Bagi seorang Ibu, anak itu laksana aksara yang sangat mudah dibaca dan dipahami.
---
Dinda melangkah santai meninggalkan kamarnya. Dia sempat melirik dua pintu kamar yang tertutup rapat di depannya lalu terus berjalan menuruni tangga. Belum sampai pada anak tangga terakhir, aroma masakan yang begitu enak menghampiri indera penciumannya. Dinda menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan mata demi menikmati bau yang menyenangkan itu. Langkahnya otomatis terarah menuju dapur.
Ada Renata dan juga Bi Nah yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk disantap malam nanti. Dinda memilih mengamati sambil menumpukan kepala pada meja pantry. Dia hanya mampu menghela napas menatap punggung ibunya yang terus fokus pada isi panci di atas kompor.
"Bu," lirih Dinda.
Renata hanya berdeham, memberi tanda jika dia siap mendengarkan sambil terus mengaduk masakan di depannya.
"Bisa bicara sebentar?"
Renata mematikan kompor dan mengangkat panci. Dia menoleh dan menatap anaknya lekat. "Bisa," jawabnya, "Mau bicara tentang apa?" lanjutnya lalu memberi isyarat pada Bi Nah untuk meneruskan kegiatan memasak seorang diri.
"Apa saja. Yang penting bisa bicara berdua sama Ibu," jawab Dinda setelah mengangkat kepala.
Renata mengulas senyum kemudian menggandeng lengan Dinda dan menuntunnya menuju teras belakang. "Maafkan Ibu yang mulai jarang menghabiskan waktu sama kamu," sesalnya.
Dinda mengembuskan napas tepat saat bokongnya menyentuh kursi teras belakang, pandangannya lurus ke arah bunga-bunga yang berjejer rapi tak jauh dari tempatnya. Dia melirik ibunya yang duduk sambil merapikan rambut panjangnya.
"Om Irya kapan pulang, Bu?"
"Mungkin sebelum makan malam sudah di rumah," jawab Renata sambil menyelipkan rambut Dinda ke belakang telinga. "Kenapa?"
Dinda mengangkat bahu. "Hanya bertanya."
"Yakin?" Renata menatap anaknya dengan senyum menyelidik.
Dinda tersenyum kecil, merasa gagal menyembunyikan maksudnya. "Ibu pasti tahu, ini hari apa, kan?"
Renata tersenyum sambil mengangguk. "Tentu Ibu tahu. Bahkan sangat tahu," jawabnya.
"Ibu ... tidak cemburu?" Dinda bertanya dengan hati-hati.
"Kenapa harus cemburu?" Renata balik bertanya dan menatap lekat anak gadisnya.
Dinda menggaruk pipinya. "Dia, eh, maksudku Om Irya masih mengingat tentang ...."
Renata meraih lalu menggenggam kedua tangan anaknya. "Ibu tidak masalah, kok," ucapnya. "Sebagaimana beliau yang menerima keberadaan ayah kamu di masa lalu Ibu, Ibu juga tidak masalah dengan masa lalunya," lanjutnya bijak.
Dinda hanya mengangguk meski belum paham sepenuhnya. Dunia orang dewasa memang agak rumit untuk dipahami oleh remaja belasan sepertinya.
"Kamu ingat masa-masa Ayah masih koma?" Renata bertanya sambil menerawang, kedua tangannya masih menggenggam lembut tangan Dinda.
Dinda mengangguk, senyum kecutnya terbit mengingat kebersamaan keluarga kecilnya melalui masa sulit itu.
"Saat itu, kamu selalu bercerita dengan semangat untuk Ayah, kan?" Renata memulai kisahnya.
"Karena kata dokter, meski dalam keadaan koma, Ayah masih bisa mendengar apa yang kita bicarakan." Dinda melanjutkan.
Renata membelai lembut surai hitam milik anaknya. "Kamu yang waktu itu masih sepuluh tahun begitu semangat bercerita untuk Ayah setiap pulang sekolah. Bercerita dengan ceria dan antusias sampai membuatmu dikenal dikalangan dokter dan perawat."
"Benarkah?" Dinda menahan senyum mendengar fakta yang baru diceritakan ibunya.
Renata mengangguk, "Dan suatu hari, saat kamu sedang asyik bercerita, Ibu mendapati Pak Irya menonton dari pintu kamar rawat sambil tersenyum."
Kening Dinda berkerut menatap ibunya. "Ibu akrab dengannya sejak kejadian itu?"
"Tidak, beliau hanya tertarik sama kamu. Katanya, Ayah beruntung punya anak yang selalu ada untuk menemani." Renata memberi jawaban dengan senyum menenangkan. "Dia merasa iri sama Ayah," lanjutnya lirih.
Dinda menghela napas. "Lalu, bagaimana Ibu bisa menikah sama Om Irya?"
Renata menarik napas berat, hal yang selalu disimpannya sendiri, harus diungkapkan lagi. "Sepeninggal Ayah, kehidupan kita mulai sulit. Ibu berusaha bertahan dengan tetap menjalankan toko buku, tapi, seperti yang Dinda tahu, toko kita semakin hari semakin sepi saja. Sedang kebutuhan hidup terus saja meningkat, terlebih saat Dinda akan masuk SMA. Saat Ibu memutuskan untuk menjual toko itu, Ibu bertemu dengan Pak Irya."
Dinda menghela napas, merasa sedih karena baru mengetahui beratnya hidup yang harus dipikul sendiri oleh Ibunya. "Lalu Ibu memilih menikah lagi?"
"Tidak sesederhana itu, Nak," kekeh Renata.
"Jadi?" Dinda menatap penuh tuntutan.
Renata hanya menghela napas menatap anaknya, merasa bingung harus mulai dari bagian mana. "Ceritanya panjang, Nak. Yang jelas, beliau sudah banyak membantu masa-masa sulit kita."
Dinda terus menatap lekat ibunya, berharap ada lanjutan cerita.
"Nanti Ibu akan meminta Pak Irya untuk bercerita lebih lengkap untukmu," ucapnya sangat paham pada gesture anaknya.
"Baiklah," lirih Dinda kecewa.
"Sekarang, Ibu yang mau bertanya?" Renata menepuk pelan telapak tangan anaknya.
"Tentang apa?"
"Dinda suka tinggal di sini?" tanya Renata dengan tatapan lekat pada bola mata anak gadisnya.
"Ya, begitulah." Dinda menjawab sambil mengangkat bahu.
"Ibu senang kalian bertiga mulai akrab." Renata tersenyum sambil mengusap punggung tangan Dinda.
"Akrab bagaimana?" Dinda mendengkus. "Saya masih merasa canggung kalau berhadapan dengan mereka," lanjutnya dengan bibir yang sedikit dimajukan.
"Benarkah? Jadi bagaimana caramu bicara dengan Andra sepanjang hari ini?" Renata tidak bisa lagi menahan senyum jailnya.
"Eoh?!" Dinda mengerjap. Dia kemudian hanya bisa meringis dan serba salah karena ketahuan berbohong.
Renata tersenyum. "Ibu tahu semua yang kalian lakukan hari ini," ucapnya lalu beranjak meninggalkan teras belakang menuju dapur.
Dinda segera menyusul sambil menggaruk-garuk pipinya. "Maaf," ucapnya saat sejajar dengan Ibunya.
"Tidak apa. Tapi jangan diulangi, ya."
"Siap!" Dinda memberi hormat lalu tertawa sendiri. "Tapi, bagaimana Ibu bisa tahu?"
Renata berhenti lalu menatap Dinda dengan senyum tertahan. "Kamu ini anak yang Ibu lahirkan, gerakan matamu saja sudah Ibu paham maknanya," ucapnya seraya mencubit gemas hidung anaknya itu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Home
Fiksi Umum[TAMAT] Tentang rumah yang (harusnya) menjadi tempat nyaman untuk pulang
