Ada rindu untukmu, di sini!
💙
"Heh? Apa-apaan kalian di sini?" Tanya Pak Dino. Ia sedikit galak kalau melihat siswa-siswinya menerobos ke tempat terlarang itu.
"Komang yang nyuruh, Pak. Katanya dipanggil Bapak buat ke sini," alibi David. Ia memang senang mengerjai Komang.
"Saya memang mengajak ke sini, Pak. Tapi saya t-, Eh, eh, eh, sakit, Pak. Sakit," ringis Komang yang telinganya sudah menjadi bulan-bulanan jari-jemari Pak Dino. Beliau menjewernya dengan sangat kuat.
"Ikut bapak!" Tegasnya, dan tentu saja tanpa melepaskan jewerannya.
Beberapa siswi memandang David kesal.
"Curut!"
"Taik semut!"
"Pacar nyamuk!"
"Adik kerah! Kakak monyet! David sinting," umpat Vyra mencubit lengan David.
"Aisshh, sakit tulang,"
David selalu memanggil Vyra tulang. Kenapa? Karena sebanyak apa pun gadis itu makan, timbangannya tidak pernah naik.
♣
Rooftop sudah sepih, tak berpenghuni. Hanya terlihat satu sosok di sana.
"Meluluhkan hati Dini semudah ini? Bry? Kenapa dengan begonya lu jingkrak-jingkrak kayak orang kesetanan tadi? Itu cuma prank. Bahkan kenapa, desiran halus itu masih menyelimuti jantung lu? Ck.. Udah jatuh cinta yang keberapa, kali ini? Berulang," jawab Brylian atas pertanyaannya sendiri. Ia tersenyum miris. "Dan udah sakit hati berapa kali?" ia mendesah berat. "Lebih dari berulang kali,"
♣
"Bry? Udah mau berangkat?" tanya David yang melihat Brylian sudah sejak tadi berseragam kebanggaan Timnas Indonesia. "Gak tunggu ikut ulangan Biologi?" imbuhnya lagi.
"Udah ijin sama guru. Besok subuh harus berangkat dan masih banyak urusan. Gua pamit," bersamaan dengan perginya Brylian, Bagas dan Bagus pun menyusul.
"Hati-hati di jalan kalian bertiga," ingat David pada tiga sahabatnya itu.
Kelas menjadi hening. Hanya tinggal tiga siswa dan enam siswi, tentu yang lain masih di kantin.
"Batuuu!!" teriak Komang cukup keras setelah Brylian meninggalkan kelas.
"Nama gua Dini. Bukan Batu!" tajam Dini.
Komang mendekatinya, duduk di sebalahnya kemudian.
"Tadi itu cuma prank atau beneran? Gua liat, lu kek serius banget," Komang mengetuk-ngetuk dahinya seraya berpikir sebentar. "Lu gak beneran suka 'kan sama si Bry?"
"Ehh, gua sunat beneran 'tuh bibir lama-lama," ancam Dini.
"Hehe.." Komang menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Gua kalau gak seserius tadi, gak bakal dapat momen seru kek tadi. Senang tahu, Bry gua kerjai," Dini tersenyum geli mengingat wajah Brylian yang begitu sumringah lalu tiba-tiba murung.
"Din, kok lu jahat banget sama Bry?" Windi sudah duduk di ataa meja Dini. Begitu pula dengan Elsa. Beberapa siswi lainnya duduk mengelilinginya.
"Kak, kok gitu ama Bry?" pertanyaan yang sama pun dilontarkan Indah.
Karena aku menjaga perasaanmu, Dek. Batin Dini.
Ia tak harus menjawab pertanyaan teman-temannya. Baginya, itu tidak perlu. Toh, ia tidak pernah menunjukan bahwa ia menyukai Brylian. Naif jika ia membohongi hati bahwa ia tidak mencintai pria itu. Ia memang mencintai Brylian, tetapi tidak untuk mengungkapkannya. Akan ada hati yang tersakiti, Indah. Ia tidak mau membuat Indah sakit hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
ES dan BATU (TELAH TERBIT)
FanfictionSelepas mencintai, kau harus siap tersakiti. Selepas merindui, kau harus siap kehilangan. Selalu hidup dalam angan itu sakit. Sakit sebelum disakiti. Cek! Cek! Cek! JANGAN PLAGIAT! HARGAI KARYA ORANG🙏. CINTAI KARYA SENDIRI😊 A cover by @iqblnr23
