Setelah memutuskan melanjutkan study di Universitas swasta di kota. Ardiyanti resmi menyadang S1 Teknik Informatika setelah ia berhasil mempersingkat kuliahnya hanya 3 tahun. Selama itu pula ia tak pernah pulang kerumah karena aktivitas yang padat. Senin pagi itu merupakan hari wisudanya. Mujiyono dan Tristiana memeluk sang putri saat menemuinya.
"Loh, mas Hadi mana bun?" tanya Ardiyanti.
"Dia tidak bisa datang, kebetluan hari ini adalah Ujian sekolah. Dia mendapat tanggung jawab sebagai operator komputer." Tristiana berusaha menghibur sang putri.
"Ahh, ini tak adil bun. Kenapa dia tak menyaksikan aku memakai toga ini." Ardiyan tampak bersedih.
Setelah sampai di rumah Ardiyan yang kecewa langsung masuk kekamar tanpa menghiraukan mertuanya yang datang untuk mengucapkan selamat.
"Maafkan Ardiyan ya Bu, dia kesal karena Hadi tak bisa datang." Ucap Tristiana.
"Tidak apa bu, saya paham. Hadi juga yang sekarang tambah sibuk." Ucap bu Ambarwati.
"Iya Hadi memang sibuk soalnya dia akan menggantikan saya menjadi wakil kepsek setelah saya pensiun 6 bulan lagi." ujar Mujiyono.
"Itulah resiko Hadi pak, Nanti biar Hadi yang meminta maaf pada Ardiyanti." Kini Bripka Hermanto mengertukan dahinya.
Baru selesai dibicarakan suara motor maestro hadi terdengar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." mereka berempat kompak menjawab.
" loh, Ardiyan mana bunda?" Tanya Hadi.
"Ada dikamar susul saja sana."
Hadi menganggukan kepalanya.
Pintu kamar terbuka tetapi Hadi tak menemukan Ardiyan disana. Ternyata Ardiyan berada di halaman belakang rumahnya.
"Kamu ngapain kok duduk termenung disini?" Hadi duduk disamping Ardiyan.
"Kamu jahat, terlalu sibuk hingga melupakanku. Apa kamu sengaja balas dendam karena aku meninggalkanmu 3 tahun?" Ardiyan berkaca - kaca.
"Tidak sayang. Lagi pula kamu sudah berusaha menyelesaikan studymu lebih awal kan?" Hadi mengusap rambut istrinya.
"Lalu? Kenapa tidak datang."
"Maaf sayang. Aku sibuk karena harus menjadi operator komputer Ujian Sekolah." Hadi menjewer telinganya meminta maaf.
"iya sudah, aku memaafkan mu tapi dengan syarat. Malam ini kita makan berdua dan menginap di hotel luar." Ardiyan melingkarkan senyum dipipinya.
"Siapp tuan." Hadi bangkit dari tempat duduknya.
Malam harinya Hadi mengajak Ardiyan menginap di Hotel tepi pantai. Disana suasananya sangat romantis. Seusai mereka menikmati makan malam yang disediakan pihak Hotel. Mereka berdua memasuki kamar mereka, Kamar itu bernuansa jawa klasik dihiasi mawar merah.
"Kok malah horor yak. Hehehe." Ardiyan nyengir sembari memeluk tubuh tinggi Hadi.
"Kalau takut peluk mas aja terus." Hadi tersenyum nakal.
"Hidih, enakan dikamu." Ardiyan merebahkan tubuhnya diatas ranjang romantis mereka.
"Hehehe. Sama - sama enak. Kamu apa gak kangen sama Mas?" Hadi memeluk Ardiyan di ranjang romantis mereka.
Hadi mendekatkan Wajahnya dia mencium sang istri mulai dari kening hingga bibirnya. Dan malam itu menjadi malam terindah untuk mereka ditambah suara debur ombak dan angin pantai yang menembus jendela kamar mereka.
Maaf jika ada typo dan ceritanya gak menarik ya🙏🙏
Mimin baru belajar nulis nih. Bantuin like, coment, dan bagikan yak😘😍
Nambah pahala bantuin mimin yuk😋😋
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher Matematic Imamku
Teen FictionPernikahan semasa SMA memang jarang terjadi di sekitar kita. Bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Hal itu pula yang di fikirkan oleh Ardiyanti. Namun opini itu berubah ketika dirinya masuk ke kehidupan pernikahan dengan Guru SMAnya. Awas Hati...
