dua belas

1K 49 7
                                        

"Apa Chanyeol pernah membawamu kesini, Hana?"

"Pernah. Se-sekali, Tuan."

Sehun tersenyum, lalu mulutnya kembali menyesap sojunya. Hana yang melihat Sehun semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Makan dulu. Aku tahu kau lapar,"

Sehun memakan ramennya, diikuti Hana. Mereka memakannya hingga habis.

Sehun meluruskan kakinya. Tangannya menjadi sandaran tubuhnya. Hana melihat jelas setiap pergerakan tubuh Sehun.

"Chanyeol hyung pernah menyukaimu," gumam Sehun.

"Menyukaiku?"

Sehun mengangguk, "Kami berjanji untuk datang kesini bersama seseorang yang kami sayang. Dia membawamu. Itu artinya dia menyayangimu."

"Tapi aku tidak menyukainya,"

"Aku tahu," potong Sehun cepat. "Hana-ya..."

"Apa ada masalah, Tuan?"

"Banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu," jawab Sehun. "Tentang Jongin,"

"Tuan..."

"Aku pernah cerita padamu tentang wanita yang menjadi partnerku sebelumnya, bukan?" tanya Sehun. "Aku akan bercerita, namun jangan dipotong."

Hana mengangguk menurut.

"Aku tertarik padanya saat kami menjalani pemotretan bersama. Namanya Kim Jennie, umurnya sama sepertimu saat itu. Satu tahun berlalu, aku mempunyai bisnis dengan Kim Corp. Aku bertemu Jongin, kebetulan Lisa juga mengenal Krystal, asisten Jongin. Kami sering bertemu. Aku dan Jongin menjadi sangat dekat, kami cerita apapun tentang hidup kami."

Sehun menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya, "Setelah itu Jongin mengenal Jennie. Kuperkenalkan Jennie sebagai kekasihku, bukan partnerku. Awalnya aku tak banyak menuntut. Aku selalu membebaskan partnerku pergi kemanapun. Aku hanya benci kalimat cinta. Hanya itu, Hana. Namun setelah dia mengandung anakku, Jennie berubah. Setiap hari dia meminta pertanggung jawabanku. Aku menyetujuinya. Setelah bayi itu lahir, dia akan menjadi anakku. Tapi tidak dengan pernikahan."

Hana terdiam mendengar cerita Sehun, tangannya mengusap lengan Sehun.

"Jennie tak mau seperti itu. Dia masih menuntut bahwa kami harus menikah. Aku mengurungnya, namun sebelum aku mengurungnya, Jennie bercerita segalanya padan Jongin. Aku mengancam Jongin agar tidak membantu Jennie. Foto yang diungkapkan di media adalah fotoku bersama Jongin saat aku mengancamnya."

Hana bisa melihat, ada sirat kekecewaan di mata Sehun.

"Sejak itu, ingatan masa laluku selalu berputar di kepalaku. Aku marah dan terus memukuli Jennie. Aku salah, aku salah sekali Hana. Jennie pergi bersama Jongin, membawa anakku. Mereka... Mereka meninggalkanku..."

Hana segera memeluk Sehun, mencoba menenangkan Sehun.

"Kau tahu, Hana? Aku mencoba mencari Jennie seperti orang gila. Itu membuat ibuku marah dan menyuruhku ke Jerman. Aku menuruti ibu. Kupikir aku harus melupakan semuanya. Hingga suatu hari aku baru mengetahui bahwa Jennie sudah tiada. Aku hancur, Hana. Aku...Aku mencintai Jennie,"

"Tuan... hiks.." Hana ikut menangis mendengar cerita Sehun. Tangannya masih setia mengelus punggung Sehun.

Sehun melepaskan pelukan mereka, tangannya berada di masing-masing bahu Hana. "Jangan pergi, Hana. Jangan pernah hilang dari pandanganku. Berjanjilah, aku takut... aku takut semua orang akan meninggalkanku."

Hana kembali memeluk Sehun, "Aku tak akan pergi darimu, Tuan. Aku akan pergi jika kau yang menyuruhku pergi. Sudah, semua telah berlalu. Simpanlah baik-baik semua kenangan pahitmu. Kuharap semua jadi pelajaranmu di kemudian hari."

Please Love Me, SirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang