12 : Nostalgia

2.2K 176 81
                                        

Alohaloo... ii kambek lagi di cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya yaaa... turnuhun 😊😊😊😘😘😘

🐳HappyReadingGengs🐳

Gue menuangkan susu cair pada dua mangkuk yang berisi sereal rasa cokelat sambil bersenandung ria. Mangkuk di depan gue ada dua, satu buat gue dan satu lagi buat suami Tutup Panci gue. Sesendok sereal tambah susu cocok buat membuka percakapan.

Sejak pulang dari alun-alun tadi suami tutup panci gue jadi gak banyak omong. Tapi ya bukan dalam artian bener-bener diem kaya orang sakit gigi, bukan. Cuma ya... gimana ya? Pokoknya ada yang beda aja. Makanya gue mau nyoba buat ngobrol sama dia.

"Mas... saya buatin sereal." kata gue seraya menyerahkan mangkuk berisi sereal itu pada dia yang tengah menonton tv.

"Makasih." ucapnya sambil tersenyum. Betapa bahagianya gue melihat dia senyum lagi.

"Sama-sama." Gue lalu duduk di sebelahnya.

Tutup Panci gue mengaduk-aduk serealnya, sementara gue langsung menyantapnya.

Krauk... krakuk... sruuup...

Selain suara tv yang sengaja agak di kecilkan, suara lain yang gue dengan adalah kunyahan dan seruputan dari sereal dan susu yang gue makan plus minum.

Gue milirik suami Tutup Panci gue karena sejak tadi dia tidak bersuara. Gue lihat dia dengan fokus memakan serealnya.

"Mas?" ucap gue pada akhirnya. Jujur aja gue gak nyaman banget sama situasi ini. Iya sih, kebiasaan makan suami gue itu gak banyak omong. Tapi gue ngerasa ada sesuatu yang beda dari diamnya dia kali ini.

"Hm?" sahutnya.

"Kok diem aja?" tanya gue lagi.

"Lagi makan." jawabnya.

Kok jawabannya singkat-singkat sih?

"Enak banget ya, saya suka banget tahu sereal rasa coklat ini tuh." kata gue asal jeplak. Iya asal, yang penting bisa membangun komunikasi.

Suami gue tidak menyahut. Gue kembali meliriknya. Kali ini dengan takut-takut karena takut dia marah gue banyak omong.

"Kalau saya lebih suka yang vanilla." jawabnya kenudian.

Gue mengulas senyum manis. Sebenarnya topik pembicaraan ini udah pernah kami bahas, tapi ya gak ada salahnya lagi kalau kembali diulas.

"Tapi rasa vanilla jarang ada, Mas."

"Iya kamu bener." Suami Tutup Panci gue mengangguk setuju. "Padahal saya suka banget yang rasa itu. Mungkin saya harus bikin pabriknya hahahaaa..."

"Hahaha... Boleh... boleeeh... saya dukung uhuk uhuk..." Gue sedikit terbantuk-batuk karena tersedak.

Suami Tutup Panci gue tertawa kecil melihat ekpresi batuk-batuk gue. Emang bener-bener ya itu orang bukannya ngrbantuin malah ngetawain. Iih sebel.

Setelah batuk gue reda, gue kembali menyantap sereal gue lagi. Suami Tutup Panci gue pun kembali melanjutkan acara makannya. Dan obrolan pun kembali terputus.

Untuk kesekian kalinya gue kembali melirik suami Tutup Panci gue. Ini beneran dia gak bakal ngomong duluan?

Gue mengerucutkan bibir saat suami Tutup Panci gue ternyata emang lebih asik makan serealnya. Gue pun memilih menonton acara tv meski gak terlalu tertarik.

"Menurut kamu saya bagus gak ngajarnya?" tanya suami Tutup Panci tiba-tiba.

"Hm... kok tiba-tiba nanya gitu?" Gue nanya balik seraya mengganti posisi jadi menghadap dia. Dan siapa sangka ternyata dia juga yengah menghadap ke arah gue. Tepatnya menatapa wajah gue lamat-lamat.

Pak Dosen, I Love You!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang