3. Penjelasan

4.4K 259 3
                                        

****

"Lo nggak apa-apa Rif?" Nana memulai percakapan lebih dulu. Sejak kejadian barusan, Arif terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Arif menggelengkan kepalanya dengan lemah, pikirannya melayang. Apa yang salah? Benar-benar membingungkan.

"Makan dulu ya Rif, nih makanannya udah dateng" suruh Nana, pertengkaran barusan pasti menguras banyak tenaga Arif.

Nana sendiri kebingungan untuk membatu apa lagi, ini sudah terlalu dalam. Tapi bukan seorang Nana, jika tidak bisa membantu masalah sahabatnya hingga selesai.

"Menurut lo, kakak gue kenapa ya?" Tanya Arif, wajah dia sangat penasaran.

"Mending lo makan dulu nih ya, baru deh kita ngobrol lagi"

"Gue serius Na!" Arif menatap Nana begitu tajam.

"Ya gue juga serius nyuruh lo makan, emang mau lo mati gitu aja gara-gara nggak makan?"

"Apaan sih lo, nyumpahinnya gitu amat"

"Ya makanya makan! Udah gue pesenin juga" ucap Nana tak kalah kesal karna sikap Arif sekaligus karna dia kelaparan juga.

Hampir sekitar 30 menit mereka makan di sana. Dan selama itu pun Arif terus berfikir, tingkah laku kakaknya itu benar-benar berbeda dari terakhir kali Arif bertemu.

"Pulang yuk Rif, udah sore nih" ajak Nana setelah dia kekenyangan melahap 3 menu makanan yang ada di sana.

"Gue kayanya harus balik lagi deh ke rumah Kaka gue" ucap Arif

"Lo gila ya? Dia baru aja ngusir lo barusan"

"Tapi gua belom dapet jawaban apa-apa Na"

"Siapa bilang lo nggak dapet jawaban?" Saut Nana dengan wajah seriusnya, sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Maksud lo gimana Na?" Tanya Arif tak kalah serius dengan Nana.

Nana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah benda berbentuk persegi panjang. Terlihat agak kotor dan berdebu.

"Waktu lo debat sama Kakak lo, gua sempet liat-liat sekitar. Banyak banget buku dan benda-benda aneh di sana"

Nana memberi tunjuk buku tersebut ke Arif "dan gue nemu salah satu buku ini di sana, gue juga nggak tau ini apa, tapi keliatannya penting. Karna waktu gue nemu buku ini, posisinya lagi ada di atas meja kaya abis dibaca"

"Yah tapi waktu gue denger kakak lo teriak-teriak nggak jelas ke lo, gue buru buru cabut terus ambil nih buku" lanjut Nana bercerita "dan lo tau apa lagi yang aneh?" Tanya Nana

"Apa?" Jawab Arif sembari memperhatikan buku yang diberikan Nana kepadanya.

"Sepertinya ini bukan buku satu satunya" jelas Nana

"Gue nggak paham Na"

"Duh Rif, liat deh ini" jari telunjuk Nana mengarah ke bagian pojok kiri bawah tersebut.

"Ini tuh bahasa Jawa, artinya bagian pertama" jelas Nana ke Arif "jadi itu artinya masih ada beberapa buku lagi kaya gini di luar sana"

"Yaelah Na, kali aja ini novel punya Kakak gue, gila lo ya" ucap Arif

"Rif, lo coba dong pake otak sedikit. Mana ada toko buku di luar sono, jualan buku tapi covernya jelek kaya gini, mana ada yang mau beli bego!" Saut Nana dengan kesalnya.

Benar juga, covernya begitu usang. Seperti sudah di cetak ratusan tahun yang lalu. Batin Arif memikirkan kata-kata Nana yang masuk akal itu.

"Jadi lo tau isinya apa Na?" Tanya Arif, setidaknya dengan buku ini ada sedikit harapan tentang semua kejadian yang menimpa Arif.

KEJAWEN : jilid 1Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang