Selalu ada sosok penting yang memberi nyawa pada kehidupan sebuah keluarga.
---
Renata berjalan kembali menuju kamar tidurnya usai mengantarkan teh hangat dan camilan untuk Iryawan yang melanjutkan kerja di lantai tiga. Dia menghela napas saat menutup pintu kamar, memikirkan rutinitas kehidupannya yang berubah drastis setelah memutuskan untuk menikah lagi.
Gerakan tangan Renata yang hendak menutup tirai jendela terhenti saat melihat pemandangan di taman belakang. Senyumnya terbit mendapati anak kandung dan anak tirinya kini duduk berdampingan dan saling berbagi rangkulan. Dia menyentuh kaca jendela penuh haru, seolah ikut larut dalam rangkulan hangat ketiga anak itu.
"Terima kasih," lirih Renata lalu menutup tirai kemudian melangkah menuju tempat tidur. Dia berbaring dan mencoba terlelap dalam lingkup bahagia yang menyelimuti perasaannya.
***
Hari masih gelap saat Renata melenguh pelan lalu membuka mata, bibirnya melengkung mendapati hal pertama yang dia lihat adalah wajah lelap sang suami. Dia menarik pelan tangan kanannya yang berada dalam genggaman Iryawan. Renata mengusap wajah lalu bangkit dan bersiap memulai rutinitasnya hari ini.
Renata menepuk pelan pundak Bi Nah yang sudah sibuk menyiapkan peralatan masak saat dia memasuki dapur. "Dari tadi, Bi?"
Bi Nah menggeleng. "Saya juga baru bangun, Nyonya," jawabnya dengan senyum santun.
Renata balas tersenyum lalu menggelung rambutnya. "Ayo, masak yang spesial pagi ini, Bi," ucapnya semangat. "Bi Nah pasti melihat anak-anak semalam, kan?" lanjutnya senang.
Bi Nah mengangguk. "Iya, saya sampai menangis melihat Sarah sama Andra yang akrab begitu."
Renata tertawa kecil lalu mulai meraih pisau dapur dan menyalakan kompor. Dia ingin memasak telur ceplok kesukaan Andra, omelette untuk Sarah dan tentu saja nasi goreng ayam favorit Dinda. Sesekali dia meminta Bi Nah memberi bahan yang jauh dari jangkauannya.
Hampir satu jam Renata berkutat di dapur. Semua menu yang dimasak sudah siap disajikan. Dia mengarahkan Bi Nah untuk menyiapkan meja dan peralatan makan, lalu kembali menuju kamar tidur untuk membersihkan diri dan membangunkan penghuni rumah yang lain.
Renata membuka pintu kamarnya setelah memastikan jika penghuni tiga kamar tidur yang lain sudah terjaga dan sedang bersiap untuk memulai kegiatan mereka masing-masing hari ini. Keningnya mengkerut mendapati suaminya sudah rapi dengan setelan kantornya.
Iryawan mengulas senyum lalu meraih tas kerjanya. "Hari ini saya mau berangkat lebih pagi," ucapnya.
Renata mengangguk meski masih heran. "Saya siapkan bekal, ya?" tawarnya sembari merapikan simpul dasi suaminya.
Iryawan mengangguk setuju lalu memasang jam tangan mewahnya.
***
Sarapan berlangsung seperti biasa, hening. Hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu.
"Mau tambah lagi?" tawar Renata yang dijawab gelengan kompak oleh yang lain.
"Perutku sudah penuh," komentar Sarah, "Untung hari ini nggak ada kuliah pagi," lanjutnya lalu meraih gelas di depannya.
"Terima kasih makanannya," ucap Andra lalu bangkit dan berjalan keluar rumah lebih dulu.
"Kami berangkat dulu." Dinda bersuara lalu bangkit. "Terima kasih sarapannya, Bu" ucapnya dengan senyum riang lalu berlari kecil menyusul Andra.
Sarah menopang dagu dan mengamati tingkah Dinda. Dia merasa terhibur melihat gerakan riang saudara tirinya itu.
