Rindu itu memang berat. Hanya dengan menyampaikannya, maka beban akan terasa lebih ringan.
---
Sinar cerah nan hangat matahari pagi yang merambat lurus menerobos setiap celah jendela membuat silau sepasang mata yang baru terbuka. Iryawan mengusap pelan kedua matanya yang masih menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Dia menguap pelan, menegakkan tubuh dan memindai tempatnya terbangun dengan mata yang masih menyipit.
Lelaki paruh baya itu hanya bisa menghela napas saat menemukan dirinya tertidur pada kursi kerja di kantornya. Bukan karena beban kerja yang menumpuk, melainkan memikirkan masalah dengan Sarah dan Andra memaksanya menghabiskan waktu akhir pekan hingga tertidur di tempat kerjanya.
Dering ponsel membuatnya tersentak, segera dia meraih benda pipih itu dan menemukan nama Renata di sana. Tanpa pikir panjang lagi, dia menekan gambar telepon berwarna hijau pada layar. Helaan napas lega terdengar saat Iryawan mendekatkan ponsel pada telinga kanannya.
"Maaf," lirihnya dengan suara yang masih serak, "Semalam saya ketiduran di kantor," tambahnya.
"Semalam saya benar-benar tidak tenang. Segera pulang, ya."
Iryawan mengangguk cepat, layaknya anak kecil yang baru saja diberi petuah oleh ibunya. "Maaf," ulangnya lagi.
Setelah mengakhiri panggilan telepon, dengan tergesa Iryawan bangkit dan merapikan diri. Mengambil tas dan kunci mobil, dia bergegas menuju lift dan menekan tombol menuju tempat parkir. Tarikan napas dalam diambilnya saat menyalakan mesin kendaraannya, hari ini dia bertekad untuk menjernihkan semua salah paham dengan anaknya.
***
Andra menatap bosan dua saudaranya yang sedang sibuk bermain bulu tangkis di depannya. Dia menyesal menuruti ajakan Sarah untuk bangun pagi dan ikut olahraga, sementara dia masih dalam keadaan mengantuk karena baru tidur saat subuh setelah bermain game semalaman.
Shuttlecock yang dipukul Dinda dengan keras justru mengarah pada Andra yang sedang duduk merenung. Teriakan kompak Dinda dan juga Sarah tidak bisa membuat saudara laki-laki mereka bergerak cepat untuk menghindar. Andra hanya bisa mengaduh setelah bola berbulu itu mendarat di kepalanya dengan keras.
"Kalau nggak bisa main, nggak usah dipaksa," ucapnya lalu melempar kok lebih jauh dari tempat berdiri Sarah dan Dinda.
"YA!" protes Sarah lalu berlari menuju tempat kok tergeletak. "Kau itu juga harus banyak gerak, ayo gantian."
Andra menggeleng cepat. "Gue ada janji sama Randy," ucapnya lalu bangkit dan berjalan masuk ke rumah, "Gue mungkin pulang telat," lanjutnya sebelum menghilang di balik pintu.
Sarah mendengkus jengkel menatap punggung Andra yang menjauhinya.
"Mau istirahat?" tawar Dinda yang menonton adegan saudara tirinya dari kejauhan.
Sarah menoleh lalu mengangguk. Dia berjalan menuju kursi tempat Andra duduk tadi.
Dinda juga berjalan mendekat pada kursi. "Andra mau ke mana?" tanyanya.
"Katanya ada janji sama Randy," jawabnya lalu meletakkan raket di dekatnya.
Dinda hanya mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya. "Mendung," lirihnya saat menatap langit.
Sarah ikut melihat ke atas. "Ayo, masuk," ajaknya, "Aku mau makan saja."
"Ok." Dinda mengikuti langkah Sarah. Otot tubuhnya juga sudah merasakan lelah setelah bermain bulu tangkis.
Sarah yang awalnya ingin ke ruang makan seketika membelokkan langkah mendapati ayahnya sedang makan ditemani Renata.
"Loh, kenapa ...." Dinda tidak melanjutkan tanya saat pandangannya menjangkau ruang makan. Dia hanya menghela napas dan tetap meneruskan langkah menghampiri ibunya. "Sampai kapan orang-orang ini main kucing-kucingan?" lirihnya jengah.
***
Mendung yang menggantung sejak pagi perlahan berubah menjadi gerimis menjelang tengah hari. Sarah menyandarkan kepala pada kaca jendela yang sudah dipenuhi titik-titik air pada bagian luarnya. Dia memejamkan mata seolah meresapi dingin dari kaca yang terasa oleh keningnya. Helaan napasnya yang berat terdengar.
Telunjuk kanannya dia gerakkan mengetuk kaca dengan irama beraturan. Sarah merenungkan sikapnya sendiri, mencoba memosisikan diri sebagai papanya, ada rasa sedih saat memikirkan perasaan yang harus ditanggung kepala keluarganya itu setelah mendapat pengabaian darinya dan juga adiknya.
Dia dan Andra sudah berdamai. Bukankah sikap buruk kepada papa juga harus diperbaiki? Bahkan dia sendiri sudah lupa alasan awalnya hingga memutuskan menjaga jarak dari papanya sendiri. Sarah menarik napas dalam, mencoba meredakan sendiri sesak yang memenuhi rongga dadanya.
"Sarah ...."
Sarah menoleh lemah ke arah tangga—jalur masuk menuju loteng—saat mendengar namanya disebut. Rasa bersalah seketika menyelimuti hatinya melihat ekspresi orang yang baru saja memanggilnya.
Iryawan mengulas senyum meski canggung, ada ingin untuk segera menghampiri dan merengkuh penuh kasih tubuh putri sulungnya, tapi ada ragu dan takut mendapat penolakan mendominasi perasaanya. Dia memilih berdiri mematung, menunggu reaksi Sarah.
Pandangan Sarah masih terkunci pada wajah papanya. Air mata yang mendesak untuk keluar ditahannya sekuat tenaga, rasa bersalahnya semakin menjadi demi melihat papanya mulai mengambil langkah mendekat.
Iryawan mengembuskan napas tepat saat duduk di depan Sarah yang kini memilih menatap lurus ke arah jendela. "Papa dengar, kamu sudah kembali akrab dengan adikmu," bukanya, "Papa senang mendengarnya."
Sarah masih memilih diam.
"Jadi, masih belum mau bicara dengan papa?" Iryawan menghela napas kecewa. Dia menggeser duduknya, mencoba menipiskan jarak dengan anak sulungnya itu. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya melihat Sarah yang tidak menghindar. "Papa tahu ini terlambat, tapi, sebelum semuanya menjadi semakin jauh, Papa cuma mau minta maaf sama kamu. Maafkan Papa yang tidak pandai mengatur dan membagi waktu untuk dihabiskan bersamamu saat itu."
Iryawan menarik napas dalam-dalam, beban yang menghimpit dihatinya perlahan tapi pasti mendesak untuk keluar. Dia berusaha mengatur napas dan intonasi ucapannya. "Papa tidak akan melakukan pembelaan, papa jelas salah. Tapi, satu hal yang papa harapkan, kita bisa hidup rukun layaknya satu keluarga yang utuh dan saling menunjukkan kasih sayang satu sama lain."
Sarah menunduk dalam. Air matanya sudah lolos sejak Iryawan duduk di dekatnya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan. Bagaimanapun, dia juga merasa punya andil besar dalam runyamnya hubungan dalam keluarga mereka.
"Papa tidak menuntut untuk dimaafkan, yang papa ingin hanya kamu tahu, kalau kamu sama Andra adalah anak kebanggaan yang selalu ingin papa lindungi meski nyawa taruhannya." Iryawan menarik napas dan mendongakkan kepala, mencegah lebih banyak air matanya yang keluar. Dia tidak ingin menunjukkan sisi rapuhnya di depan putrid kandungnya.
"Sarah yang salah, Pa," lirih Sarah, suaranya serak nan terbata. Dia mengangkat kepala dan menatap langsung mata basah papanya. "Maafin sikap Sarah sama Andra selama ini, Pa," ungkapnya lalu menghambur ke dalam pelukan Iryawan.
Iryawan tersenyum disela tangisnya. Dia membalas dekapan Sarah penuh haru, melepaskan semua rasa yang tertahan setelah dijauhi oleh anaknya sendiri. "Papa yang minta maaf, Nak. Semua salah papa," ucapnya lalu mengelus surai hitam Sarah. Dia baru menyadari jika anak gadisnya kini sudah tumbuh dan hampir menyamai postur tubuhnya. "Sudah lama papa ingin memelukmu seperti ini," lirihnya.
Sarah masih tergugu, meluapkan segala rindu yang tertampung sejak memilih menghindari interaksi dengan papanya. Meski napasnya terputus-putus, rasa lega lebih mendominasi hatinya kini.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Home
Ficción General[TAMAT] Tentang rumah yang (harusnya) menjadi tempat nyaman untuk pulang
