Chapter 3
Lucy's P.O.V
Di bawah teriknya senja, kupandang lagi sosok itu. Aku belum sempat berkenalan atau bahkan tahu namanya. Yang kutahu, dia sangat hebat dalam anggar. Pergerakan tangannya sangat cepat seakan-akan tak terlihat. Melihatnya berlatih setiap sore sudah mulai menjadi kebiasaanku belakangan ini, hingga Damien menghampiriku untuk pulang bersama.
Dalam perjalanan, aku melamun, terus memikirkan orang tersebut. Damien menegurku sesekali, tapi aku tidak menjawab. Aku tahu dia tidak menyukainya, entah dengan alasan apa. Terlihat jelas dari ukiran wajahnya saat pertama kali kubertanya. Dari caranya menjawab juga menggambarkan ketidak tarikannya terhadap sosok itu.
"Kamu masih penasaran tentangnya?"
Gelembung-gelembung lamunanku diletuskan pertanyaannya. "Ya...iya sih. Tapi gak apa-apa kalau kamu keberatan cerita." Ujarku. Semoga saja perkataanku tidak menyakiti perasaannya.
Dia menghela nafas, "namanya Jamie, Jamie Andrew. Aku mengenalnya saat aku masih kecil. Dia dulu tinggal di dekat rumahku dan kami sering bermain bersama teman-temanku yang lain. Kedengarannya memang menyenangkan, tapi...aku memiliki kenangan pahit dengannya."
Lidahku terpantik setelah mendengar kalimat terakhirnya. "Oh, ayolah. Itu sudah lama sekali! Lebih baik kalau kalian baikan, biar aku yang bantu."
Dia tersenyum. "Terima kasih Lucy, tapi bukan itu masalahnya. Sebenarnya sudah lama kami baikan, tapi entahlah...sampai sekarang dia masih menjauhiku."
Aku mengangguk-angguk. Dan tepat saat itu, kita berada di persimpangan jalan yang akan memisahkan kita.
"Makasih ya, sudah mau cerita. Sampai ketemu besok"
"Ya. Terima kasih juga, sudah mau mendengarkan."
Aku memutar badan, menghadap jalan yang kutuju dan mulai melangkah. Rasanya masih ada satu hal yang ingin kukatakan...oh, iya!
Aku mengembalikan hadapanku dan menyahut namanya, "Damien! Lain kali main ke tempatku, ya!"
Dia menoleh, "Ba-baik!"
Aku terkekeh sendiri, terlihat dari jauh wajahnya yang memerah. Oh, aku merasa begitu jahat melakukannya, tapi itu sangat menyenangkan.
***
Di lapangan latihan kelasku, kuangkat pedangku seraya memantapkan posisi kuda-kudaku. Dan, sepersekian detik berlalu, pedang lawanku sudah berayun ke arahku. Dengan gesit, aku berhasil menangkis serangannya. Dia tidak berhenti disitu. Terus menerus dia menyerangku tanpa memberikanku peluang untuk menyerang balik. Semua yang menyaksikanku bersorak-sorai serta bertepuk tangan. Katanya, hanya segelintir orang yang dapat bertahan selama ini melawannya. Dialah teman dekatku selain Damien, Sarah.
Gerakannya gesit dan akurat, bahkan hampir menyaingi Damien. Namun, siapa yang dapat mengalahkan anak itu? Belum ada sejarahnya Damien dikalahkan oleh siapapun yang satu kelas dengannya.
CTASS!! Sekali lagi suara besi berbentur kencang. Pedangku bergetar karenanya. Cukup sudah, aku tidak kuat lagi.
"Berhenti!" sahut guru pengawas. Oh, sungguh sebuah kebetulan.
Aku memasukkan pedangku kembali ke sarungnya. Sarah mengulurkan tangannya seraya menanyakan keadaanku.
"Tidak, aku baik-baik saja." Ujarku seraya menjabat tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dream
Fantasy(Remake dari yang pertama) Menjadi seorang jendral kesatria kerajaan tingkat pertama sudah lama menjadi impian seorang Damien Victor. Dengan kegigihan dan kebulatan tekad, dia berlatih demi berhasil lulus di Knight's Academy. Tempat pendidikan palin...
