13.should i tell?

263 43 3
                                        

—arana POV.







aku tahu, sebagian orang pasti ngira kalau.

'gampang, tinggal kamu atau dia aja yang berkorban ninggalin agamanya.'

tapi, kami berdua, mencintai Tuhan kami masing masing, dia mencintai Tuhannya, dan aku mencintai Tuhanku.

Kita harus mengorbankan keyakinan yang sudah kita pelajari dari kecil, hanya karna hubungan percintaan?
apa jadinya kalau nanti kami ternyata bukan jodoh?

dari pada menyesal di kemudian hari bukan?

–sebuah harapan memang ada, perempuan mana yang tidak berharap lelakinya pindah ke keyakinannya?

tapi, aku tidak segois itu, aku masih mengerti sebagaimana dia mencintai Tuhan dan keluarganya. Aku tidak bisa memaksa kehendak jika memang kak Haechan bukan jodohku.

***

"RA! TURUN LO KEBAWAH SEKARANG!"setelah pulang dari toko buku tadi, kak Mark kelihatan marah sekali. Sampai akhirnya, dia ngegedor gedor pintu kamar. Aneh.

"iya, sebentar!"aku turun kebawah untuk ketemu kak Mark.

ada bunda dan ada kak Mark, ingat seperti bagaimana waktu ayah mengumpulkan kami.

aku duduk di sofa, depan ku sudah ada kak Mark yang duduk sama Bunda.

"RA? LO GA NGOMONG KALAU AECHAN SEBENERNYA GA SEIMAN SAMA LO?!"

"LO MALAHAN NUTUPIN INI SEMUA DAN SEOLAH OLAH LO GA TAU APA APA?!"

"SETIAP GUE TANYA, LO UDAH PERNAH SALAT BARENG HAECHAN, LO PASTI JAWAB BELUM, KAPAN KAPAN."

"DAN LO NGECEWAIN GUE! DAN AYAH!"

"JAWAB GUE ARANA! SEBEGO BEGONYA GUE, GUE GAAKAN MILIH PEREMPUAN YANG GA SEIMAN SAMA GUE!"

"Mark, duduk dulu, kita dengerin penjelasannya Arana dulu ya?"bunda angkat bicara.

aku hanya bisa nunduk, menahan banyak gumpalan air mata yang sebenarnya, aku mengedipkan mata sedikit saja sudah turun dengan deras gumpalan air itu.

kenapa bisa tau?

"e-engga g-gitu kak,"aku mulai bicara, tapi aku tidak kuat.

"LO BETAH YA, NGEJALIN HUBUNGAN YANG TIAP HARINYA NGELIBATIN TUHAN?"

"DOSA! LO TAU?"

"a-aku sama kak Haechan saling toleransi kok, y-ya d-dia dengan agama dan Tuhannya, dan a-aku agamanya dengan Tuhanku."

"ITU SALAH BESAR RA! LO TAU ITU GAK SIH?!"

"t-tau kak, hiks."

"LO UDAH BESAR RA! AYAH SAMA BUNDA JUGA NGAJARIN YANG BENER KE LO!"

"bunda, bunda liat kan? ternyata ajaran bunda ke Arana, gaada yang nerap sama sekali."kak Mark ngomong ke bunda.

bunda cuman senyum, bunda orang yang hangat. Aku tahu itu.

"kenapa harus ditutupin, Ara? bunda mau tau."bunda sekarang bertanya

"y-ya aku gamau kalau kalian tahu kak Haechan ga seiman sama aku, kalian malah membuat aku, dan dia menjadi jauh–"

"Kalo Lo udah tau akibatnya, kenapa Lo masih lakuin Arana?!"belum sempat meneruskan kalimat tadi, ucapanku sudah dipotong sama kak Mark.

"udah lah, bunda Mark pergi dulu, Mark cape kalo terus terus an marahin dia, ga akan dia terapin ini."kak Mark ngambil jaket.

aku langsung menghalangi pintu rumah untuk nyegat kak Mark

"minggir."nada kak Mark sudah dingin.

"kak, aku mohon, maafin aku, aku tahu aku sal–"

"bawa Haechan kesini, gue mau ketemu dia. selepas Maghrib, dia harus udah disini."setelah itu kak Mark pergi, dia jalan kali, kan tangannya masih di perban. Gamungkin bawa motor sendiri.

"ngapain sih?"gumamku.

aku langsung pergi ke kamar, duduk di belakang pintu. Rasanya berat banget, aku tahu betul gimana resiko yang aku hadapi untuk memiliki hubungan dengan lelaki yang berbeda keyakinan.

"berat banget sih. Kenapa jadi kayak gini?"

religionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang