*BAB terakhir Aurora*
Hinata menyapa rombongan Mirei yang baru saja tiba. Mirei menyimbak tirai tandu untuk menyapa Hinata dan Sasuke.
"Kalian yang akan mengantarku?"
Mirei adalah perempuan tua dengan mata tajam. Meski banyak keriput di wajah tidak menghapus betapa mengintimidasi sosok Mirei.
"Ya, Mirei-sama."
"Aku dengar kalian suami istri." Mirei melirik Sasuke yang berdiri di belakang Hinata dengan menilai.
"Benar."
Mirei menaruh perhatiannya pada Hinata. Lalu, menutup tirai kasar.
"Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Jaga kami, jangan sampai terluka. Ayo jalan."
Hinata menatap tirai tandu yang bergoyang pelan,"Baik Mirei-sama."
Pengawal Mirei mengangkat tandu setelah mendapat aba-aba dari Hinata.
Sasuke memimpin di depan sedangkan Hinata di belakang. Perjalanan menuju desa Air bisa di tempuh dengan jalan kaki selama 3 hari. Tapi sekarang situasinya bisa kurang dari 3 hari untuk menyelesaikan misi. Tepat di lembah desa Air. Hyuuga dan Hinata akan menyerang Mirei.
Kondisi Sasuke menguntungkan Hinata. Lelaki itu meski dinyatakan sembuh tapi tidak menjamin kekuatannya penuh. Hinata tahu diri dengan kemampuannya melawan Sasuke. Dia tidak akan menang. Tapi, Hinata tahu apa yang harus dia lakukan. Terima kasih untuk Sasuke karena sudah mengajari Hinata cara menggunakan pedang sebagai senjata. Hinata harap bisa mengimbangi Sasuke.
Rombongan Mirei mulai meninggal gerbang Konoha. Hinata menoleh ke belakang. Menatap Konoha di pagi hari. Sudut bibirnya terangkat menikmati suasana desa untuk yang terakhir kali.
****
Perjalanan dihentikan sementara karena badai di perbatasan hutan Konoha dan desa Angin tiba-tiba menerjang. Hinata mengaktifkan Byakugan kemudian mencari gua untuk berlindung.
"Aku pikir kenapa Dai memilihmu. Ternyata kau berguna juga, Hinata. Berkat Byagukanmu kita bisa mencari tempat berteduh dengan cepat." Mirei keluar dari tenda dan duduk di dekat perapian buatan Sasuke. Hanya senyum kecil Hinata lempar pada Mirei sebagai jawaban. Siapa juga yang peduli omong kosong orang tua seperti Mirei ketika hati Hinata dipusingkan oleh masalah lain.
"Uchiha itu." Kepala Mirei menunjuk Sasuke yang duduk sembari memejamkan mata. Hinata meminta Sasuke untuk istirahat lebih dulu dan nantinya bergantian.
"Kupikir akan menyebalkan selama perjalanan. Namun, dia nampak lebih kalem."
"Anda takut pada Sasuke?"
Hinata memberikan segelas susu coklat yang baru saja diseduh pada Mirei.
"Apa menurutmu aku terlihat takut?" Mirei tak suka dituduh sembarangan.
"Orang banyak salah paham pada Sasuke karena julukannya sebagai Shinobi pelarian. Pembunuh berdarah dingin. Tapi, Sasuke sebenarnya orang yang hangat dan peduli."
"Sebelum memutuskan menikah dengan Uchiha. Kau pasti berpikiran sama kan?"
Hinata menggeleng.
"Sungguh? Dilihat dari segi manapun kau dan Uchiha bukan kombinasi yang pas. Apalagi sampai disatukan dalam pernikahan. Orang tua mana yang rela menikahkan perempuan sepertimu dengan mantan pembunuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
AURORA [TAMAT]
Fanfiction[Selesai] Hinata tidak pernah berpikir akan mendapatkan misi konyol hanya untuk menyelamatkan dirinya dari status Bunke. Hokage memberinya misi menikah dengan Uchiha terakhir.
![AURORA [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/148920537-64-k137055.jpg)