▪️▪️▪️
Tzuyu memejamkan matanya, merasakan angin sore yang begitu tenang dan suasana yang sangat nyaman terasa. Duduk di kursi kayu yang terus mengayunkan tubuhnya pelan ke depan dan belakang, berlatar kelambu tipis berwarna putih yang menutupi pintu kaca menuju balkon, gadis itu hampir terlelap.
Apartemen milik Jungkook terletak di lantai empat. Berbentuk huruf U dengan tiga gedung utama, di bagian tanah yang kosong terdapat taman, dengan air mancur besar yang sangat menarik mata. Setiap pagi dan sore akan banyak orang yang menghabiskan waktunya di sana, bersepeda, berjalan santai atau hanya duduk menikmati udara segar saja.
Setengah jam yang lalu Jungkook pergi, berniat menuju kediaman keluarga Jeon untuk mengambil barang-barang mereka. Sekali lagi Tzuyu sudah mengingatkan, namun Jungkook tetaplah sosok keras kepala yang akan melakukan keputusan benar menurutnya.
Entahlah, setelah melalui malam dengan tidur nyenyak dan bangun dengan segar di pagi harinya, Tzuyu sendiri merasa nyaman di sini. Mungkin benar, Tzuyu hanya membutuhkan suasana baru untuk menenangkan diri.
Kerutan halus di kening Tzuyu tercipta, saat dirinya yang hanya memiliki sedikit kesadaran merasakan sentuhan lembut di tangan kanan, terasa dingin dan halus. Namun, bukan sentuhan yang bertujuan untuk membangunkan, melainkan sentuhan pengantar tidur.
Ting.
Suara lembut dari kotak musik mulai terdengar, mengalun lembut dan menenangkan, dalam kesadaran yang perlahan kembali terkumpul Tzuyu mencoba mendengarkan nada yang menenangkan itu. Terdengar halus dan samar, seperti jauh namun dekat, dan seperti dekat namun terasa jauh.
Kotak musik milik siapa?
Tangan gadis itu terkepal ketika merasakan pergerakan kursi goyang yang ia tempati menjadi lebih kuat, seperti ada seseorang yang sengaja menggerakkannya seolah berusaha menidurkan Tzuyu.
Tidak Tzuyu, jangan lagi, kendalikan dirimu.
Suasana bahkan terlampau sejuk jika membuat dahi Tzuyu mulai berkeringat sekarang. Merasakan setiap sentuhan dingin yang mengelus dan pundak menuju jari-jarinya justru membuat darah dalam tubuh Tzuyu berjalan semakin cepat.
"Na..nanana.. Na..nanana.. Na.."
Jantung Tzuyu berdegup kencang, napasnya mulai terasa tak beraturan, semakin samar suara kotak musik yang ia dengar justru menjadi pengiring yang serasi dari senandung yang Tzuyu dengar kini. Suara seorang wanita yang sangat merdu dan juga lembut, yang bahkan mampu menghujam jantung Tzuyu untuk berdetak lebih cepat dan terasa ingin meledak.
"Na..nanana.. Na..nanana.. Na.."
Suara itu terdengar semakin dekat, seperti tepat di telinga Tzuyu dan membut daun telinganya memerah, sentuhan yang Tzuyu rasakan mulai kembali naik menuju pundak. Sekuat tenaga Tzuyu mengeratkan kedua kelopak mata, berusaha untuk tak bisa melihat sedikit pun sosok yang ada jika memang ia memiliki wujud.
Mata Tzuyu melebar sempurna, darah yang sejak tadi seolah digiring menuju ubun-ubun kini meluruh jatuh ke bawah tanpa sisa, menyisakan kekeluan yang luar biasa hebat saat mata cantik itu menangkap bayangan berambut sangat panjang di sisinya, berjarak semakin dekat dengan senandung yang semakin cepat. Tenggorokan Tzuyu tercekat, bukan hanya karena terkejut tapi merasakan sebuah ikatan yang semakin mengerat di lehernya.
Ia sudah mulai kesulitan bernapas, namun seluruh tubuhnya mengeras dan tak bisa digerakkan sama sekali.
Kini, Tzuyu bisa melihat wajah di balik geraian rambut panjang itu. Sepasang mata sendu yang dibendungi cairan merah seperti air mata darah, wajahnya pucat dan bibirnya terkatup rapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Portrayal [COMPLETED]
FanfictionAwalnya Tzuyu menganggap semua kehidupannya mulai menapaki kata sempurna. Menikahi pria idaman yang sangat ia cintai, mendapatkan keluarga baru yang menerimanya sangat baik hingga keberhasilan karir yang dicapai sang suami mulai merambah ke titik pu...
![Portrayal [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/199928065-64-k931695.jpg)