5.kehilangan.

399 51 6
                                        

"RA! LO CEPET KERUMAH SAKIT SEKARANG! JANGAN LAMA RA! POKONYA CEPETAN" aku mendengar suara kak Mark yang menangis tapi panik dari sebrang sana, kak Mark meneleponku.

aku bergegas dengan baju seadanya hanya memakai jaket saja, aku pakai motor matic kak Mark lalu ku tancapkan gas sekuat mungkin.

'asal ayah gak kenapa napa.'

sampai dirumah sakit, rupanya, aku telat. Harusnya aku tadi ikut kerumah sakit! harusnya aku menikmati waktu waktu terakhir sama ayah! aku nyesel! harusnya aku marahin kak Mark! bukan ayah!

"bunda,ayah dimana?!"aku melihat bunda di depan pintu ruangan, ruangan ayah mungkin?

aku menangis, menangis menyesal, anak macam apa aku? aku harusnya menerima semuanya, bukan menyentak ke ayah, ayah mengajarkanku yang terkadang akupun tidak mengerti.

aku kacau! aku harus bilang ke kak Haechan tentang ini. Aku gamau ngomong sama Kak Mark!

rupanya, kak Haechan sudah ngechat aku duluan.

kak Haechan☀️: turut berbela sungkawa ya Ra?
kak Haechan☀️: aku kerumah sakit Ra? atau kerumah duka aja?

tangisku pecah! pastinya kak Mark yang ngasih tau kak Haechan.

"bunda,kira kira ayah maafin aku ga? aku kan tadi udah marah marah sama ayah, ayah pasti kecewa sama sikapku  yang tadi."aku bilang ke Bunda, bunda masih menangis tapi terlihat ia menggelengkan kepalanya.

"engga sayang, kamu baca ini ya? ini dari ayah, khusus buat putri kesayangannya."bunda ngasih amplop berwarna biru.

aku membukanya dan,

'halo Bu calon arsitek, ini dari ayah,
kalo cita citamu sudah tercapai, kamu buat gedung yang tinggi ya? yang tinggiii sekali, supaya ayah bisa lihat dari atas sini, ayah selalu ngejagain kamu dari atas

kamu jangan nakal ya? kalo sudah punya calon, kenalkan ke ayah supaya ayah tau calon kamu.

dengar dengar kamu lagi Deket ya sama cowok? tapi ya gatau juga,hihi

ayah terlalu keras ya buat kamu?
demi calon arsitek juga sih ayah kayak gitu, semangat terus ya arana.

ayah sayang kamu, calon Bu arsitek.'

nangis, aku nangis baca surat dari ayah, aku langsung masuk ke ruangan ayah, aku lihat muka pucat ayah yang udah ditutup sama kain putih.

"ayah,makasih suratnya, surat ini gaakan aku hilangin sampai kapanpun, aku juga sayang sama ayah, aku bakalan ngebawa calon imamku ya yah? aku bakalan kenalin dia ke laki laki pertama yang aku temukan di dunia ini, itu ayah! aku pengen ayah bangun. Tapi mungkin itu hanya ilusi."aku menahan, aku menahan agar tangisku tidak pecah saat disisi ayah. Aku tidak lemah

"Ra? jangan nangis ya? perlu ke taman?"

"kak? kak Haechan ngapain disini? aku kan mintanya kak Haechan langsung ke rumah aja."itu kak Haechan.

"lagian, kalo dipikir pikir kan lama juga aku nunggu nya, ya mendingan kesini. Eh, ayo ke taman"aku hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.

"udah ya Ra? gausah nangis lagi, kan ada aku disini, kalo ada apa apa bilang aja, kalo mau nangis juga boleh kok."setelah sampai di taman kita duduk di bangku taman, lalu kak Haechan berkata seperti itu.

"hiks...kak, ayah kak, ayah."Sebenarnya aku tidak kuat untuk bicara saat ini, tapi kak Haechan mungkin harus tau perasaan ku.

"a-aku harusnya ga nyentak ayah, dan ga nyalahin ayah, harusnya yang aku salahin kak Mark, bukan ayah"

"kamu emang salah, salah besar, harusnya kamu nikmatin hari yang mungkin bakalan jadi hari terakhir ayah kamu di dunia ini."kak Haechan pun mengerti bahwa yang aku lakukan salah kan?

"k-kak, aku mau ketemu bunda dulu sebentar, mau ikut?"

"boleh."

lalu, kami berdua kembali ke ruangan ayah, aku lihat bunda sama kak Mark.

"bunda?"

"arana? ini siapa nak?"bunda menanyakan itu ketika melihat kak Haechan disampingku.

"em,temen bunda."aku merasakan kak Haechan menyenggol sedikit tanganku.

"bunda gapapa ya? gausah nangis lagi, kan ada aku sama kak Mark, bunda juga kalo ada masalah jangan dipendam sendiri, sakit tau, ya pokonya jangan terlalu larut dalam kesedihan ya Bun? Rana tau, itu memang susah, seenggaknya kan bunda masih punya aku dan kak Mark."aku mengatakan itu sambil duduk di lantai, bunda memang tidak berhenti menangis, ia sangat sedih pastinya.

"bangun ya,Ra. Duduk disini."ucapnya, lalu menepuk nepuk bangku kosong sebelahnya. Lalu, aku duduk disampingnya.

jangan tanya kak Haechan dimana,karna aku juga gatau, setelah ngomong begitu sama bunda kak Haechan pergi gatau kemana, cari makan mungkin.

"Ra, kamu adek terbaik yang gue punya, dan Lo, gaboleh dipegang sama orang yang gabener ya? inget kan kata ayah? cari imam yang memang seiman sama kamu."lagi lagi, tentang ini lagi yang aku dapat, tapi tak apa. Aku menerima.

"kakak juga kakak terbaik yang pernah aku punya!"aku langsung memeluk kak Mark, lalu aku tenggelamkan wajahku di dalam dekapannya.

lagi lagi aku menangis, aku menangis karna hari ini rasanya hari terburuk,aku rindu ayah, aku ingin ayah, aku ingin ayah yang aku peluk.

Dan, aku menangis deras di dekapan kak Mark, tidak peduli orang orang bagaimana melihatku.

tidak salah kan jika aku menangis seperti ini? aku rindu ayah,kawan.

"bunga yang lagi bagus bagusnya, akan dipetik duluan, laku disimpan ke vas bunga yang paling cantik, dan itu ayah, Ra."perkataan kak Mark, sudah sukses membawa aku ke puncak kesedihan.

"kak,Bun, ayo ke ayah."









'halo yah, akan aku tepati janjiku.
akan aku perkenalkan calon imamku,
akan aku perkenalkan pula dia padamu.
Entah, ayah setuju atau tidak.
jika aku sudah jadi arsitek.
akan ku buatkan gedung yang tinggi sekali. Setinggi langit, agar ayah bisa melihatnya.

jujur,aku rindu ayah, ketika semua teman mengejekku, ada ayah yang selalu memarahi mereka, kisah Sekolah Dasar yang rumit ya, yah?

ini dari aku, calon arsitek.'

religionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang