HAPPY READING
_______________________________________
Di antara jurusan IPA, IPS, dan Bahasa, jurusan IPA terkesan sebagai kelas bergengsi yang dipenuhi oleh siswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Untuk mengisi waktu luangnya, mereka membaca buku,mengerjakan soal dan hal lain yang identik dengan orang-orang pintar.Dinda termasuk siswa di kelas IPA 1 ini. cewek berambut panjang dan hitam yang dibiarkan terurai bebas. Kulit putih, di tambah dengan bibir tipis yang membuat senyumnya semakin manis. Membuat banyak kaum lelaki terpesona kala melihatnya. Semua yang ada pada dirinya seolah sempurna, tidak kurang sedikitpun.
"Din lo nggak apa-apa kan?" Sofi memegang bahu Dinda yang sudah terduduk lemas berhadapan dengannya. Memastikan bahwa teman sebangkunya itu baik baik saja.
Dinda memang segera balik ke kelas setelah Rey meninggalkannya di UKS. Karena hari ini ada pelajaran favoritnya, jadi ia paksakan masuk ke kelas,meskipun sebenarnya masih lemas.
" Iya, gue udah nggak apa-apa kok"
Sofi memperhatikan wajah Dinda lekat lekat "Tapi lo masih pucet Dindaa, UKS aja yuk. Gue temenin tiduran deh nanti"
Dinda menopang dagu dengan kedua tangannya, kesal "Lo tuh sama aja ya sama semua orang, selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Nggak tulus."
"Yaelah bercanda doang Din, serius amat. Gue tulus kok sama lo. Gue kan sahabat lo yang paling baik, iya kan? sini peluk dulu" Sofi memeluknya dari samping, tapi Dinda hanya diam tidak membalas pelukannya. Ia masih kesal dengan sahabatnya itu.
"Lo tadi tau nggak yang nolongin gue siapa?" Tanya Dinda penasaran.
"Taulah, masa cowok sekeren dia,seganteng dia gue nggak tau sih. Dia itu Rey, anak kelas IPS 2. Tapi dia terkenal badboy Din. Padahal kalau dilihat,sebenarnya dia itu baik. Buktinya tadi dia nolongin lo juga kan?" Jawab Sofi antusias.
"Ya... ya... ya..." Sahut Dinda malas.
******
Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar kelasnya masing - masing dan segera pulang ke rumah untuk melepas penat.
Tapi tidak dengan Rey dan teman-temannya. Mereka nongkrong dahulu di kantin seperti biasanya. Di bangku paling pojok dekat dengan hijaunya tanaman yang mengelilingi kantin bagian outdoor.
"Mau pesen apa kalian?"
"Udah samain aja"
Kebiasaan mereka, ketika makan selalu memesan menu apapun sama, biar nggak ribet katanya.Restu, memesankan makanan. sedangkan yang lain asik mengobrol sambil menunggu pesanannya.
"Pesen apa tu?" Rey bertanya, setelah restu kembali lagi ke bangkunya.
"Seblak, biar nampol dibibir kalian"
"Jangan bilang lo pesen seblak level 10?" Reza bertanya khawatir, dari keempat teman Rey, Reza memang salah satu cowok yang tidak suka pedas. Bahkan kalau beli bakso saja, mungkin kuahnya akan berwarna hitam. Karena ia akan menambahkan kecap tanpa saus maupun sambal.
"Bukan, sok tau sih lu. Gue pesen level 10-1 kok" jawab restu santai
"awas aja ya, kalau sampai nanti gue nggak habis. Lu tanggung jawab habisin pokoknya . Mubadzir makanan di buang-buang!"
Rizal dan Rey hanya tertawa geli melihat kelakuan kedua temannya itu.
Tak lama kemudian, seblak sudah datang. Mereka langsung menyantapnya dengan lahap, keringat bercucuran di wajah mereka. Sudah risiko kalau makan pedas memang seperti itu.
"Cewek yang tadi lo bawa ke UKS namanya siapa Rey?" Reza bertanya pada Rey di sela sela mereka makan.
Namun Rey malah tertawa ngakak, diikuti teman-temannya. melihat wajah Reza sudah merah, matanya hampir nangis. Dan ingus ingin terjun keluar bebas.
