Joo Heon dengan model alis splitnya, mengenakan turtle neck berwarna hitam. Duduk di hadapan Adria yang tengah membaca tulisan di lembaran - lembaran kertas dengan seksama. Pria itu tak henti - hentinya mengetukkan jemari di punggung sofa. Daritadi Adria sama sekali tidak mengeluarkan suara dan Joo Heon benci sekali hal itu.
"Kenapa kau gelisah sekali sih Joo?" Adria terkekeh, satu berkas sudah selesai ia baca dan tanda tangani.
"Noona. Kau yakin akan hal ini? Kau sudah membangun Instyle Out sekian lama dan sukses lho" Joo Heon beralih ke samping Adria.
"I am tired, brother" balas Adria memeriksa lembaran lain.
"Just take a break then" balas Joo Heon.
"Just a break is not enough. Hey, lagipula kita sudah mengadakan rapat pemegang saham kan minggu lalu dan mereka setuju" Adria menyelesaikan pekerjaannya 10 menit kemudian.
"Why you never think twice?" Joo Heon memasang wajah sulkynya.
"I never think twice. I do thousands" Adria merangkul Joo Heon. Pria itu sangat membenci cara Adria mengatakan suatu kebenaran. Ya, Adria tidak pernah berpikir dua kali. Tapi, ribuan kali.
"Noona. Kau tahu kan aku menyayangimu?" Joo Heon menatap noonanya.
"Tentu saja aku tahu. Aku juga menyayangimu Joo" Adria mengusap surai hitam milik Joo Heon.
"Aku ingin menemanimu. Kemanapun kau pergi" balas Joo Heon lagi.
"Kau yakin akan meninggalkan Chang Kyun hanya demi aku?" Pertanyaan Adria barusan membuat Joo Heon berjengit. Sangat sensitif.
"Apa urusannya dengan Chang Kyun?" Joo Heon mengelak.
"Ini seperti lagu lama yang hampir rusak karena terus di putar berkali - kali. Kau dan Chang Kyun saling menyukai. Entah apa yang membuat kalian pura - pura tidak mempunyai perasaan itu. Stigma masyarakatkah yang kalian takutkan? For real? Why you have to care about that? They don't feed you, they don't raise you with their money" Adria menatap Joo Heon dengan ekspresi mencemooh.
"Aku menyukainya. Hanya saja, aku.. Argh, molla!" Gerutu Joo Heon.
"Kalian bisa memulai hidup baru seperti Won Ho dan Hyung Won. Bahkan kini mereka mempunyai putra. Lucu sekali. Lihat" Adria menunjukkan fotonya ketika menggendong Aaron. Joo Heon mengambil alih handphone Adria, menswipe layar untuk melihat foto - foto lainnya. Ia terhenti pada suatu foto di mana pria bernama Won Ho itu tengah mengecup pipi suaminya yaitu Hyung Won yang merasa geli hingga kedua matanya tertutup. Tapi, tetap tersenyum sembari menggendong sang bayi di tangan kirinya.
Joo Heon mempunyai keinginan kecil dalam hatinya untuk mempunyai keluarga bahagia seperti itu. Kemudian mempunyai anak via surrogate. Sama seperti yang Won Ho dan Hyung Won alias kedua hyungnya lakukan. Hanya saja ia tidak yakin akan ada orang yang menerimanya dengan keadaan seperti itu.
Yang paling penting adalah ia tidak tahu apakah Chang Kyun juga merasakan hal yang sama dengannya atau tidak. Bagaimana kalau ternyata Chang Kyun itu straight? Perasaannya akan bertepuk sebelah tangan kan? Memikirkannya saja membuat Joo Heon putus asa.
"Hey. Matthew Dean Taylor" Adria memanggil nama barat Joo Heon, tangan lentiknya menyentuh dagu sang adik.
"Aku di sini bukan untuk menceramahi mengenai cinta. Kau yang merasa, kau yang mencinta, kau yang menjalani. Setiap tahapannya membutuhkan keberanian. Kau sudah sampai tahap kedua. Bayangkan seberapa banyak keberanian yang sudah kau kumpulkan. Mungkin dengan sedikit motivasi, kau akan punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanmu padanya" Adria merangkul Joo Heon.
"Motivasi apa?" tanya Joo Heon melunak, menyandarkan kepalanya ke bahu Adria.
"Bagaimana kalau mobil baru. Porsche? Ah, aku tidak pandai mengingat nama - nama mobil. Kau tinggal bilang saja padaku dik" balas Adria membuat Joo Heon tertawa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kintsugi
FanfictionAdria Taylor : "You just know my name. Not, my story. Even my future. So, shut the f*ck up!" Lee Min Hyuk : "Tuhan, tolong beri aku kesabaran ekstra menghadapi wanita jelmaan Dewi Hera ini. Rasanya ingin aku membuangnya ke Tartarus saja" Im Chang Ky...