Bab XV : Ayam Goreng Perdamaian (Siblings Talk)

23 4 2
                                        

Bukan tentang hidangan mewah nan mahal yang membuat bahagia. Tapi, dengan siapa kau menikmatinya.

---

Andra berdiri sambil melipat tangan memberi tatapan penuh intimidasi ke arah Dinda yang duduk di atas tempat tidur. Dia harus mendapat jawaban dari pertanyaan yang diajukan lewat pesan singkat dan tidak mendapat balasan dari Dinda.

"Bagaimana kamu...?" Dinda menunjuk Andra penuh rasa bingung.

"Gue tinggal lebih lama di rumah ini," jawab Andra sembari melipat tangan di dada.

"Tapi, ini kamar saya," tantang Dinda.

"Ini rumah gue." Andra menimpali.

"Tepatnya rumah papamu." Dinda membalas.

Andra mendengkus, tidak mampu memberi balasan.

Dinda terkekeh. Sejak hari ulang tahun Andra, dia mulai merasa nyaman untuk sedikit bercanda dengan saudara tirinya itu.

"Jadi?" Andra memilih duduk pada tepian tempat tidur sementara Dinda bergerak duduk bersila di sampingnya.

"Papa kamu hanya bicara tentang sulitnya berkomunikasi dengan anak-anaknya."

"Hanya itu?" Andra menoleh menatap Dinda.

Dinda menunduk. "Sebenarnya saya juga mengatakan hal yang kamu ceritakan waktu kita di makam mama kamu," ungkapnya dengan sedikit bergumam.

"Gue pikir lo bisa jaga rahasia." Andra menghela napas lalu menghempaskan tubuhnya berbaring di samping Dinda. "Bagaimana reaksinya?"

"Tidak ada orang tua yang membenci anaknya, begitu katanya."

Andra menarik napas panjang lalu menyilangkan tangan di belakang kepala dan menatap langit-langit kamar Dinda.

"Tapi, papamu sempat terdiam lama setelah saya katakan kalau kamu mendengar sendiri dia menyesal memilih menyelamatkanmu." Dinda melanjutkan.

"Begitukah?"

"Iya," jawab Dinda seraya mengangguk.

Andra diam dan menghela napas berat.

"Coba ajak dia bicara. Mungkin kamu bisa dapat jawaban dan penjelasan," saran Dinda.

Andra terkekeh pelan, bangkit lalu mengacak rambut Dinda. "Thanks, ya," ucapnya, "Nih hape lo, tadi Randy yang bawa," lanjutnya.

Dinda menerima ponselnya dengan senang. "Sampaikan terima kasihku untuk Kak Randy."

Andra menanggapi dengan anggukan lalu berjalan menuju pintu kamar. Tepat saat Andra membuka pintu, Sarah sudah berdiri dengan tangan di udara hendak mengetuk. Andra memilih meneruskan langkah, tak peduli dengan Sarah yang melotot terkejut mendapatinya keluar dari kamar Dinda.

"Apa yang dia lakukan di sini?" Sarah masuk kamar dan melihat Dinda.

"Eh? Kami hanya membicarakan sesuatu," jawab Dinda seadanya.

"Sesuatu?" Sarah memicing.

"Tidak percaya? Tanyakan saja sama Andra."

Sarah mendengus jengkel, "Kau mulai berani, ya?"

Dinda tertawa pelan. "Ada perlu apa?"

"Ah, itu," Sarah mengelus tengkuknya, "Orang tua kita sedang keluar, aku hanya butuh teman bicara."

"Oohh." Dinda mengangguk, "Bagaimana kalau bicara bertiga? Tunggu aku panggil Andra," Dinda beranjak dari tempat tidurnya, tapi tangannya segera dicekal Sarah.

"Lupakan, aku mau kembali ke kamar saja." Kini Sarah yang bersiap bangkit dan meninggalkan Dinda.

"Ayolah," tahan Dinda lalu memilih duduk di samping Sarah, "Akan saya ceritakan sebuah rahasia."

Sarah menatap malas.

"Sebenarnya, setiap ulang tahun Andra, kamu mengikutinya ke makam mama kalian, kan?"

"Kau..." Sarah mengerutkan keningnya.

"Aku tahu dari seseorang yang memperhatikan kalian dari dalam mobil."

Sarah mengernyit, tatapannya terkunci pada sorot mata antusias Dinda. "Papa?" tebaknya.

Dinda tersenyum memegang kedua tangan Sarah, "Waktu itu, kamu ikut menangis bersama kami, kan? Papamu juga."

Sarah menatap Dinda dengan mata berkaca-kaca.

"Hari ini, ayo kita mulai memperbaiki semuanya." Dinda mengeratkan genggamannya pada tangan Sarah.

Sarah mengangguk pelan. Beberapa tetesan air mata jatuh karena rasa haru yang menyeruak.

***

Andra mendengkus dan menghentikan langkahnya saat melihat punggung Sarah yang sedang duduk di teras belakang. Rasa antusias saat menerima pesan berisi ajakan Dinda untuk menikmati ayam goreng bersama menguap begitu saja.

"Hei, kenapa berhenti? Ayo ke teras belakang," ajak Dinda dengan sedikit berlari dari pintu depan melewati Andra dengan dua buah box khusus ayam goreng ditangannya.

Andra berjalan pelan mengikuti Dinda. Ada rasa ragu untuk bergabung.

Sarah menyambut dengan senyum kaku saat melihat Andra yang mendekat.

"Ayo dimakan," Dinda sibuk mengatur makanan di atas meja kecil di depan mereka, mencoba mengabaikan aroma canggung yang mulai terasa.

Andra hanya berdeham kecil lalu menarik kursi kosong lebih mendekat pada Dinda. Sarah yang melihatnya hanya bisa menghela napas sesal.

"Kenapa diam?" Dinda menatap Andra dan Sarah bergantian. "Haruskah saya memberi kalian suapan bergiliran?"

Sarah tersenyum kecil dan mulai mengambil nasi dan ayam goreng di depannya lalu memberikan pada Andra. "Dinda bilang kau suka ayam goreng," ucapnya.

Andra terkejut, menatap Sarah yang memberi senyum kecil untuknya.

"Maaf karena aku tidak tahu apa-apa tentang kesukaanmu. Dan maaf juga...."

"Terima kasih," Andra menerima piring dari Sarah dan mulai menikmati makanannya dengan pandangan terus ke bawah meja.

Sarah menegakkan tubuh dan menyamankan posisi duduknya. "Aku iri sama Dinda, dia baru datang di rumah ini, tapi sudah tahu banyak hal tentangmu. Harusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama." Sarah menjeda dan mengatur napas dan perasaannya. "Ah, bukan, harusnya kita melakukan ini sejak lama," lanjutnya dengan mata yang mulai berair.

Andra masih meneruskan makannya tanpa menoleh sedikit pun.

"Atau tepatnya, harusnya aku tetap memaksa memelukmu waktu itu meski kau mengusirku. Ya, kan?" Sarah terisak menatap Andra yang masih menunduk. "Aku benar, kan?"

Hanya helaan napas berat Andra yang terdengar.

"Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kau memanggilku Kakak." Isakan Sarah semakin menjadi.

Dinda hanya mampu diam dan mengamati dua orang di depannya.

"Maaf." Suara lirih Andra terdengar, pertahananya runtuh, dia mendongak menatap Sarah dengan mata yang sudah basah, "Maaf," ulangnya.

"Aku juga." Sarah bergerak mendekat dan merangkul adiknya. "Harusnya ini yang kita lakukan saat itu." Pelukannya mengerat untuk adiknya.

Dinda mengusap kedua matanya yang juga basah. Adegan haru yang terjadi tepat di depannya membuatnya sedikit bernapas lega. Satu masalah yang mengganjal di rumah selesai sudah. Pelan, dia beranjak meninggalkan kedua kakak-beradik yang saling melepas rasa bersalah itu. Tak lupa satu ember penuh ayam goreng dibawa serta untuk dia nikmati bersama Bi Nah.

***

HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang