Ada dinding yang akhirnya bisa dirobohkan, namun adapula yang justru semakin kokoh mencipta jarak.
---
Renata terus saja mondar-mandir dari ruang tamu menuju teras demi melihat penampakan anaknya yang tak kunjung muncul. Raut khawatir tak lepas dari wajah cantiknya. Dia kembali membuka ponsel Dinda yang ditemukan sopir mereka di mobil, berharap ada panggilan yang berasal dari Dinda.
Sarah yang menemani Renata juga tampak gusar, fokusnya lebih pada reaksi yang akan ditunjukkan papanya nanti. Dia melirik pada Andra yang juga turut bergabung dengan mereka menunggu Dinda. Sebenarnya, Sarah sangat ingin menanyakan alasan Andra memilih pulang sendiri, tapi, mengingat hubungan mereka berdua tidak begitu baik selama ini, membuat dia mengurungkan niatnya itu.
Andra duduk sambil melipat tangan, sesekali dia membenturkan kepalanya pada sandaran sofa, menyesali keputusannya memilih bolos hari ini. Meskipun dia masih belum menerima kehadiran Renata dan Dinda, dia tetap tidak akan membuat masalah seperti ini. Sesalnya semakin membesar ketika Renata menceritakan trauma masa kecil Dinda hingga membuat saudara tirinya itu memiliki kesulitan untuk mengingat arah dan lokasi.
Helaan napas ketiganya kompak terdengar saat Dinda muncul dengan senyum kecilnya. Tapi, sayang, kelegaan itu hanya berlangsung sebentar. Masalah pertama dalam keluarga baru di rumah itu mulai menampakkan diri, memperjelas sekat yang telah tercipta sebelumnya.
***
Rumah yang harusnya menjadi tempat istriahat setelah lelah bekerja justru menambah beban pikiran Iryawan. Dia memijat keningnya lalu mengikuti Renata masuk kamar kemudian duduk pada tepi tempat tidur.
Renata menghampiri Iryawan lalu memberi sentuhan halus pada punggung suaminya. Dengan lembut, dia menekan otot-otot pada bagian belakang Iryawan, berharap memberikan relaksasi setelah ketegangan dengan Andra tadi.
"Maafkan anak-anakku." Iryawan membuka suara setelah menarik napas dalam-dalam.
Renata tersenyum tipis. "Maaf, belum bisa menciptakan damai di rumah ini," ucapnya.
Iryawan berbalik, menatap teduh mata Renata yang memberi senyum untuknya. "Percayalah, suatu hari nanti, tawa bahagia akan mengggema di rumah kita."
Renata mengangguk, mengucap aamiin dalam hatinya.
"Ayo, makan." Iryawan bangkit lalu berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian. "Lepas makan, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu lalu tidur." ucapnya.
***
Renata berjalan menunduk menuju lantai bawah untuk makan bersama suaminya. Usahanya mengetuk pintu Dinda dan Sarah tidak membuahkan hasil. Kedua anak itu tidak memberi jawaban apapun saat dia memanggil mereka untuk turut makan malam. Renata kembali mengembuskan napas, ada titik sesal dalam dadanya. Entah sesal karena apa.
Menapaki anak tangga terakhir, Renata berusaha mengumbar senyum. Dia menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban dari Iryawan yang mempertanyakan ketidakhadiran dua orang yang dia panggil untuk makan malam.
"Ya, sudah, anggap saja kita diberi waktu untuk makan berdua saja." Iryawan berusaha mencairkan suasana.
Renata tersenyum kecil lalu menyendok nasi untuk suaminya. "Kita semua masih butuh waktu untuk beradaptasi," ucapnya.
"Selamat makan." Iryawan menarik napas dalam-dalam sebelum menyendok makanannya. Dalam hati dia meyakinkan diri jika kegaduhan ini hanya berlangsung sementara. "Setelah ini, saya akan ke ruang kerja, ada hal yang harus diselesaikan dulu," lanjutnya.
Renata mengangguk. "Jangan memaksakan diri," pesannya.
***
Renata melangkah gontai setelah mengantar Iryawan pada ruangan khusus di lantai tiga yang dijadikan tempat mengurus pekerjaan di rumah ini. Dia menarik napas, memberi semangat diri untuk menghadapi masalah dalam babak baru hidupnya. Langkahnya menuju kamar tidur terhenti saat mendapati Sarah tengah duduk melantai di depan pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Home
Ficción General[TAMAT] Tentang rumah yang (harusnya) menjadi tempat nyaman untuk pulang
