Selesai pembagian kartu UAS semua anak berkumpul di Halaman upacara untuk mendengarkan motivasi dan pengarahan dari kepsek. Semua dewan guru berbaris di samping mimbar tak tertinggal Suami dan Ayah Ardiyan. Saat ditengah ceramah kepsek, Ardiyan mulai merasa pusing. Tak lama "Gubraak" Ardiyan terjatuh pingsan tanpa berpikir sontak Hadi lari dan membopong sang istri pemandangan itu menbuat semua yang menyaksikan tampak bergosip ria dan gaduh.
"Tolong ambilkan minyak kayu putih bu." Minta Hadi ke Bu Sajid yang kebetulan piket menjaga UKS.
"Dek bangun dek... Dek... Sayang.. Ayo bangun."
Ardiyan mulai sadar membuka matanya. Dia terkejut melihat Hadi dan bu Sajid. Tak lama disusul sang Ayah Mujiyono.
"Kenapa dia? Apa perlu kita bawa kedokter?" Tanya Mujiyono khawatir.
"Tidak ada apa - apa pak sepertinya Ardiyan hanya lelah dan kurang makan." Sahut bu Sajid.
"Baiklah, saya akan mengambil kotak nasi dimeja saya. Nanti kamu makan ya dek." Hadi seolah tak canggung berbicara mesra di hadapan Bu Sajid yang merupakan kawan kerjanya.
Setelah mengambil kotak nasi jatah guru di ruangan, Hadi kembali untuk menyuapi istrinya. Dengan lembut dan perhatian Hadi menyuapi Ardiyan, saat sedang asyik makan. Tiba - tiba muncul Ketiga sahabat Ardiyan. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Eh, maaf pak Hadi mengganggu." Ujar Azizah gugup.
"Iya tidak apa, saya hanya membantunya makan saja. Jangan berpikir yang tidak - tidak." Hadi meletakan kotak nasinya dan melenggang pergi.
"Wedyaann.. Kok tambah mesra aja Say. " Goda Putri.
"gitu mesra? Dia cuma membantuku makan ga lebih." Ardiyan menjawab sembari bersandar.
"Ayo lanjut makan. Aku suapi meskipun tak senikmat saat disuapi si Om. Hehehe." Ucap Febi menyuapinya dengan pandangan menggoda.
Sesampainya diruang guru Pak Hadi di goda oleh bu Sajid, Bu Murni, dan pak Santoso.
"Waduh yang siaga bener sama calonnya." Goda bu Murni.
"Iya bu, tadi saja di UKS di suapi loh makannya manggilnya juga adek sayang. Hehehe" Bu Sajid tertawa pelan.
"Buruan di Halalkan saja pak Hadi ndak baik lama - lama." Kini pak Santoso mulai bernada serius.
"Hehehe. Di tunggu saja pak." Jawab Hadi dengan tertawa.
Saat perjalanan pulang Ardiyan sengaja diam karena kesal dengan Hadi yang mulai berani menunjukan kemesraan mereka. Selesai mandi Hadi mengajak Ardiyan sholat maghrib.
"Yuk, sholat dek. Dari semalam kita belom sholat berjamaah." Hadi duduk tepat di muka ranjang dekat Ardiyan rebahan.
"Adek halangan mas." Jawab Ardiyan memainkan ponselnya.
Selesai sholat maghrib Hadi rebahan di sebelah Ardiyan. Hadi memberanikan diri memeluk Ardiyan. Namun istrinya hanya meresponnya dingin.
"Kamu marah sama Mas dek?"
"Adek ga marah, hanya merasa kesal saja. Kita sekarang menjadi bahan Gosip di sekolah." Ardiyan meletakan ponselnya.
"Iya sudah nanti Mas yang urus semuanya. Mas janji akan menjaga jarak supaya kita terhindar dari Gosip. Apabila perlu kita berangkat kesekolah sendiri saja." Hadi menenangkan Ardiyan.
"Mas, jangan gitu dong. Seolah adek yang salah. Gak usah segitunya. Kalau memang nanti ada masalah disekolah. Kita tanggung bersama." Ardiyan memeluk erat Hadi.
Hadi yang tersenyum membalas erat pelukan sang istri. Tak terasa mereka tertidur dengan berpelukan.
#Yuk, baca sampai habis. Biar baper😋😁
#Like, coment, dan bagikan yak gaes. Biar mimin bahagia😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher Matematic Imamku
Teen FictionPernikahan semasa SMA memang jarang terjadi di sekitar kita. Bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Hal itu pula yang di fikirkan oleh Ardiyanti. Namun opini itu berubah ketika dirinya masuk ke kehidupan pernikahan dengan Guru SMAnya. Awas Hati...
