Xavier sama sekali tidak merasakan kantuk meski waktu telah bergulir menuju tengah malam. Pria tampan diusia yang tidak lagi muda itu tersenyum pada seorang petugas keamanan di apartemennya sambil sedikit melambaikan tangan.
Derap langkah sepatu yang bertabrakan dengan lantai cukup membuat beberapa orang menoleh pada sumber suara. Mata mereka terus memperhatikan sosok rupawan tersebut. Yang diperhatikan justru nampak tak peduli dan terus berjalan menuju lift.
Xavier memencet angka 12 pada tombol lantai. Pintu lift segera tertutup begitu menerima instruksi darinya. Sesekali Xavier harus berjubel dengan beberapa penghuni apartemen yang lain dalam lift.
Begitu pintu lift terbuka dilantai 12, Xavier meninggalkan lift tanpa berbasa-basi dengan penghuni lainnya. Dia memang tidak mengenal siapapun dan tidak ingin mengenal siapapun dilingkungannya.
Lorong lantai 12 cukup sepi. Xavier sengaja memilih kamar dilantai ini. Cukup longgar dan sepi dari keriuhan penghuni lainnya. Setelah tiba didepan pintu kamarnya, Xavier menekan password. Tak lama kemudian dia mendorong pintu apartemennya.
Begitu sampai didalam apartemennya, Xavier melonggarkan ikatan dasi yang melingkar dilehernya serta duduk disofa kesukaannya. Sofa yang ditempatinya langsung menghadap langit malam Kota Chicago yang dipenuhi bintang-bintang. Xavier menikmati kesendirian dan ketenangannya.
Sebenarnya Xavier memiliki sebuah mansion mewah yang terletak disisi kota. Namun hari ini Xavier enggan melangkahkan kakinya pulang ke mansion.
Begitu dirasa sudah cukup, Xavier menuju ke kamar mandi setelah melepaskan setelan mahalnya dikotak cucian. Diambilnya sebuah sikat gigi dan dia pun menggosok giginya.
Xavier memandangi wajahnya cukup lama. Terdapat banyak kerutan yang mulai muncul seiring dengan pertambahan usianya. Dia lupa kapan pertama kali kerutan diwajahnya muncul.
Tapi Xavier nampak tidak peduli dengan jumlah kerutannya. Dia tidak peduli dengan pertambahan usianya yang akan mencapai angka 40 beberapa tahun lagi.
Xavier telah memiliki rancangan hidup yang membuatnya tidak perlu untuk menikah. Dia memiliki seorang keponakan laki-laki dari kakak laki-laki tertuanya. Kelak dia akan menitipkan seluruh bisnis keluarga ditangan Nicholas. Dia cukup yakin bahwa keponakannya mampu mengurus Winston Corp sebaik dirinya. Kemudian menghabiskan masa tuanya di panti jompo bersama orang-orang yang juga tidak memiliki keluarga.
See? Tidak perlu ada pernikahan. Batin Xavier.
Xavier enggan berkomitmen dengan wanita. Wanita terlalu rumit dan merepotkan. Waktunya akan habis hanya untuk memperhatikan mereka sementara waktunya lebih berharga untuk mengurus Winston Corp.
Tidak ada komitmen. Tidak ada istri. Xavier tidak memerlukan keduanya. Walaupun begitu Xavier juga pria biasa. Dia membutuhkan pelampiasan hasratnya. Beberapa wanita dengan sukarela memberikan tubuhnya tanpa komitmen. Mereka selalu terpesona pada kerupanan Xavier.
Guyuran air pada kran shower cukup menghangatkan tubuh atletisnya. Xavier sering menggunakan air hangat untuk menyeka tubuhnya tatkala malam menjelang. Dia butuh istirahat yang cukup nyenyak untuk kembali bekerja keesokan paginya. Air hangat dirasa mampu sebagai penghantar tidur yang baik.
Bel pintu berbunyi bersamaan dengan selesainya ritual mandi Xavier. Xavier mengeritkan keningnya perihal siapa tamu malam-malam begini mengingat dia tidak memiliki janji dengan siapapun. Xavier mengintip dari balik celah kecil di pintunya. Begitu tahu siapa tamunya, Xavier membuka pintu apartemennya.
Seorang wanita luar biasa cantik dan sexy menatap Xavier sensual. Apalagi ketika melihat Xavier hanya menggunakan handuk pada pinggangnya.
"Ada apa, Miranda?" tanya Xavier datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MagicaLove
RomanceBagaimana jadinya jika setiap kata umpatan yang timbul dari kemarahan hati selalu menjadi kenyataan? Samantha Clark, gadis muda yang ceria namun menyimpan kepedihan yang ditutupi dalam-dalam menjadi satu dari salah satu manusia yang beruntung mendap...
