19.i don't like him.

245 35 15
                                        

akhirnya, karena udah gaada bangku yang kosong lagi, mau gamau aku duduk bareng sama kak haechan.

Dia nampak sendiri, enggak bareng ke enam temannya.

rasanya cangguuuungg banget, terlebih lagi, status kami berdua adalah 'mantan kekasih.'

"ekhem, kak, aku duluan ya, makasih."

"iya, sama sama."balasannya.

akhirnya, aku sama sanha pergi ke kelas, ngelewat kelasnya kak Haechan tuh kayak periih banget. Biasanya kan setiap hari selalu nangkring di depan kelasnya. Sekarang enggak.

"Ra!"karna ada yang memanggil aku sontak menoleh. Kak Mark rupanya.

"bentar ya san, aku kesana dulu, kalau mau duluan, duluan aja."kataku

"ada apa kak? tumben manggil."kataku

"pulang bareng renjun ya?"katanya, aku cepat menggelengkan kepala.

"udah berapa kali kak aku bilang kalau aku gamau di deketin gini sama kak renjun! udah sih kak, cukup,—"

"—aku engga mau sama dia....."

"t–tapi kan Ra, mau hubungan Lo dan dia sampe langit ke tujuh pun hubungan kalian ga akan pernah direstuin..."kata kak Mark.

"kalau dia mengorbankan agamanya demi aku? masih melarang kah?"

"tergantung."ucapnya.

"pokoknya, aku gak mau pulang bareng kak renjun, assalamualaikum."

"w–waalaikumsalam."




aku jalan ke kelas dengan keadaan nangis, tapi aku halangi wajahku dengan tangan. Supaya gak terlalu nampak.

aku gasuka di kekang kayak gini kalau kalian mau tahu.

"Ra? kenapa? kok nangis? mau cerita?" aku dan kak Haechan ber pas pas an ditangga, sial.

"engga kak gapapa, duluan ya."kataku terus berjalan lagi.






bisakah aku egois kali ini? aku terlalu munafik jika mengatakan aku tidak butuh kak Haechan saat ini. Aku rindu gerejaku yang mengkhawatirkan aku jika aku menangis. Aku rindu itu.

"lah Ra? lo gapapa? kok nangis?"kata sanha

"san, a–aku gamau terus dikekang kayak gini, capek."

"yaampun Ra, udah udah, nanti lo bisa sakit kalo kayak gini terus, udah ya?"kata sanha yang mencoba menenagkanku.

"i–iya, makasih san."kataku, terus dibalas anggukan oleh sang empu.

pelajaran sejarah, pelajaran paling mebosankan sepanjang hidup. Pelajaran sejarah kali ini ngeboseninnya bukan main sumpah:(

setelah melewati lika-liku pelajaran sejarah, akhirnya pulang juga.

aku berusaha keras buat ngehindar dari kak mark, aku yakin kalian tahu maksudku apa.

dan aku, nebeng mobilnya sanha, untungnya, rumah kami searah. Jadi, ya enakin aja hehe.

"makasih ya san tebengannya, mau masuk dulu ga?"kataku.

"emang boleh Ra? orang tua gue juga lagi pergi, sendirian deh dirumah."kata sanha denga raut muka sedih.

"ya boleh lah, nginep juga gapapa"kataku

"hah? seriusan? wah wah wah, gila."kata dia.

"apaan si, kenal dari jaman SMP aja belaganya kayak baru kenalan tadi."

"hehe, tapi gue gabawa baju ganti, buku pelajaran, dan baju seragam buat besok."kata dia

"dih kok tiba tiba bego, ya ambil dulu ke rumah dong san."kataku, terus dia cuman cengengesan.

"okey, ntar gue kesini lagi yak, jangan dikunci pintunya, nanti kan bakalan ada bidadari yang masuk."kata dia

"ada ada aja, ati ati dijalan."

"OKEEY"



























"kak renjun ngapain dirumah?"aku kaget, kak renjun kenapa ada dirumah?

"loh udah pulang ya Ra? tadi di cariin loh sama aku, tapi kata temen kamu kamu udah pulang duluan, jadi aku langsung ke rumah kamu deh."katanya

ah, aku males banget! aku gasuka dia.
Aku cuman pengen hubungan kita sebatas Kaka kelas - Ade kelas, ga lebih.

"oh, aku ke atas dulu."kataku


tok..tok..tok..

"masuk aja, gak dikunci."

"Ara..."

"eh? bunda? kenapa Bun? tumben?"kataku.

"nanti temenin bunda yuk!"kata bunda

"kemana Bun?"

"makam ayah...."kata bunda. Aku sempat kaget

"makam—ayah?"kataku.

"iya,"

"oh iya Bun, nanti sanha mau nginap disini, orang tuanya lagi gak ada di rumah, Kan kasihan kalau sendiri, gak ada temen."

"iya gapapa, kalau sanha mau ikut, ajak aja."kata bunda, lalu aku balas anggukan kecil.








you got me feeling like psycho psycho—

"raa, gue di depan rumah Lo nih!"

"okey, tunggu bentar."

"cepetan ya nyet."

"santai."

"halo Ra, tuan putri boleh masuk gak?"kata dia

"gak boleh, tuan putri kayak kamu pantesnya di got san."kataku, terus kami berdua tertawa terbahak bahak.
















"loh, kak renjun ngapain disini?"






















religionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang