Apa jadinya jika dia yang harus kau hindari adalah orang yang pintu kamarnya tepat berada di depan pintu kamarmu?
---
Suasana hati Andra benar-benar buruk, dia memainkan ponsel dengan kasar untuk mengusik Dinda yang duduk tepat di sebelahnya. Ayahnya seolah ingin memberi siksaan yang lengkap dengan menyekolahkan Dinda pada tempat yang sama dengannya. Dia terus melirik sinis pada Dinda yang juga tampak tidak nyaman berbagi tumpangan dengannya.
"Hentikan mobilnya!" Andra bersuara setengah membentak.
Pak Ikin—Sang sopir yang tak ingin menjadi pelampiasan amarah sang tuan muda menurut saja.
"Turun di sini," lirih Andra.
"Saya, Tuan?" Pak Ikin bertanya menatap pantulan Andra pada kaca mobil
Andra mendecak kesal "Bukan lo," ucapnya menggertakkan gigi, "Tapi lo," teriaknya pada Dinda.
"Saya?" Dinda yang sedang memainkan ponsel membalas dengan kening mengkerut.
"Iya. Sekolah di belokan selanjutnya dan gue nggak mau ada yang liat lo turun dari mobil ini sama gue?"
Dinda menghela napas. "Baiklah," ucapnya lalu mengambil tas dan membuka pintu mobil.
***
Riuh suasana pagi sekolah menyambut Dinda saat pertama melangkah melewati gerbang. Dia menatap gedung megah berlantai tiga di depannya. Sekolah barunya adalah salah satu sekolah swasta berstandar internasional, tempat belajar yang dulu sering dia sebut hanya dihuni oleh kaum elit, dan kini dia telah menjadi bagian dari kaum elit itu. Dinda tertawa kecil dengan pikirannya sendiri.
Dinda menarik napas dalam-dalam sembari memberi semangat pada dirinya untuk menghadapi segala hal baru yang akan menyambutnya. Dia melirik pada beberapa siswi yang baru datang dan melewatinya, aroma parfum menguar dari rombongan itu. Dinda mengembungkan pipi, berharap tidak ada geng atau kelompok tukang bully seperti yang sering dia lihat dalam drama-drama khas sekolah elit yang identik dengan pembagian kasta dan sejenisnya.
Dinda bersiap melanjutkan langkah menuju ruang guru saat merasakan tepukan pada pundaknya. Dia menoleh dan menatap seorang siswa yang mengulas senyum untuknya.
"Dinda?"
Kening Dinda mengkerut menatap sosok jangkung yang tahu namanya itu. "Ya?" jawabnya meski penuh tanya.
"Ini gue, Ray."
Mata Dinda membola. "Hah? Serius?" selorohnya tak percaya, "Kamu tinggi banget sekarang." Dia menatap takjub penampilan teman lamanya itu.
Ray berdecak. "Sori, ya, gue udah melewati masa puber dan mencapai pertumbuhan yang baik dan benar setelah jauh dari hidup lo."
Dinda memicingkan mata dengan membuat ekspresi kesal yang dibuat-buat." Iya. Iya, deh. Yang sudah jadi kaum menengah ke atas sejak lahir."
Ray terkekeh. "Lo pindah sekolah ke sini? Kok bisa, sih?"
"Kenapa? Nggak boleh, ya?"
Ray menggeleng cepat. "Bukan, maksud gue, pas pertengahan semester gini, kok, bisa diterima?" ucapnya, dia kemudian menatap Dinda penuh selidik. "Lo punya orang dalam, ya?"
Dinda tertawa lalu mengangkat bahu.
Ray mendengkus dibuatnya. "Okelah, sampai ketemu di kantin pas istirahat nanti, ya. Gue ada PR yang belum selesai," ucapnya lalu berlari sambil melambaikan tangan untuk Dinda.
Dinda tersenyum kecil menatap punggung Ray yang menjauh. Satu hal yang selalu dia ingat tentang Ray dan ternyata belum berubah sampai sekarang, temannya itu selalu mengerjakan PR di sekolah dan masa bodoh tentang belajar. Dulu Dinda selalu iri padanya, Ray yang terlalu santai bersekolah tanpa harus pusing untuk irit uang jajan dan pembayaran iuran sekolah. Dinda menghela napas mengingat masa sekolahnya yang kurang menyenangkan.
Setelah melapor pada wali kelas yang dia temui saat mendaftarkan diri, Dinda kemudian berjalan menuju ruang kelas tempatnya akan belajar pada sisa semester ini. Seiring dengan langkahnya, bel tanda masuk juga berbunyi.
Dinda menarik napas lalu memasang senyum terbaiknya saat akan melangkah masuk kelas. "Jangan menonjol. Sebisa mungkin jangan menarik perhatian dan belajar seperti manusia transparan," bisiknya pada diri sendiri saat semua mata penghuni kelas menatap padanya.
***
"Bagaimana kelas barunya?" Ray bertanya lalu menyeruput es teh yang baru saja diberikan pelayan kantin.
Dinda yang menyandarkan kepala di atas meja hanya menghela napas. Tangan kanannya terangkat lalu memberi jempol tepat di wajah Ray.
"Lalu kenapa ekspresimu seperti itu?"
Dinda masih enggan mengangkat wajah. Haruskan dia berkata jujur pada Ray jika dia merasa tidak nyaman sejak melihat Andra memasuki area kantin?
"Anak-anak di sini aslinya cuek. Kecuali lo punya sesuatu hal yang lebih menonjol, atau punya hal yang sama kayak mereka. Tapi, ada juga kok yang ramah plus cakep, gue contohnya.
Dinda mendecih mendengarnya, masih setia menyembunyikan wajah.
"Gue cuma mau bilang satu hal yang wajib lo hindari," Ray ikut merapatkan kepala pada meja dan berbisik pada Dinda.
"Apa?" tanya Dinda lalu menghadapkan wajahnya pada Ray.
"Di sekolah ini, ada anak pimpinan yayasan yang disegani sama penghuni sekolah. Lo harus jaga jarak dari dia, jangan sampai terlibat apapun. Dia, sih, nggak jahat pake banget, tapi barikade fansnya bakal bikin hidup lo nggak nyaman dan memilih minggat dari sini. Namanya Andra dan orangnya ada di sini." Ray berbisik, seolah takut terdengar sedang membicarakan Andra.
"Hah?" Dinda melongo. Entah bagaimana reaksi Ray jika orang yang dia maksud itu berstatus sebagai saudara tirinya. Dan bagaimana jika Andra menggunakan 'kewenangannya' untuk menindas dirinya di sekolah ini? Dinda mengusap kasar wajahnya, selera makannya benar-benar hilang.
"Hei, nggak usah dipikirin, cukup jaga jarak aja dari Andra sama gengnya." Ray menegakkan duduknya lalu mendekatkan mangkuk bakso di depannya. "Makan, gih. Jam istirahat di sini nggak lama," ucapnya lalu memasukkan satu bakso ke mulutnya.
Dinda mengembuskan napas pasrah, mencoba menikmati bakso pesanannya seperti Ray. Baru satu suapan, Dinda tersedak dan terbatuk hingga wajahnya memerah, bukan karena rasa bakso yang berbeda dari yang sering dia makan, tapi, karena dia menyadari tatapan tajam Andra tepat mengarah padanya.
Ray menyodorkan air. "Hati-hati makannya."
Dinda minum sambil menutup mata, menyesali keisengannya melirik pada Andra. Kehidupan sekolahnya yang penuh ketenangan sepertinya akan berubah drastis mulai hari ini.
***
Bel tanda istirahat kedua berakhir baru saja berbunyi. Semua siswa kompak berjalan kembali menuju kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran terakhir hari ini. Tapi, tidak dengan Andra. Dia justru berjalan santai ke arah yang berlawanan, terus melangkah menuju gerbang yang tertutup rapat.
Andra memukul meja pos satpam santai dan memberi kode agar gerbang dibuka untuknya.
Satpam bangkit lalu menengok ke luar, mencari posisi mobil jemputan anak pemilik yayasan itu. "Ada acara sama Bapak lagi?" tanyanya lalu membuka gembok rantai yang membelit rangka besi gerbang sekolah.
Andra mengangguk dengan senyum miring. Satu hal yang dia syukuri berstatus sebagai anak pemilik yayasan. Cukup mencatut nama ayahnya, maka apapun yang dia lakukan akan berjalan mudah.
"Kok nggak dijemput lagi?" satpam tetap membuka gerbang meski tidak menemukan sopir Andra yang sudah kenal dengannya.
Andra mengangkat bahu cuek. "Terima kasih, Pak," ucapnya lalu melangkah dengan senyum kemenangan.
Hari ini, Andra sudah membuat janji temu dengan pemilik rumah yang akan dia sewa dengan teman-temannya. Sebuah rumah sederhana akan yang mereka jadikan basecamp. Tempat yang akan dia jadikan tujuan jika merasa lelah pada rumahnya yang dihiasi hal baru sejak pernikahan ayahnya.
Andra sebenarnya tidak keberatan ayahnya menikah lagi, tapi, ketidakharmonisan hubungan antara dia, ayah dan juga kakaknya membuat dia ingin mencari tempat istirahat yang menyenangkan. Keinginannya untuk menjalin hubungan baik dengan ibu dan saudara tirinya juga sudah ada, hanya saja dia tidak tahu cara untuk memulai suatu hubungan yang baik dan benar. Sebuah butuh waktu. Dan selama proses itu, Andra akan memilih menetap pada tempat pelariannya dulu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Home
General Fiction[TAMAT] Tentang rumah yang (harusnya) menjadi tempat nyaman untuk pulang