"Namanya Dinda, tapi gue nggak tau dia kelas apa?" Jawab Rey setelah menyudahi kegiatan tertawanya
"Dia kelas IPA 1, tadi barisnya berjarak satu kelas dari kelas kita" Rizal menimpali, posisi kelas ketika upacara memang sudah di atur sesuai kelasnya masing - masing. Jadi siswa sudah tidak lagi berebut mencari tempat yang teduh untuk berbaris saat upacara.
Rey hanya ber Ohh ria merespon Rizal.
Setelah mereka selesai makan, mereka segera menuju parkiran untuk pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 4.00 sore. Sudah satu jam mereka nongkrong di kantin. Memang tidak berasa ketika bersama dengan teman-teman, walaupun memakan waktu lama sekalipun. Semua akan terasa begitu cepat.
"Rey gue nebeng lo yak?"
Hari ini Rizal tidak ada yang menjemput, karena orang tuanya juga sibuk kerja. Dan motor yang biasanya ia pakai sedang diservis. Kebetulan rumah Rey dengan Rizal juga searah."Yokk" Rey sudah siap diatas Vespa nya.
Rizal langsung membonceng di belakang.
"Gue duluan ya" Rey berteriak pada teman-temannya yang masih di belakang.
"Hati hatii bro" jawab teman-temannya serentak
******
Ditengah perjalanan pulang Rey melihat ada Polisi sedang berjaga di pinggir jalan. Mengawasi pengendara yang tidak taat berlalu lintas.
"Rey gue nggak pakai helm, gimana nihh?"
"Gini... Gini... Lo tutup kepala lo pakai tas lu aja, biar nggak kelihatan banget"
"Rey kayaknya polisinya tau deh kalo gue nggak pakai helm, tuh liat di spion lo. Dia ngejar kita"
"Wahh iyaa, gilaaa"
Rey mengendarai Vespanya dengan kecepatan full, berusaha melarikan diri dari Pak Polisi tadi.
Rey membelokkan motornya ke gang masuk pemukiman warga, tapi tiba-tiba motornya macet."Dorong Zal" Rizal mendorong motor Rey, mereka mencari tempat aman supaya tidak terlihat oleh Pak Polisi.
"Udah sini aja" Rey dan Rizal sembunyi di halaman rumah seseorang yang tak ia ketahui sama sekali, mereka sembunyi di balik pagar tembok yang sudah banyak ditumbuhi tanaman merambat.
"Ssssttt....!" saat terdengar suara motor polisi itu, Rey memperingati Rizal supaya tetap diam.
"Dimana bocah itu, sontoloyo! Nggak bisa saya nangkap bocah itu, Awas saja kalau ketauhan nggak pakai helm lagi" Pak polisi itu menggerutu di balik pagar tembok tempat Rey dan Rizal sembunyi.
Setelah pak polisi itu pergi, baru Rey dan Rizal keluar dari persembunyiannya.
"Huuuuhh jantung gue hampir copot anjirr! motor lo pakek macet lagi" keluh Rizal sambil membantu Rey mendorong Vespanya keluar halaman.
"Halah gitu doang"
"Lo kenapa nggak ganti motor aja sih? Duit lo kan banyak, bisa kali ganti motor baru, biar nggak macet macet gini. Kasian gue sama lo."
Rizal memang heran dengan temannya satu ini, uang banyak,mobil ada, tapi malah lebih memilih Vespa tua yang sudah sering kali macet sampai tak terhitung.
"Enak aja,Vespa ini berharga buat gue. Gue terlalu sayang mau ngelepas ini Vespa. Paham?"
"Pacarin aja tuh Vespa lo ,Bambank"
Rey tidak menimpali ocehan Rizal, ia sibuk mencoba menyalakan lagi Vespanya.
"Yok, balik nggak? " Setelah Vespa sudah bisa berjalan mereka cepat cepat pulang. Karena hari semakin sore dan awan mulai merubah warnanya menjadi gelap dan mendung.
_______________________________________
THX U FOR READINGBAB 2 sampai disini dulu ya!! Semoga suka, next bab akan semakin seru nih!!
trimakasih ya sudah membaca, semoga suka.(kritik dan sarannya silahkan)
