"3 bulan ga makan nasi perutnya kenyang kak?"kataku, terus dibalas cengiran sama kak Mark
"Ra, nih makanannya, maaf lama tadi antriannya lumayan panjang." kak Haechan masuk dengan kantong plastik di tangannya.
"gapapa kak, makasih yaaa"
"udah bangun Lo Mark? gue kira mati."kata kak haechan
"kurang ajar ya lo! gaakan gue restuin lo sama Arana."kata kak mark, terus gue cuman ketawa ketawa gajelas kayak orang gila.
"jangan dong kak markkkkk"kata kak haechan diiringi dengan muka konyolnya.
"Ra, tadi pas gue baru sadar Lo cerita apaan sih? kok ada masjid gereja berdiri berhadapan, ada apaan?"kata kak Mark terus natep serius aku.
"gaada."
"gaada gimana sih? orang jelas jelas gue denger seakan akan Lo lagi pacaran tapi sama yang beda agama."kata kak Mark.
'kak Mark benar kok, aku lagi ngejalanin hubungan yang setiap harinya mungkin selalu melibatkan tuhan, entah tuhanku, atau tuhannya.'
"ya emang gaada. Salah denger kali kak Mark."kataku, terus ngebuka bungkus makanan yang tadi dibawa sama kak Haechan.
"iya Mark, Lo salah denger kali. Mana ada, Ngada Ngada."kata kak haechan.
"mungkin? udah lah ya, lupain aja."
'aku belum siap untuk cerita ini ke kak Mark. Rasanya, takut, bener bener takut. apa yang bakalan terjadi nantinya kalau kak Mark sampe tau.'
***
-kak Haechan udah pulang tadi, sekitar habis Maghrib, karna besok hari Sabtu, aku mutusin buat nginep aja di rumah sakit, nemenin kak Mark. Kan kasian juga kalau sendiri gaada temen.
"Ra, gue mau cerita."kak Mark tiba tiba ngebuka pembicaraan
"iya boleh, insyaallah aku dengerin."
"jadi gini, pas koma kemaren gue mimpi Ra."katanya.
"iya, terus?"
"gue masih inget banget namanya."kata kak Mark
"terus? namanya siapa?"
"yerim Rebecca Anzeli."kata dia, asing nama itu buat aku, karna ga pernah denger tuh nama itu.
"dia cantik banget Ra, beneran. Tapi, sayang,-"kak Mark memotong ucapannya.
"-kayaknya tuhanku sama tuhannya ga sama."kak Mark melanjutkan.
deg.
jangankan kak Mark, aku saja bingung.
Harus dilanjutkan atau tidak hubungan ini. Hubungan yang setiap harinya selalu melibatkan tuhan, dan agama masing masing.
gerejanya dan masjidku mungkin memang tidak mungkin bisa bersatu.
aku mungkin bisa menerima keputusan kak Haechan nanti, gimana pun keputusannya aku harus bisa Nerima.
aku ga bisa kan kalau menentang keputusan kak haechan? toh aku juga yang melarang kak Haechan menduakan Tuhannya demi aku.
aku gamungkin juga melarang dia bertemu calon istrinya kelak, aku masih sadar diri.
"Ra? dengerin gue gak sih?"ucapan kak Mark seketika membuyarkan lamunan gue.
"denger kok denger, lanjutin kak."
"nah terus, selama itu, gue tuh selalu sama dia Ra, kayak, gue jarang ketemu cewek kayak dia."
"sampe akhirnya, gue ketemu satu cewek, lagi."
"dia ngebawa gue kesuatu bukit, dan akhirnya, gue sadar setelah itu."
"cantik?"
"cantik, dia juga pake jilbab."kata kak Mark.
"-sayangnya, gue gatau namanya karna ga sempet kenalan. Disana gue cuman tau cewek yang beda sama gue. Itu doang."kata kak Mark ngelanjutin.
"rasanya ngejalin hubungan beda keyakinan tuh gimana ya rasanya? Atau kalau misalnya gue ketemu sama cewek yang ada di mimpi gue di kehidupan nyata, kira kira dia kenal gue gak?"kata kak Mark
"menurut aku susah sih kak kalau misalnya kita ngejalin hubungan yang beda keyakinan. Karna, belum tentu kan keluarga dia Nerima kita? kita yang ga se-iman sama mereka. Kita kan emang bisa sama sama se-amin, tapi apa mungkin kita bisa buat se-iman? enggak juga kan?"
"tau amat si, kayak yang lagi ngejalin aja lo."kata kak Mark.
'emang kak, ini lagi ngejalin.'
"apaan sih, enggak kali. Gaenak kalo beda keyakinan, gabisa diajak berdoa bareng di masjid."kataku, terus di 'iya' kan sama kak Mark.
"lo pernah berdoa bareng sama haechan?"
'gimana mau berdoa bareng, rumah ibadah aja udah beda.'
"belom, mungkin nanti."
KAMU SEDANG MEMBACA
religion
Fanfiction[SLOW UPDATE] "hei,kita ini dipertemukan dengan cara yang beda sama tuhan." "kamu ga bosen ngejalin hubungan yang setiap harinya melibatkan tuhan?"