Renata turut tersenyum memerhatikan pola tingkah anak kandungnya. Setelah sosok Dinda menghilang dibalik pintu, tatapannya beralih pada Sarah yang sedang menandaskan minumannya.
"Papa sudah berangkat?" Sarah bertanya setelah meletakkan gelasnya.
Renata tersenyum dan mengangguk memberi jawaban. "Kamu masuk jam berapa?" tanyanya lalu bangkit dan membantu Bi Nah membersihkan meja makan.
"Sekitar jam satu siang nanti," jawab Sarah, dia memilih duduk tenang menikmati gerakan dua perempuan di depannya.
Renata hanya mengangguk menanggapi. "Kamu mau ikut saya merawat bunga di taman belakang?" tawarnya setelah menyimpan tumpukan piring terakhir di depan Bi Nah.
Sarah mengangguk cepat lalu bangkit menggandeng lengan Renata kemudian berjalan menuju taman belakang.
Renata menyambut dengan mengelus punggung tangan Sarah yang menggenggam lengannya. "Kata Bi Nah, mamamu sangat suka sama bunga anggrek, ya?"
Langkah Sarah terhenti. Dia tertegun menatap ibu tirinya penuh tanya.
Renata tersenyum lalu menuntun Sarah untuk melanjutkan langkah. "Bagaimanapun, Mama kamu tetap menjadi bagian dari keluarga kita sampai saat ini. Saya tidak keberatan kalau kalian mau bercerita tentang beliau saat masih hidup. Saya hanya melanjutkan tugasnya."
Sarah menarik napas dalam. Dia mengeratkan pegangan pada lengan Renata. "Terima kasih banyak," ucapnya penuh haru lalu menyandarkan kepala pada pundak ibu tirinya itu.
Renata tersenyum seraya mengelus tangan Sarah yang memegang erat lengannya.
***
"Stop, Pak!" perintah Dinda saat mobil yang ditumpanginya melintasi tempat dia biasanya turun.
Pak Ikin menepikan mobil dan membuka kunci otomatis dari tempatnya. Dia mengangguk ramah saat Dinda mengucap terima kasih dan mengulas senyum.
Andra yang duduk di kursi belakang hanya mengamati Dinda yang mulai bergerak membuka dan menutup pintu mobil. Tatapan penuh selidik dia arahkan pada sang sopir. "Pak Ikin sering laporan ke Papa, ya?"
Pak Ikin berdeham pelan, meredakan salah tingkah yang menghampirinya. "Saya, kan, memang harus laporan, Tuan," jawabnya gugup.
Andra mengangguk. "Oh, begitu," lirihnya, "Jadi, Papa tahu semua tempat yang gue datangi."
"Be-begitulah, Tuan."
Andra menghela napas mendengarnya. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Setidaknya, meski tidak langsung, dia merasa tetap diperhatikan.
"Sudah sampai, Tuan."
Andra merapikan diri lalu membuka pintu mobil. Dia memantau Dinda yang tampak berjalan berdampingan dengan Ray. Andra berhenti sejenak dan menatap gerbang sekolah di depannya. Ada rasa malas dalam dirinya untuk melangkah masuk.
"Kenapa berdiri di sini, Tuan Muda?" Randy yang baru tiba langsung menyikut pinggang Andra. "Menunggu adik tirimu?" lanjutnya menahan tawa.
Andra berdecih dan memukul kepala sahabatnya. "Nggak bawa mobil?"
Randy menghela napas. "Ditahan," lirihnya.
Andra tertawa. "Kok bisa?" tanyanya lalu mulai mengambil langkah melewati gerbang.
"Gue ketahuan pulang tengah malam lagi."
"Lebih baik, sih," ucapnya, "Daripada gue yang pernah nggak pulang tiga hari dan nggak dicariin," ungkapnya dengan tatapan iri pada Randy.
***
Note : Maaf untuk kesalahan uploadnya. Hehehe ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Home
Fiksyen Umum[TAMAT] Tentang rumah yang (harusnya) menjadi tempat nyaman untuk pulang
