibir bervolume itu. Singkat, hanya menempel. Namun cukup membuat Junhoe membelalak terkejut.

"Aku mencintaimu, Choi Yuna. Hanya kamu". Ucapnya lalu kembali mencium istrinya lebih intens.

Tok tok tok

Keduanya tersentak dan saling menjauh. Junhoe menurunkan kaca mobilnya. Seorang pria paruh baya dengan seragam polisi muncul di samping mobilnya.

"God aften Undskyld herre, det er forbudt at stoppe i dette område"*. Tegurnya menggunakan bahasa Danish.

Junhoe menggaruk tengkuknya. Sedangkan Yuna kebingungan.

"Undskyld sir, der var en let teknisk fejl med min bil tidligere. men nu er det okay. vi vil undskylde mig"*. Junhoe menjawab dengan ekspresi sengaja dibuat sedih. Kemudian ia melajukan kembali mobilnya sambil terbahak.
.
.
.



















...:::...THE END...:::...





Double update sekaligus mengakhiri story ini.
Sebenernya dulu cerita ini alurnya gak gini, tapi karena kelamaan dianggurin jadi lupa wkwk..

Maap yhaa endingnya agak maksain terus gak sesuai sama keinginan kalian huhuu

Makasih udah mau baca dan ngasi dukungan buat cerita ini, vote dan komen kalian bikin diriku semangat buat nulis terus. nantikan cerita-cerita geje baru aku yg lain yhaa wkwk *emotpeluk*

Btw hari ini bebeb aing beb Yoseob ultah huee😭
Biasanya ngerayain berlima, sekarang cuma berempat dong, gakda beb Jun *lapIngus* 🤧
.
.
.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 12, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[END] It's You! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang